Logo
>

Ritel Teratas, Apa Saja yang Diborong Sepekan?

Transaksi ritel melalui broker XL menunjukkan pola akumulasi di saham perbankan dan distribusi di sektor energi.

Ditulis oleh Syahrianto
Ritel Teratas, Apa Saja yang Diborong Sepekan?
Aktivitas investor ritel pada pekan perdagangan 6–10 April 2026 menunjukkan dominasi transaksi melalui broker Stockbit Sekuritas Digital (XL). (Foto: Kabarbursa.com/R. Fadli)

KABARBURSA.COM – Aktivitas investor ritel pada pekan perdagangan 6–10 April 2026 menunjukkan dominasi transaksi melalui broker Stockbit Sekuritas Digital (XL). 

Data yang dihimpun Kabarbursa.com mencatat nilai transaksi broker XL mencapai Rp19 triliun dengan net buy sebesar Rp366,1 miliar.

Data tersebut menunjukkan total nilai beli (buy value) investor ritel melalui broker XL sebesar Rp9,7 triliun, sementara nilai jual (sell value) tercatat Rp9,3 triliun. 

Aktivitas ini menghasilkan frekuensi transaksi mencapai 6,1 juta kali dengan total volume transaksi sebesar 62,6 miliar saham.

Pada sisi akumulasi, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling banyak diborong ritel. Nilai pembelian mencapai Rp241,5 miliar dengan volume 730.639 lot dan harga rata-rata Rp3.314 per saham.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga masuk dalam daftar teratas dengan nilai beli Rp87,4 miliar. Volume transaksi mencapai 190.107 lot dengan harga rata-rata Rp4.608 per saham.

Selanjutnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai pembelian Rp37,6 miliar. Transaksi dilakukan dengan volume 60.879 lot dan harga rata-rata Rp6.573 per saham.

Saham sektor energi dan komoditas juga masuk dalam radar akumulasi ritel. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mencatat nilai beli Rp30,7 miliar, sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencapai Rp27,1 miliar dengan volume 1,1 juta lot.

Selain itu, saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatat nilai pembelian Rp23,6 miliar. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) masing-masing mencatat nilai beli Rp21 miliar dan Rp20,8 miliar.

Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) juga masuk dalam daftar dengan nilai pembelian Rp15,1 miliar. Sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat nilai beli Rp14,6 miliar.

Apa Saja Saham yang Dilepas Ritel?

Di sisi lain, sejumlah saham justru menjadi sasaran distribusi oleh investor ritel. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat nilai jual terbesar sebesar Rp31,3 miliar.

Saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) juga dilepas dengan nilai Rp26,8 miliar. 

Selanjutnya, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat nilai jual Rp24,5 miliar.

Distribusi juga terlihat pada saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sebesar Rp23,9 miliar dan PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp19,9 miliar. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dilepas dengan nilai Rp18,6 miliar.

Selain itu, saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mencatat nilai jual Rp14,7 miliar. 

Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) masing-masing mencatat nilai jual Rp14,6 miliar dan Rp13,7 miliar.

Sementara itu, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi salah satu yang dilepas dengan nilai Rp12,6 miliar. 

Aktivitas ini menunjukkan adanya perbedaan strategi antara akumulasi dan distribusi dalam portofolio ritel selama sepekan.

Data tersebut mencerminkan pergerakan investor ritel yang aktif pada saham sektor perbankan, energi, dan komoditas. 

Aktivitas ini terlihat dari distribusi nilai transaksi yang tersebar di berbagai sektor selama periode perdagangan tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.