Logo
>

Perdagangan Karbon Indonesia Januari 2026 Turun, Nilai Transaksi Rp4,7 Miliar

Nilai transaksi bursa karbon Indonesia pada Januari 2026 turun menjadi Rp4,7 miliar dengan volume 117.455 ton CO2e, meski jumlah partisipan dan unit tersedia meningkat.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Perdagangan Karbon Indonesia Januari 2026 Turun, Nilai Transaksi Rp4,7 Miliar
Ilustrasi: Nilai transaksi bursa karbon Indonesia pada Januari 2026 turun menjadi Rp4,7 miliar dengan volume 117.455 ton CO2e, meski jumlah partisipan dan unit tersedia meningkat. Foto: Dok. Auriga Nusantara

KABARBURSA.COM – Perdagangan karbon di Indonesia pada awal 2026 masih bergerak, namun lajunya melambat dibandingkan akhir tahun lalu. Menilik laporan bulanan Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon, total nilai transaksi Januari 2026 mencapai Rp4,7 miliar dengan volume 117.455 ton CO2e. Angka ini turun dibandingkan Desember 2025 yang mencatat nilai Rp7,4 miliar dan volume 190.264 ton CO2e.

Bursa karbon Indonesia beroperasi melalui platform IDXCarbon yang berada di bawah Bursa Efek Indonesia. Skema ini menjadi bagian dari upaya Indonesia membangun ekosistem perdagangan karbon domestik, sejalan dengan komitmen penurunan emisi dan target net zero emission.

Secara sederhana, perdagangan karbon adalah aktivitas jual beli unit karbon atau kredit karbon yang merepresentasikan penurunan atau pengurangan emisi gas rumah kaca. Satu unit karbon setara dengan satu ton CO2 ekuivalen atau CO2e. Perusahaan yang berhasil menurunkan emisi bisa menjual kreditnya, sementara pihak lain yang perlu menyeimbangkan emisi bisa membelinya.

Pada Januari 2026, jumlah proyek yang tercatat tetap 9 proyek, sama seperti Desember 2025. Namun unit karbon yang tersedia meningkat dari 2.888.448 ton CO2e menjadi 3.324.984 ton CO2e. Di sisi lain, unit yang diretires atau digunakan meningkat dari 13.854 ton CO2e menjadi 28.595 ton CO2e.

Jumlah hari perdagangan pada Januari tercatat 20 hari dengan total frekuensi transaksi 16 kali. Rata-rata volume harian turun menjadi 5.873 ton CO2e dari sebelumnya 9.513 ton CO2e pada Desember. Rata-rata nilai harian juga turun menjadi Rp235.059.380 atau sekitar Rp235 juta dari Rp374.310.839 atau sekitar Rp374 juta.

Jika dilihat sepanjang 2025 hingga Desember, total volume year to date mencapai 903.915 ton CO2e dengan nilai sekitar Rp36,3 miliar dan frekuensi 213 kali. Sementara pada Januari 2026 yang masih awal tahun, angka year to date baru berada di 117.455 ton CO2e dengan nilai Rp4.701.187.600 atau sekitar Rp4,7 miliar.

Dari sisi mekanisme pasar, transaksi terbagi dalam pasar reguler, marketplace, dan negotiated market. Pada Januari 2026, transaksi terbesar terjadi di negotiated market dengan volume 116.596 ton CO2e dan nilai Rp4.646.184.000 atau sekitar Rp4,6 miliar. Sementara marketplace mencatat volume 846 ton CO2e dengan nilai Rp54.239.200 atau sekitar Rp54 juta. Tidak ada transaksi di auction market.

Mayoritas transaksi Januari masih didominasi oleh kredit berbasis teknologi atau tech based, khususnya kategori IDTBS dan IDTBS-RE. Pada negotiated market, IDTBS menyumbang 100.000 ton CO2e dengan nilai Rp3,75 miliar, sedangkan IDTBS-RE mencapai 16.596 ton CO2e dengan nilai Rp896 juta.

Sementara pada Desember 2025, aktivitas jauh lebih tinggi. Negotiated market mencatat volume 185.678 ton CO2e dengan nilai Rp7,1 miliar. Marketplace menyumbang 4.584 ton CO2e dengan nilai Rp349 juta. Secara total, Desember menjadi salah satu bulan dengan lonjakan signifikan dibandingkan November 2025 yang hanya mencatat volume 15.012 ton CO2e dan nilai Rp1,01 miliar.

Dari sisi partisipan, jumlah peserta meningkat tipis dari 150 pada Desember menjadi 152 pada Januari. Artinya minat pelaku pasar tetap ada, meski nilai transaksi bulanannya mengalami koreksi.

Proyek-proyek yang tercatat di IDXCarbon didominasi sektor energi, baik energi terbarukan maupun pembangkit berbahan bakar gas yang melakukan efisiensi atau konversi teknologi. Di antaranya proyek Lahendong Unit 5 dan 6 milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dengan pemilik proyek PT Pertamina Power Indonesia, PLTM Gunung Wugul milik PT PLN Indonesia Power, serta proyek PLTGU Muara Karang dan PLTGU Priok di bawah PT PLN Nusantara Power dan PT PLN Indonesia Power.

Selain itu, terdapat proyek berbasis limbah seperti pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit untuk biogas co-firing di Riau oleh PT Perkebunan Nusantara IV, serta proyek PLTBg Sei Mangkei hasil kolaborasi PNRE dan PTPN III.

Hingga laporan ini diturunkan, data perdagangan untuk Februari 2026 belum dirilis secara resmi oleh IDXCarbon. Biasanya laporan bulanan dipublikasikan setelah periode perdagangan berakhir dan melalui proses rekapitulasi. Karena itu, perkembangan transaksi Februari masih menunggu rilis laporan resmi berikutnya.

Meski Januari menunjukkan penurunan dibanding Desember 2025, kenaikan unit karbon yang tersedia dan peningkatan unit yang diretires menunjukkan bahwa mekanisme pasar tetap berjalan. Jika tren partisipasi terus bertambah dan variasi proyek semakin luas, pasar karbon Indonesia berpotensi menjadi instrumen penting dalam pembiayaan transisi energi dan pengendalian emisi nasional.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".