Logo
>

Wall Street Berbalik Arah, Finansial Naik saat Teknologi Lesu

Dow Jones mencetak rekor penutupan baru setelah harga minyak dunia turun lebih dari 5 persen dan investor beralih dari saham teknologi ke finansial.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Wall Street Berbalik Arah, Finansial Naik saat Teknologi Lesu
Penurunan harga minyak dunia hingga lebih dari 5 persen memicu rotasi sektor di Wall Street pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Penurunan harga minyak dunia hingga lebih dari 5 persen memicu rotasi sektor di Wall Street pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026 waktu AS. Investor mengurangi eksposur pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), lalu beralih ke saham finansial dan industri. Hal ini mendorong indeks Dow Jones mencetak rekor penutupan baru.

Dow Jones Industrial Average ditutup naik 328,64 poin atau 0,64 persen ke level 51.999,67. Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 42,94 poin atau 0,57 persen ke 7.511,35, sementara Nasdaq Composite melemah 307,60 poin atau 1,15 persen menjadi 26.376,34.

Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar merespons penurunan tajam harga energi. Minyak Brent turun USD4,21 atau 5,1 persen menjadi USD78,96 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) merosot USD4,70 atau 5,8 persen ke USD76,05 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul rincian kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang kembalinya ekspor minyak Iran ke pasar global serta pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz.

Melansir Reuters, Selasa, 16 Juni 2026, Director of Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, mengatakan harga minyak mentah turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz akan segera kembali dibuka untuk lalu lintas pelayaran.

Pelemahan harga minyak ikut memengaruhi pergerakan sektor-sektor di Wall Street. Saham finansial menjadi sektor dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500 setelah naik 1,5 persen, disusul sektor industri yang menguat 0,7 persen.

Di sisi lain, sektor teknologi turun 2,3 persen, sementara indeks Philadelphia Semiconductor yang menjadi acuan saham semikonduktor terkoreksi 5,7 persen.

Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi motor penguatan pasar.

Nvidia turun 2,36 persen ke USD207,41 per saham setelah mengumumkan penerbitan obligasi senilai USD25 miliar. Advanced Micro Devices (AMD) melemah 7,27 persen menjadi USD507,29, sementara Broadcom turun 4,36 persen ke USD376,71.

Saham Microsoft juga terkoreksi 1,45 persen ke USD393,83 dan Tesla turun 1,56 persen ke USD404,66. Sebaliknya, beberapa saham teknologi masih mampu mencatat kenaikan. Apple naik 0,99 persen menjadi USD299,24, Alphabet menguat 1,09 persen ke USD373,25, dan Meta Platforms bertambah 1,13 persen menjadi USD600,21.

Pergerakan sektor finansial menjadi salah satu penopang utama Dow Jones. Saham JPMorgan Chase melonjak 3,69 persen ke USD331,14 dan membantu mengimbangi pelemahan sektor teknologi.

Sementara itu, Chief Investment Strategist Janney Montgomery Scott, Mark Luschini, menilai pelemahan saham teknologi lebih mencerminkan proses konsolidasi setelah reli sebelumnya.

"Kami hanya sedang mencerna sebagian keuntungan yang telah diperoleh sebelumnya," kata Luschini dalam wawancara dengan Reuters pada Selasa, 16 Juni 2026.

Selain rotasi sektor, pelaku pasar juga mencermati rapat Federal Reserve yang berlangsung pada 16–17 Juni 2026. Pertemuan tersebut menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Namun perhatian investor tertuju pada arah kebijakan selanjutnya, terutama terkait prospek inflasi dan kemungkinan perubahan suku bunga hingga akhir tahun.

Data ekonomi yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan gambaran yang beragam. Housing starts AS pada Mei turun 15,4 persen menjadi laju tahunan 1,177 juta unit, level terendah dalam enam tahun. Sementara itu, harga impor meningkat 1,9 persen secara bulanan dan naik 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,424 persen–4,444 persen, sedangkan yield tenor dua tahun berada di sekitar 4,052 persen–4,07 persen.

Dolar AS juga melemah tipis. Indeks dolar (DXY) turun 0,14 persen ke level 99,55, sementara euro menguat terhadap dolar AS.

Bagi pasar Asia, kombinasi pelemahan harga minyak, penurunan yield Treasury, dan melemahnya dolar AS berpotensi mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Namun pelemahan saham teknologi dan semikonduktor di Wall Street tetap menjadi faktor yang akan dicermati investor pada perdagangan hari ini.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.