KABARBURSA.COM – Harga emas dunia melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa, 23 Juni 2026 waktu Amerika Serikat. Koreksi ini terjadi seiring berkurangnya minat investor terhadap aset safe haven dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot tercatat berada di level USD4.213,76 per ons, turun sekitar 2,1 persen dari posisi sebelumnya. Koreksi tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang bertahan di level 105,65 serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Pergerakan ini menunjukkan fokus pasar mulai bergeser dari ketegangan geopolitik ke prospek suku bunga AS. Setelah meredanya kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah, pelaku pasar kini lebih mencermati arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh.
Ekspektasi tersebut turut tercermin dari pasar suku bunga berjangka. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 60 persen bahwa Federal Open Market Committee (FOMC) akan menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026.
Fokus Beralih ke Inflasi dan Suku Bunga
Perhatian investor saat ini tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pekan ini. Data tersebut merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Konsensus pasar memperkirakan inflasi PCE tahunan mencapai 4,1 persen, lebih tinggi dibandingkan 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, Core PCE diproyeksikan tumbuh 3,3 persen secara tahunan.
Ekspektasi inflasi yang masih tinggi memperkuat pandangan bahwa The Fed belum memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menegaskan komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target bank sentral. “Komite ini akan memberikan stabilitas harga secara tegas dan bulat,” tegas Warsh, dilansir dari Reuters, Selasa, 23 Juni 2026.
Sejalan dengan ekspektasi kebijakan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun bertahan di level 4,78 persen, sedangkan yield Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,45 persen.
Kenaikan yield membuat biaya peluang memegang emas semakin tinggi karena investor memiliki alternatif instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Dolar Menguat, Emas Kehilangan Daya Tarik
Di pasar mata uang, indeks dolar AS menguat ke level 105,65. Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga turut menekan permintaan.
Di saat yang sama, meredanya ketegangan geopolitik juga mengurangi kebutuhan investor untuk mencari perlindungan di aset safe haven.
Analis Senior Morningstar, Preston Caldwell, menilai penurunan harga energi berpotensi membantu meredakan tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
“Sektor jasa inti di luar perumahan terus menunjukkan inflasi yang gigih. Seiring turunnya harga energi, hal itu seharusnya memberikan tekanan turun pada inflasi ke depan, dengan asumsi Selat (Hormuz) tidak ditutup lagi,” ujarnya.
Meski demikian, pasar masih menilai inflasi AS berada pada level yang cukup tinggi untuk membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada emas dan beralih ke aset berbasis dolar maupun instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Dengan fokus pasar yang kini tertuju pada inflasi dan arah suku bunga AS, pergerakan harga emas dalam jangka pendek diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat dan sinyal lanjutan dari pejabat The Fed.(*)