Logo
>

Valuta Asing Stabil Semu, Sinyal Damai Jadi Penentu Arah Pasar

Kesepakatan yang sehari sebelumnya sempat mengguncang pasar global sekaligus menekan posisi dolar AS

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Valuta Asing Stabil Semu, Sinyal Damai Jadi Penentu Arah Pasar
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Pasar valuta asing bergerak relatif tenang pada perdagangan Kamis. Stabil, namun sarat kerentanan. Fokus pelaku pasar tertuju pada keberlanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran—kesepakatan yang sehari sebelumnya sempat mengguncang pasar global sekaligus menekan posisi dolar AS.

Sentimen investor masih diselimuti kabut ketidakpastian. Serangan Israel kembali dilaporkan menghantam sejumlah target di Lebanon, sementara Iran belum menunjukkan tanda-tanda mencabut blokade di Selat Hormuz—jalur krusial yang sebelumnya memicu disrupsi besar pada pasokan energi global, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York, Kamis (9/4) atau Jumat (10/4) pagi WIB.

Di tengah lanskap yang bergejolak itu, jalur diplomasi tetap diupayakan. Negosiator Iran dijadwalkan bertolak ke Pakistan untuk memulai pembicaraan awal. Namun, Teheran menegaskan tidak akan ada kesepakatan selama Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tengah mendorong pembicaraan langsung dengan Beirut. Agenda utamanya jelas: pelucutan senjata Hizbullah dan pembukaan jalur relasi damai antara Israel dan Lebanon.

Presiden Donald Trump menegaskan sikap tegas. Seluruh kapal, pesawat, serta personel militer Amerika tetap siaga di sekitar wilayah Iran hingga negara tersebut sepenuhnya mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Di pasar mata uang, euro mencatat kenaikan 0,3 persen ke level USD1,1698. Mata uang ini sebelumnya menguat 0,6 persen pada Rabu, namun kehilangan momentum menjelang penutupan setelah sempat menyentuh level tertinggi satu bulan di USD1,1721.

Poundsterling turut menguat 0,27 persen ke posisi USD1,343. Kendati demikian, penguatannya juga tereduksi setelah sebelumnya sempat mencapai USD1,348 usai kenaikan 0,77 persen pada sesi Rabu.

Sebaliknya, yen Jepang mengalami pelemahan tipis. Dolar AS naik 0,27 persen ke level 159,02 yen. Yen sebelumnya sempat menguat hingga menembus di bawah 158 yen, tetapi gagal mempertahankan tren tersebut.

Kepala Riset MUFG Bank, Derek Halpenny, menilai gencatan senjata masih berada dalam kondisi rapuh, terutama selama Selat Hormuz belum dibuka kembali. Ia menambahkan, pergerakan pasar valas cenderung terbatas karena investor masih menanti kepastian arah konflik dan kelanjutan proses negosiasi.

Dari sisi makroekonomi, inflasi Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Data menunjukkan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) naik 0,4 persen pada Februari, setelah sebelumnya meningkat 0,3 persen pada Januari. Tren ini diperkirakan berlanjut pada Maret, seiring dampak ketegangan geopolitik, yang berpotensi membuat Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Di Jepang, survei menunjukkan kepercayaan konsumen melemah pada Maret untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Hal ini mencerminkan kekhawatiran atas dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi domestik. Meski begitu, pergerakan yen relatif tidak banyak terpengaruh oleh data tersebut.

Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, dalam pernyataannya di parlemen menegaskan bahwa suku bunga riil Jepang masih berada di zona negatif. Artinya, kebijakan moneter tetap longgar.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia menguat 0,49 persen ke USD0,7078. Sementara itu, dolar Selandia Baru naik 0,57 persen ke level USD0,5855.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.