KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka (stock futures) saham melemah pada Minggu malam setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel. Aksi ini membahayakan gencatan senjata yang rapuh dan mempertinggi ketidakpastian pasar pasca-aksi jual tajam pada indeks Nasdaq pekan lalu.
Seperti dilansir CNBC, kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average kehilangan 80 poin atau melemah 0,2 persen. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing juga ikut mengalami penurunan sebesar 0,2 persen.
Laporan serangan oleh Iran ini memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Serangan rudal yang dilaporkan tersebut menyusul sebuah unggahan di media sosial X oleh Ketua Parlemen Iran, MB Ghalibaf, yang berargumen bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) dan dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon merupakan bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Pada hari Jumat, indeks Nasdaq Composite jatuh 4,18 persen ke level 25.709,43, yang menjadi penurunan terbesar sejak April 2025. Indeks S&P 500 merosot 2,64 persen dan ditutup pada level 7.383,74, sementara Dow Jones kehilangan 695 poin untuk mengakhiri pekan pada level 50.866,78, sehari setelah mencetak rekor tertinggi baru.
Sepanjang pekan lalu, S&P 500 turun lebih dari 2 persen, Nasdaq jatuh 4,7 persen, dan Dow Jones bergerak sedikit lebih rendah.
Kemerosotan pada hari Jumat tersebut menyusul rilis data laporan tenaga kerja bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut mengerek imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury yields) dan memperparah kekhawatiran bahwa tingginya biaya pendanaan dapat membebani perusahaan-perusahaan yang tengah berinvestasi besar-besaran dalam ekspansi kecerdasan buatan (AI).
“Pasar saham mungkin menjadi korban dari kesuksesannya sendiri,” kata Callie Cox, kepala strategi pasar di Ritholtz Wealth Management. “Pasar tenaga kerja telah berbalik arah, namun ancaman inflasi tinggi yang persisten tampaknya menjadi risiko yang membayangi pikiran setiap orang.”
“Pertumbuhan dan momentum telah melampaui hampir segalanya sejak titik terendah pada bulan Maret,” tambahnya. “Hal itu bukanlah sesuatu yang Anda harapkan dalam lingkungan suku bunga tinggi dan inflasi tinggi, dan strategi investasi ini mungkin rentan terhadap kekecewaan jika tekanan biaya tetap tinggi.”
Pada pekan ini, investor akan berfokus pada data inflasi dan debut publik perusahaan SpaceX milik Elon Musk pada hari Jumat. Penawaran umum tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan bisa menjadi ujian terbesar bagi pasar terhadap narasi valuasi AI.
“Penawaran umum berskala blockbuster telah menandai puncak dari ekses siklus pasar di masa lalu, sehingga tampaknya ada keheningan yang canggung seputar apa yang bisa disinyalkan oleh hal ini terhadap sentimen pasar,” kata Cox. “Banyak investor tampaknya menahan diri dan skeptis, namun dapatkah temperamen seperti itu bertahan ketika IPO terbesar sepanjang masa sudah di depan mata?”
Investor juga akan mencermati laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) bulan Mei —yang masing-masing akan dirilis pada hari Rabu dan Kamis— yang diperkirakan akan mengindikasikan tekanan inflasi yang terus berlanjut.
Kontrak Berjangka Saham Dibuka Melemah
Kontrak berjangka saham dibuka lebih rendah pada Minggu malam setelah indeks-indeks acuan utama ditutup mendekati level terendah sesi mereka untuk mengakhiri pekan sebelumnya.
Kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average turun 150 poin. Kontrak berjangka S&P 500 kehilangan 0,4 persen dan kontrak berjangka Nasdaq 100 anjlok 0,6 persen.(*)