Logo
>

The Fed Terbelah, Bitcoin Bergejolak

Perbedaan pandangan di tubuh Federal Reserve justru menciptakan lanskap kebijakan yang ambigu

Ditulis oleh Pramirvan Datu
The Fed Terbelah, Bitcoin Bergejolak
Dinamika Internal di Bank Sentral Amerika Serikat Memunculkan Sinyal yang Tidak Sepenuhnya Searah Bagi Pelaku Pasar

KABARBURSA.COM - Dinamika internal di bank sentral Amerika Serikat memunculkan sinyal yang tidak sepenuhnya searah bagi pelaku pasar.  Salah satunya, harga Bitcoin. Pergerakannya sempat turun dari USD79.500 ke USD75.000.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai perbedaan pandangan di tubuh Federal Reserve justru menciptakan lanskap kebijakan yang ambigu. Di satu sisi, peluang penurunan suku bunga belum terlihat dalam waktu dekat. Namun di sisi lain, ruang untuk kenaikan lanjutan juga kian menyempit.

Situasi ini menyerupai fase stagnasi kebijakan. Sebuah kondisi antara. Bagi pasar kripto, menurut Fahmi, keadaan tersebut bisa menjadi indikasi bahwa fase ketidakpastian ekstrem mulai mereda, meski belum sepenuhnya hilang.

Ketua The Fed, Jerome Powell, sebelumnya mengungkapkan bahwa perdebatan internal dipicu oleh serangkaian disrupsi global. Pandemi, konflik geopolitik, hingga kebijakan tarif perdagangan menjadi sumber tekanan yang membentuk arah kebijakan moneter saat ini. Langkah itu membuat harga Bitcoin sempat turun dari USD79.500 ke USD75.000 

Di tengah pusaran itu, perhatian investor turut mengarah pada Kevin Warsh, sosok yang disebut-sebut sebagai kandidat pengganti Powell dan telah melewati tahap awal di Senat. Warsh dikenal memiliki pandangan yang relatif terbuka terhadap aset digital. Ia bahkan menyebut kripto sebagai bagian dari sistem keuangan modern, meski dampak kebijakannya diperkirakan tidak akan terasa secara instan.

Sementara fluktuasi harga jangka pendek masih terjadi, fondasi pasar justru diperkuat oleh arus dana institusional. Sepanjang 2026, perusahaan Strategy tercatat menambah 145.837 BTC, sehingga total kepemilikannya mencapai 818.334 BTC. Angka yang tidak kecil. Bahkan cenderung masif.

Dalam dua bulan terakhir, aliran dana segar sebesar sekitar USD 3,5 miliar juga mengalir ke produk ETF Bitcoin spot. Fakta ini menegaskan satu hal: minat institusi terhadap aset kripto tetap terjaga, bahkan di tengah fase koreksi harga.

Fahmi menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan harga Bitcoin saat ini bukanlah refleksi dari rapuhnya fundamental. Justru sebaliknya. Akumulasi terus berlangsung, baik saat harga naik maupun turun. Sebuah indikasi bahwa tren jangka panjang masih berada di jalur yang solid.

Dari sisi regulasi, pelaku pasar kini menanti pembahasan RUU Clarity Act di Amerika Serikat. Regulasi ini berpotensi menetapkan Bitcoin sebagai komoditas digital di bawah pengawasan CFTC, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi institusi keuangan. Jika disahkan, langkah ini diyakini dapat mempercepat adopsi kripto secara lebih luas.

Dengan lanskap yang kompleks tersebut, Fahmi menyarankan pendekatan yang lebih disiplin. Strategi jangka panjang seperti dollar cost averaging (DCA) dinilai relevan untuk meredam volatilitas. Dalam konteks ini, koreksi harga justru dapat menjadi titik masuk yang atraktif, terutama bagi investor dengan horizon investasi yang lebih panjang.

Dalam pertemuan terbarunya, The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan ini diwarnai perpecahan tajam—delapan pejabat mendukung, sementara empat lainnya menolak—menjadi salah satu voting paling terbelah sejak 1992.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.