KABARBURSA.COM - Indonesia melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi bergabung dengan The Coalition to Grow Carbon Markets. Langkah ini menandai komitmen strategis pemerintah dalam mendorong pembiayaan iklim global, sekaligus memperkuat representasi sektor kehutanan nasional dan pengembangan solusi berbasis alam di tingkat internasional.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa keanggotaan tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia. Ia menegaskan bahwa Kementerian Kehutanan kini menjadi bagian dari koalisi global yang berfokus pada penguatan pasar karbon berintegritas tinggi, dengan mandat mewakili sektor kehutanan Indonesia.
Menurut Raja Juli, koalisi ini memiliki orientasi jelas untuk memperluas pemanfaatan kredit karbon berkualitas tinggi sebagai instrumen pembiayaan pembangunan, penggerak aktivitas ekonomi, serta katalis percepatan pencapaian target iklim dunia. Indonesia, sebagai anggota terbaru, membawa rekam jejak dan kapabilitas yang telah teruji dalam pengelolaan proyek karbon berbasis hutan dan solusi berbasis alam.
Pasar kredit karbon berintegritas tinggi dinilai menyimpan potensi besar bagi Indonesia. Tidak hanya sebagai sarana penurunan emisi, tetapi juga sebagai mekanisme pelestarian keanekaragaman hayati dan pendorong transisi menuju pertumbuhan hijau yang berkelanjutan.
Dengan posisi sebagai negara pemilik hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, bentang ekosistem mangrove yang luas, serta cadangan lahan gambut tropis yang signifikan, Indonesia memiliki modal alam yang bernilai strategis. Pengalaman empiris dalam pengelolaan solusi berbasis alam tersebut diyakini mampu memberikan kontribusi substansial terhadap agenda iklim global.
The Coalition to Grow Carbon Markets sendiri dibentuk untuk mempercepat laju penurunan emisi global melalui penguatan insentif bagi sektor swasta agar berinvestasi dalam kredit karbon berintegritas tinggi, termasuk yang menopang solusi berbasis alam. Dalam koalisi ini, Indonesia bergabung bersama sepuluh pemerintah lainnya, antara lain Kanada, Prancis, Panama, Peru, Swiss, Selandia Baru, dan Zambia, serta para ketua bersama koalisi dari Kenya, Singapura, dan Inggris.
Saat ini, fokus utama koalisi diarahkan pada penyusunan Rencana Aksi guna mewujudkan keselarasan kebijakan nasional dan regional, sekaligus menjaga kesinambungan minat pembeli melalui keterlibatan aktif dengan jaringan investor dan pembeli global.
Perwakilan Khusus Inggris untuk Iklim, Rachel Kyte, menilai kehadiran Indonesia akan memperkuat peran koalisi dalam mendorong investasi sektor swasta ke proyek-proyek berintegritas tinggi. Proyek-proyek tersebut diharapkan mampu melestarikan hutan, menekan emisi, serta memajukan agenda pembangunan berkelanjutan.
Dukungan juga datang dari sektor keuangan. Sebagai mitra lama Inggris dan Indonesia, Standard Chartered terlibat aktif dalam pengembangan pembiayaan berkelanjutan, termasuk penguatan pasar kredit karbon berintegritas tinggi di Indonesia. CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro, menilai partisipasi Indonesia dalam koalisi ini akan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan standar kualitas, transparansi, serta permintaan pasar karbon, khususnya yang berlandaskan solusi berbasis alam.(*)