KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau melepas saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) setelah perusahaan mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp4,41 triliun pada 2025.
Merujuk data Stockbit, ketika laporan keuangan tersebut diumumkan pada Jumat, 13 Februari 2026, saham EXCL ditutup merosot hingga 5,32 persen ke level 2.850. Secara bersamaan, investor asing juga terpantau menjual saham emiten telekomunikasi ini.
Broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) muncul sebagai kontributor utama penjualan di hari tersebut dengan total Rp27,2 miliar atau setara 93,6 ribu lot saham.
Di saat yang sama, broker UBS Sekuritas (AK) juga melakukan aksi distribusi dengan nilai jual sebesar Rp14 miliar atau sebanyak 48,6 ribu lot. Sementara broker Mandiri Sekuritas (CC) turut melepas saham EXCL senilai Rp6 miliar dengan volume 20,7 ribu lot.
Selain ketiga broker tersebut, tekanan jual tambahan juga berasal dari OCBC Sekuritas Indonesia (TP) yang mencatatkan penjualan sebesar Rp949,4 juta dengan volume 3,2 ribu lot. Diikuti broker CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) yang melepas senilai Rp481 juta atau sekitar 1,7 ribu lot.
Dengan demikian, total nilai distribusi asing pada perdagangan 13 Februari 2026 mencapai sekitar Rp48,63 miliar.
Jumlah tersebut cukup besar dibanding perdagangan sebelumnya atau pada 9-12 Februari 2026. Secara keseluruhan, total nilai penjualan asing pada periode empat hari perdagangan itu mencapai Rp39,17 miliar.
Jika dilihat lebih rinci, CC dan AK mendominasi penjualan pada 9-12 Februari 2026. Broker CC tercatat melepas saham senilai Rp21,3 miliar dengan volume 71,6 ribu lot, sementara AK melakukan penjualan sebesar Rp17,6 miliar dengan volume 58,4 ribu lot.
Selain itu, distribusi dalam skala lebih kecil juga dilakukan broker TP senilai Rp197,6 juta serta serta KGI Sekuritas Indonesia (HD) sebesar Rp74,9 juta.
Meski merugi, seperti diberitakan sebelumnya, pendapatan EXCL naik dari Rp34,39 triliun pada 2024 menjadi Rp42,45 triliun pada 2025. Kenaikan pendapatan mencapai Rp8,05 triliun secara tahunan.
Total beban meningkat menjadi Rp43,58 triliun dari Rp28,63 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan beban mencapai Rp14,95 triliun atau sekitar 52,22 persen. Beban yang meningkat lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan menekan hasil akhir perusahaan.
Beban penyusutan tercatat Rp17,59 triliun pada 2025 dibanding Rp12,07 triliun pada 2024. Beban infrastruktur mencapai Rp12,33 triliun dari sebelumnya Rp8,94 triliun. Beban interkoneksi dan beban langsung lainnya naik menjadi Rp4,91 triliun dari Rp3,28 triliun.
Beban gaji dan kesejahteraan karyawan meningkat menjadi Rp4,29 triliun dari Rp1,74 triliun pada 2024. Beban penjualan dan pemasaran tercatat Rp2,30 triliun dari Rp2,09 triliun. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp842 miliar dari Rp455 miliar.
Laba operasi berubah menjadi rugi Rp1,14 triliun pada 2025. Pada 2024, perusahaan masih mencatat laba operasi Rp5,76 triliun. Perubahan ini mencerminkan tekanan pada margin operasional.
Biaya keuangan meningkat menjadi Rp4,02 triliun dari Rp3,11 triliun pada tahun sebelumnya. Penghasilan keuangan tercatat Rp97,86 miliar dari Rp80,26 miliar. Bagian rugi dari entitas asosiasi sebesar Rp206,18 miliar, lebih rendah dibanding Rp297,83 miliar pada 2024. (*)