Logo
>

Wall Street Nyaris Rekor Lagi, Harapan Damai Iran Bikin Pasar Menguat

Wall Street mendekati rekor tertinggi seiring harapan meredanya konflik Iran yang mendorong optimisme pasar global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Wall Street Nyaris Rekor Lagi, Harapan Damai Iran Bikin Pasar Menguat
Wall Street menguat mendekati rekor, didorong harapan damai Iran dan pemulihan ekonomi global meski pasar masih waspada. Foto: VCG via China Daily.

KABARBURSA.COM — Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kembali mendekati level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini terjadi setelah reli dalam dua pekan terakhir, seiring munculnya harapan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak akan berkembang menjadi krisis ekonomi global yang lebih dalam.

Dilansir dari AP, Kamis, 16 April 2026, Indeks S&P 500 naik sekitar 0,4 persen dan berada di jalur untuk menembus rekor yang terakhir tercapai pada Januari. Sebelumnya, indeks ini sempat turun hampir 10 persen pada akhir Maret, sebuah kondisi yang di Wall Street dikenal sebagai koreksi. Namun sejak itu, pasar berbalik arah dan menguat sekitar 10 persen.

Penguatan pasar banyak ditopang oleh ekspektasi meredanya ketegangan geopolitik. Investor berharap aliran minyak global kembali normal, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

Optimisme tersebut muncul setelah pejabat kawasan menyebut adanya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata demi membuka ruang diplomasi.

Namun, pasar belum sepenuhnya tenang. Pergerakan harga minyak masih fluktuatif dan menunjukkan bahwa pelaku pasar tetap berhati-hati. Indeks saham global juga bergerak terbatas setelah lonjakan dalam beberapa pekan terakhir.

Harga minyak mentah Brent tercatat naik 0,5 persen menjadi USD95,21 (Rp1.609.049) per barel. Meski lebih rendah dari puncak USD119, harga ini masih jauh di atas level sebelum perang yang berada di sekitar USD70. Di sisi lain, indeks Dow Jones justru melemah 144 poin atau 0,3 persen. Sementara Nasdaq menguat sekitar 1 persen, didorong saham teknologi.

Pasar kini bergantung pada arah diplomasi. Jika negosiasi berjalan positif, konflik diperkirakan hanya menjadi gangguan sementara bagi ekonomi global, bukan sumber tekanan jangka panjang.

Dalam jangka panjang, pergerakan saham tetap ditentukan oleh kinerja perusahaan. Sejumlah emiten menunjukkan hasil yang kuat dan menjadi penopang pasar. Bank of America mencatat laba USD8,6 miliar (Rp145,34 triliun), naik 17 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini juga melampaui ekspektasi analis.

Chief Executive Officer Bank of America, Brian Moynihan, menilai ekonomi Amerika masih cukup kuat. “Ekonomi Amerika tetap tangguh, termasuk didukung belanja konsumen yang solid,” ujarnya.

Morgan Stanley juga mencatat kinerja di atas ekspektasi, mendorong sahamnya naik lebih dari 4 persen.

Di sektor teknologi, saham-saham yang sebelumnya tertekan akibat kekhawatiran biaya investasi kecerdasan buatan mulai pulih. ServiceNow naik 6,8 persen, Oracle menguat 4,2 persen, dan Ares Management naik 6,2 persen.

Meski demikian, sebagian saham teknologi tersebut masih terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun ini. Analis dari Wells Fargo Investment Institute, Mason Mendez, melihat peluang baru di pasar saham.

“Hari ini kami melihat potensi peluang yang menarik untuk masuk ke sektor-sektor yang sebelumnya terlihat mahal, seperti saham teknologi,” katanya.

Di tengah euforia tersebut, ada juga saham yang melonjak ekstrem. Allbirds naik lebih dari 600 persen setelah mengumumkan perubahan strategi bisnis ke infrastruktur kecerdasan buatan dan mengganti nama menjadi NewBird AI.

Nike turut menguat setelah manajemen membeli saham perusahaan senilai sekitar USD1 juta (Rp16,9 miliar). Meski begitu, secara tahunan sahamnya masih turun lebih dari 28 persen.

Di sisi lain, tekanan datang dari perusahaan teknologi chip asal Belanda, ASML, yang sahamnya turun 6,4 persen setelah proyeksi pendapatan di bawah ekspektasi. Secara keseluruhan, pasar global masih berada dalam fase menunggu. Harapan damai menjadi pendorong utama, tetapi ketidakpastian tetap membayangi arah berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).