KABARBURSA.COM - Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja sektor industri nasional dalam Rapat Kerja dengan Menteri Perindustrian RI. Ia menyoroti ketimpangan mencolok antara besarnya realisasi investasi dan rendahnya tingkat utilisasi kapasitas produksi pabrik, yang menurutnya menjadi sinyal peringatan bagi ekonomi industri tanah air.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa realisasi investasi mencapai Rp552 triliun. Namun, utilisasi rata-rata produksi nasional hanya menyentuh 61,89 persen. Putra menegaskan, kondisi ini ibarat lampu kuning bagi sektor industri. Hampir 40 persen kapasitas mesin terpasang tetap menganggur, menimbulkan kesenjangan yang nyata antara modal yang ditanam dan output yang dihasilkan.
“Utilisasi di bawah 70 persen itu sudah lampu kuning. Artinya ada gap signifikan. Hampir 40 persen kapasitas mesin menganggur. Benar atau tidak ini? Rp552 triliun versus 61 persen, ini agak jauh, Pak Menteri,” ujar Putra Nababan di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta.
Politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga mengkritik program vokasi yang dijalankan Kementerian Perindustrian. Menurutnya, cakupan program masih jauh dari kata masif. Lulusan vokasi yang hanya sekitar 6.000 orang setara dengan 0,03 persen dari total serapan tenaga kerja industri, yang mencapai 20 juta orang.
“Kalau saya lihat, ini kelasnya pilot project. Jadi kalau bicara soal jangkauan masif dengan angka-angka ini, menurut saya ini baru contoh semata,” jelasnya.
Tak hanya itu, Putra juga menyoroti penurunan plafon kredit untuk industri padat karya hingga 30 persen pada 2026. Ia mempertanyakan sikap bank Himbara, khususnya BNI, yang menargetkan debitur nol untuk sektor yang sangat membutuhkan dukungan permodalan ini. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi menahan pertumbuhan industri padat karya yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja nasional.(*)