KABARBURSA.COM – Rencana Penawaran Umum Perdana (IPO) saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) menarik perhatian pasar akibat keberadaan tokoh besar di balik struktur kepemilikannya.
Perseroan bersiap melepas 20,02 persen saham ke publik di tengah catatan kinerja keuangan yang menurun. Kehadiran nama familier menjadi daya tarik bagi calon investor. Fokus pasar terbelah antara gemerlap pemegang saham dan realitas fundamental.
Manajemen RANS melalui prospektus resminya merinci komposisi pemegang saham sebelum IPO yang didominasi oleh pendiri utama serta eksekutif bisnis. Keterlibatan para pihak ini diklaim memberikan nilai tambah bagi pengembangan ekosistem bisnis perseroan.
Pihak perseroan menjabarkan porsi kepemilikan masing-masing pihak secara transparan sebagai bentuk keterbukaan informasi.
"Raffi Ahmad memegang porsi mayoritas sebesar 78,68 persen, disusul oleh PT Indonesia Entertainmen Grup sebesar 9,04 persen, dan Dony Oskaria dengan 3,42 persen," ungkap Manajemen RANS dikutip, Rabu, 24 Juni 2026.
Dony ditunjuk sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sejak 8 Oktober 2025 sekaligus menjabat Direktur Operasional (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dony sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN (21 Oktober 2024–2 Oktober 2025) di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, dan bahkan sempat menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Menteri BUMN pada September hingga Oktober 2025.
Terdapat juga nama Sutanto Hartono yang memiliki 1,43 persen dan Kaesang Pangarep dengan 1,14 persen.
Sebagaimana diketahui, Kaesang adalah putra bungsu dari Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Ia juga merupakan adik kandung dari Wakil Presiden RI periode 2024-2029, Gibran Rakabuming Raka.
Dalam aksi korporasi ini, RANS akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,52 miliar saham baru kepada masyarakat luas. Jumlah tersebut setara dengan 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Langkah ini bertujuan menggalang dana segar guna ekspansi dan memperkuat struktur permodalan.
Sementara itu Sutanto menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Emtek sekaligus Direktur Utama PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), sub-holding media dari Emtek atau PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Emtek salah satu konglomerasi raksasa di Indonesia yang berfokus pada industri media (SCTV, Indosiar, Vidio), telekomunikasi, layanan kesehatan, dan teknologi (memiliki afiliasi dengan Bukalapak dan Grab).
Lebih lanjut, keberadaan Grup Emtek dan tokoh penting diyakini menjadi katalis positif guna menyerap minat beli saham.
Laba Naik 2024 akibat Divestasi, bukan Bisnis Inti
Meskipun dikelilingi pemegang saham ternama, prospek saham RANS tetap dibayangi oleh tren pelemahan kinerja operasional inti. Laporan keuangan mencatat penurunan pendapatan berturut-turut dari Rp437,81 miliar pada tahun 2023 menjadi Rp410,49 miliar pada 2024. Penurunan tersebut berlanjut tajam hingga menyentuh angka Rp353,37 miliar pada akhir 2025. Fakta ini menjadi indikator penting bagi investor dalam mengkaji valuasi saham.
Manajemen menjelaskan penyusutan pendapatan tersebut dipicu oleh dinamika pada unit bisnis yang selama ini menjadi tulang punggung perseroan.
"Penurunan pendapatan pada tahun 2025 dipengaruhi oleh anjloknya segmen duta merek, serta hilangnya kontribusi pendapatan dari klub sepak bola PT Rans Prestisius Klub Sepakbola (PT RPKSB)," tutur Manajemen RANS.
Di sisi lain, laporan laba perseroan tahun 2024 menunjukkan angka positif, meski manajemen mengakui hal tersebut bukan murni dari operasional rutin. "Laba bersih tahun 2024 memang naik, namun pencapaian ini didorong oleh laba pelepasan entitas anak dari hasil divestasi RPKSB," kata Manajemen RANS menambahkan.
Secara nominal, laba perseroan tahun 2024 tercatat naik 14,94 persen menjadi Rp97,06 miliar. Namun, porsi terbesar dari laba tersebut berasal dari divestasi klub sepak bola senilai Rp44,94 miliar.
Jika komponen pendapatan tidak berulang ini dikeluarkan, kinerja laba inti perseroan menunjukkan tren pelemahan sejalan dengan merosotnya pendapatan. Investor dituntut membaca laporan keuangan secara lebih kritis dan komprehensif.
Divestasi PT RPKSB membawa dampak ganda bagi postur keuangan perusahaan dalam jangka menengah. Perseroan memang mendapat dana segar yang mengerek laba tahun 2024 secara instan.
Namun, perusahaan kehilangan potensi arus kas rutin dari bisnis olahraga yang sebelumnya menyumbang porsi signifikan. Hilangnya lini bisnis ini memaksa RANS merestrukturisasi strategi guna menghadapi tahun berjalan.
Ketergantungan pada segmen duta merek menjadi sorotan utama dalam analisis fundamental jelang IPO. Segmen ini bertumpu pada popularitas figur pendiri, yang memiliki batas kejenuhan di pasar periklanan.
Saat anggaran pemasaran klien korporat menyusut, lini bisnis ini langsung menerima dampak negatif. Hal ini terbukti dari realisasi pendapatan 2025 yang meleset dari target.
Tokoh besar dalam daftar pemegang saham memberikan jaminan kredibilitas tertentu di mata pelaku pasar. Nama-nama seperti Kaesang Pangarep hingga Grup Emtek diasosiasikan dengan akses jaringan bisnis luas.
Walau demikian, ekosistem yang kuat belum tentu otomatis mampu membalikkan tren penurunan pendapatan dalam waktu singkat. Tantangan RANS pasca-IPO adalah membuktikan model bisnis yang berkelanjutan.(*)