Logo
>

Target Harga INDY Naik ke Rp3.750, MNC Sekuritas Kasih Strategi

Mandiri Sekuritas menaikkan target harga INDY menjadi Rp3.750 berkat prospek bisnis emas. Di sisi lain, MNC Sekuritas melihat peluang trading menarik dengan target jangka pendek hingga 2.810.

Ditulis oleh Yunila Wati
Target Harga INDY Naik ke Rp3.750, MNC Sekuritas Kasih Strategi
Target harga saham INDY menjadi Rp3.750 per saham. (Foto: dok INDY)

KABARBURSA.COM – Perubahan wajah di PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi perusahaan energi dan sumber daya yang lebih terdiversifikasi mendapatkan apresiasi dari pasar dan analis. Mandiri Sekuritas bahkan merevisi naik proyeksi laba bersih INDY untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 7 persen dan 15 persen. 

Alasannya, eksposur Indika terhadap bisnis emas semakin besar di tengah tren harga emas global yang terus mencetak rekor baru.

Dengan asumsi harga emas yang lebih tinggi, segmen ini diperkirakan mampu menjadi penyeimbang ketika bisnis batu bara menghadapi siklus penurunan harga. Diversifikasi tersebut membuat pendapatan perusahaan menjadi lebih stabil dan tidak lagi bergantung pada satu komoditas saja.

Optimisme itu tercermin dari kenaikan target harga saham INDY menjadi Rp3.750 per saham. Jika dibandingkan dengan harga saat ini di level 2.260, target tersebut memberikan potensi kenaikan lebih dari 65 persen. Sebuah upside yang cukup menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang.

Tertahan MA20: Peluang Pullback Masih Ada

Namun, bagaimana strategi yang lebih realistis untuk trader? MNC Sekuritas dalam risetnya mengungkap, secara teknikal, INDY baru saja melonjak 18,32 persen ke level 2.260 dengan didukung lonjakan volume pembelian yang sangat tinggi. 

Meski demikian, MNC Sekuritas melihat bahwa penguatan tersebut masih tertahan oleh Moving Average 20 (MA20), sehingga peluang terjadinya pullback atau konsolidasi jangka pendek masih cukup terbuka.

Dalam analisis Elliott Wave, posisi INDY diperkirakan sedang berada pada bagian wave [iv] dari wave C.

Artinya, kenaikan yang terjadi saat ini berpotensi menjadi fase awal pemulihan sebelum melanjutkan pergerakan yang lebih besar, tetapi investor tetap disarankan untuk tidak mengejar harga setelah kenaikan yang sangat agresif.

Area Beli di 2.130-2.260

Strategi yang direkomendasikan adalah Buy on Weakness pada area 2.130 hingga 2.260.

Area tersebut menjadi zona akumulasi yang relatif ideal apabila terjadi aksi ambil untung jangka pendek setelah kenaikan hampir 20 persen dalam satu hari perdagangan.

Apabila skenario tersebut berjalan sesuai ekspektasi, target penguatan pertama berada di 2.560, sedangkan target berikutnya berada di 2.810.

Dari area akumulasi 2.130, potensi kenaikan menuju target pertama mencapai sekitar 20 persen, sementara menuju target kedua mencapai lebih dari 30 persen.

Namun, disiplin risiko tetap menjadi bagian penting dari strategi ini.

Apabila harga turun dan menembus 2.040, maka skenario bullish jangka pendek dinilai gagal sehingga investor sebaiknya melakukan stoploss untuk menjaga modal.

PLTS Batu Kajang

Selain prospek bisnis emas, transformasi energi hijau juga menjadi katalis positif bagi INDY. Melalui anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung, Indika baru saja mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Batu Kajang, Kalimantan Timur. 

Fasilitas dengan kapasitas 1.008 kWp tersebut dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 860 kWh dan diproyeksikan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil hingga 350.000 liter per tahun.

Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi Indika tidak hanya berhenti pada diversifikasi komoditas, tetapi juga bergerak menuju bisnis energi berkelanjutan yang memiliki prospek jangka panjang.

Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan risiko eksternal. Harga batu bara global masih menjadi salah satu penentu utama kinerja perseroan. Selain itu, volatilitas harga emas, kondisi ekonomi global, hingga perubahan kebijakan energi juga dapat memengaruhi sentimen terhadap saham INDY.

Karena itu, strategi yang paling rasional saat ini adalah memanfaatkan momentum tanpa mengabaikan manajemen risiko.

Bagi trader, menunggu koreksi menuju area 2.130-2.260 jauh lebih menarik dibandingkan mengejar harga setelah lonjakan tajam. Sementara bagi investor jangka panjang, revisi target harga Mandiri Sekuritas menjadi Rp3.750 menunjukkan bahwa valuasi INDY masih memiliki ruang apresiasi yang cukup besar apabila transformasi bisnis berjalan sesuai rencana.

Kesimpulannya, INDY sedang memasuki fase yang menarik. Fundamental memperoleh dukungan dari prospek bisnis emas dan energi hijau, sementara secara teknikal momentum mulai kembali berpihak kepada pembeli.

Selama harga mampu bertahan di atas 2.040, peluang menuju 2.560 hingga 2.810 dalam jangka pendek masih terbuka. Bahkan, jika sentimen positif terhadap emas terus berlanjut, target jangka panjang Rp3.750 bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79