KABARBURSA.COM – PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) menyiapkan aksi korporasi besar melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue. Aksi ini dilakukan untuk mendapatkan suntikkan modal di saat kinerja keuangan melempem selama tiga tahun berturut-turut.
Dalam keterangan resminya, Perusahaan berencana menerbitkan maksimal 5,7 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Ini setara dengan 33,65 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah aksi korporasi.
Selain saham baru, PYFA juga akan menerbitkan hingga 3,75 miliar Waran Seri II sebagai insentif bagi pemegang saham yang mengeksekusi haknya.
Manajemen mengaku, dana hasil rights issue akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung rencana akuisisi. Sementara, dana dari pelaksanaan waran akan dialokasikan sebagai modal kerja dan operasional.
Direktur Utama PYFA Lee Yan Gwan, menjelaskan langkah ini merupakan bagian dari strategi ekspansi di tengah persaingan industri farmasi.
“Dana yang diperoleh dari hasil rights issue ini akan digunakan sepenuhnya untuk memperkuat struktur permodalan dan mendanai akuisisi guna mendukung pengembangan usaha Perseroan,” begitu ujar Lee.
Tekanan Kinerja Keuangan
Namun di balik rencana ekspansi tersebut, data keuangan menunjukkan tekanan yang masih berlangsung dalam kinerja operasional perusahaan. Sepanjang 2025, PYFA mencatatkan laba bersih yang masih berada di zona negatif pada hampir seluruh kuartal.
Pada kuartal IV-2025, PYFA membukukan pendapatan sebesar Rp700 miliar, relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya Rp675 miliar. Namun laba usaha tercatat negatif Rp67 miliar, memburuk dari posisi negatif Rp82 miliar di kuartal III.
Tekanan tersebut juga terlihat pada laba sebelum pajak yang tercatat minus Rp163 miliar pada kuartal IV-2025. Meskipun terdapat manfaat pajak sebesar Rp149 miliar, laba bersih tetap berada di zona negatif sebesar Rp14 miliar pada periode tersebut.
Jika ditarik ke belakang, tren ini sudah terbentuk sejak awal tahun. Pada kuartal I-2025, PYFA mencatat rugi bersih Rp91 miliar, diikuti rugi Rp123 miliar pada kuartal II, dan rugi Rp153 miliar pada kuartal III, sebelum membaik menjadi rugi Rp14 miliar pada kuartal IV.
ROE dan ROA Konsisten Tertekan
Dari sisi profitabilitas, rasio keuangan juga mencerminkan tekanan yang konsisten. Return on equity (ROE) pada kuartal IV-2025 berada di level negatif 1,81 persen, sementara return on assets (ROA) tercatat minus 0,20 persen.
Artinya, perusahaan belum menghasilkan imbal hasil positif terhadap aset dan ekuitasnya.
Selain itu, kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga juga masih terbatas. Interest coverage ratio tercatat negatif 0,77 kali pada kuartal IV-2025, mengindikasikan bahwa laba operasional belum cukup untuk menutup biaya bunga.
Dengan kondisi tersebut, rencana rights issue muncul dalam konteks kebutuhan penguatan permodalan. Struktur keuangan yang masih tertekan dan kinerja laba yang belum stabil menjadi latar belakang langkah perusahaan dalam mencari tambahan dana melalui pasar.
Manajemen juga mengingatkan adanya risiko dilusi bagi pemegang saham. Jika pemegang saham lama tidak mengambil bagian dalam rights issue, kepemilikan dapat terdilusi hingga 33,65 persen, dan berpotensi mencapai 45,69 persen apabila seluruh waran dieksekusi.
Jadwal Lengkap Right Issue
Adapun jadwal pelaksanaan rights issue telah ditetapkan, dengan tanggal efektif pada 29 Juni 2026 dan recording date pada 9 Juli 2026. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung pada 13 hingga 20 Juli 2026, diikuti distribusi saham baru pada 15 hingga 22 Juli 2026.
Dengan rencana aksi korporasi ini, PYFA memasuki fase baru dalam upaya penguatan struktur keuangan. Pelaksanaan rights issue dan penerbitan waran akan berjalan seiring dengan kondisi kinerja perusahaan yang masih dalam tahap penyesuaian sepanjang 2025.(*)