Logo
>

NCKL Bersiap Buyback Rp1 Triliun, Ke Arah ini Peluangnya

NCKL melonjak 13,38 persen ke 890 dengan bid jauh lebih tebal dibanding offer. Di tengah rencana buyback Rp1 triliun dan revisi target laba, bagaimana strategi terbaik bagi investor?

Ditulis oleh Yunila Wati
NCKL Bersiap Buyback Rp1 Triliun, Ke Arah ini Peluangnya
NCKL melesat 13,38 persen ke level 890 dengan nilai transaksi mencapai Rp54,3 miliar. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Setelah sepanjang tahun kehilangan lebih dari 31 persen nilainya, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel Kembali mencuri perhatian. Secara tiba-tiba, saham ini melesat 13,38 persen ke level 890 dengan nilai transaksi mencapai Rp54,3 miliar.

Struktur orderbook menunjukkan minat beli yang sangat dominan. Di sisi bid, ada antrean pembelian mencapai 226.675 lot, hampir tiga kali lipat dibandingkan antrean offer yang hanya 75.911 lot. Pada level 885, terdapat antrean sekitar 6.213 lot, sementara di level 880 mencapai 8.237 lot. 

Sebaliknya, tekanan jual relatif tipis dan tersebar di beberapa level harga. Artinya, banyak investor yang ingin masuk ke NCKL dibandingkan mereka yang ingin keluar.

Rencana Buyback NCKL

Momentum tersebut semakin menarik karena datang di tengah rencana perseroan melakukan buyback saham senilai maksimal Rp1 triliun.

Manajemen NCKL secara terbuka menyatakan, harga saham saat ini belum mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sesungguhnya. Karena itu, perseroan memilih menggunakan kas internal untuk membeli kembali saham di pasar setelah memperoleh persetujuan RUPST pada 30 Juni 2026. 

Program buyback sendiri dijadwalkan mulai berjalan pada 1 Juli 2026 dengan periode pelaksanaan selama 12 bulan.

Aksi buyback biasanya diterjemahkan sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Ketika perusahaan sendiri bersedia membeli sahamnya di pasar, investor cenderung melihat adanya batas bawah valuasi yang dianggap menarik.

Proyeksi Laba Dipangkas

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas baru saja memangkas proyeksi laba 2026 dan 2027. Target harga juga direvisi turun cukup signifikan dari Rp1.800 menjadi Rp1.300.

Revisi tersebut dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari penyesuaian volume produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), kenaikan tarif royalti dari 10 persen menjadi 14 persen, hingga melonjaknya harga diesel yang membuat biaya produksi meningkat tajam.

Biaya kas saprolit diperkirakan naik lebih dari 42 persen menjadi USD16,5 per wet metric ton, sehingga proyeksi EBITDA ikut terkoreksi menjadi sekitar Rp11 triliun atau turun 8,4 persen.

Meski demikian, yang menarik adalah rekomendasi "buy" tetap dipertahankan.

Artinya, meskipun ekspektasi laba turun, analis masih melihat valuasi NCKL berada di bawah nilai wajarnya. Target harga Rp1.300 masih memberikan potensi kenaikan lebih dari 45 persen dari posisi saat ini di 890.

Fundamental Terkoreksi Tipis

Fundamental perusahaan pun belum menunjukkan pelemahan yang mengkhawatirkan.

Pada kuartal I-2026, NCKL membukukan pendapatan konsolidasi Rp6,8 triliun atau sekitar 23 persen dari proyeksi pendapatan setahun penuh. Memang pendapatan turun dibandingkan periode sebelumnya, tetapi laba bersih justru meningkat menjadi Rp2,7 triliun, naik 63,7 persen secara tahunan.

Hal ini menunjukkan perusahaan masih mampu menjaga profitabilitas meskipun menghadapi tekanan biaya yang semakin besar.

Buy on Weakness di 835-865

Dari sisi teknikal, pergerakan NCKL juga mulai berubah.

Harga berhasil menembus moving average 20 hari (MA20), sebuah sinyal yang sering menjadi awal perubahan tren dari bearish menjadi bullish jangka pendek. Volume transaksi yang meningkat juga mengonfirmasi bahwa kenaikan ini bukan sekadar technical rebound biasa, melainkan didukung oleh masuknya minat beli yang nyata.

Analisis Elliott Wave memperkirakan posisi NCKL saat ini berada pada bagian awal wave (1) dari wave [C], yang membuka peluang penguatan lanjutan apabila momentum tetap terjaga.

Meski demikian, investor tidak perlu mengejar harga di level saat ini.

Strategi yang lebih ideal adalah menunggu momentum buy on weakness pada area 835 hingga 865. Zona tersebut merupakan area support baru yang berpotensi menjadi tempat akumulasi apabila terjadi aksi ambil untung jangka pendek.

Apabila skenario tersebut berjalan, target pertama berada di 930, sedangkan target berikutnya berada di 990. Dari area akumulasi 850 misalnya, potensi keuntungan menuju 990 mencapai sekitar 16 persen.

Sebaliknya, disiplin terhadap batas risiko tetap penting. Jika harga turun dan menembus 820, maka skenario bullish jangka pendek berpotensi batal sehingga stoploss perlu dijalankan.

Untuk investor jangka menengah, kombinasi antara rencana buyback Rp1 triliun, valuasi yang masih dianggap murah oleh analis, serta dominasi antrean bid memberikan sentimen positif yang layak diperhatikan.

Sementara untuk trader, momentum masih berada di pihak pembeli selama harga mampu bertahan di atas area 835 dan volume transaksi tetap tinggi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79