Logo
>

Ada Investor Suntik Dana Rp23 Triliun untuk Proyek PLTS di Indonesia

Investasi USD1,4 miliar akan membangun pabrik komponen PLTS berkapasitas 50 gigawatt untuk mempercepat pengembangan energi surya nasional.

Ditulis oleh Adi Subchan
Ada Investor Suntik Dana Rp23 Triliun untuk Proyek PLTS di Indonesia
Investasi USD1,4 miliar atau Rp23,6 triliun masuk ke proyek PLTS Indonesia. Pabrik berkapasitas 50 GW akan mempercepat pembangunan energi surya nasional. Foto: Dok. Kementerian ESDM

KABARBURSA.COM  – CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan ada investasi baru untuk sektor energi surya di Indonesia. Investasi tersebut mencapai USD1,4 miliar atau sekitar Rp23,6 triliun. Dana itu dialokasikan untuk pembangunan pabrik pendukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 50 gigawatt. Rosan menjelaskan fasilitas itu akan memperkuat program percepatan pembangunan PLTS di berbagai daerah.

“Kebetulan sudah ada investasi masuk ke Indonesia dengan kapasitas 50 gigawatt,” kata Rosan, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia menyebut pembangunan pabrik ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. Produksi dari fasilitas tersebut diharapkan mendukung penggunaan komponen dalam negeri. “Produksi dalam negeri akan membantu percepatan pembangunan PLTS di desa,” ujarnya.

Pemerintah berencana memperluas pembangunan PLTS di desa yang telah memiliki jaringan distribusi listrik. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat pemerataan akses energi bersih.

Danantara telah mengembangkan prototipe PLTS berkapasitas satu megawatt. Proyek percontohan itu dibangun di wilayah Sumenep, Madura, Jawa Timur. “Prototipe itu akan ditinjau tim dari ESDM dan Mendikti sebelum diperluas implementasinya,” kata Rosan.

Presiden Prabowo Subianto, kata Rosan, telah memberikan arahan terkait pembiayaan proyek energi surya. Rosan mengatakan pemerintah tengah mengkaji berbagai opsi pendanaan pembangunan PLTS desa. “Kami diminta mempelajari struktur pembiayaan bersama entitas domestik dan swasta,” ujarnya.

Kerja sama juga akan melibatkan perusahaan yang memiliki teknologi tenaga surya dan baterai.
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ditunjuk memimpin Satgas Transisi Energi. Satgas tersebut bertugas mempercepat implementasi program transisi energi nasional.

Salah satu program prioritas adalah konversi motor berbahan bakar fosil menjadi motor listrik. Bahlil menyebut jumlah kendaraan bermotor konvensional di Indonesia mencapai sekitar 120 juta unit. “Presiden membentuk Satgas untuk mempercepat implementasi kebijakan ini,” kata Bahlil.

Ia menambahkan percepatan transisi energi penting bagi ketahanan energi nasional. Menurut Bahlil, kebijakan tersebut juga berkaitan dengan ketidakpastian pasokan minyak dunia. Situasi geopolitik global dinilai dapat mempengaruhi stabilitas energi nasional. Presiden menargetkan implementasi program transisi energi berlangsung dalam tiga hingga empat tahun. Namun pemerintah berharap realisasi program dapat berjalan lebih cepat.

Selain konversi kendaraan, pemerintah juga menargetkan pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt. Satgas Transisi Energi akan memastikan program berjalan efektif dan terkoordinasi.

Bahlil menambahkan transisi energi juga bertujuan meningkatkan efisiensi anggaran negara. Konversi pembangkit diesel menjadi PLTS dinilai dapat mengurangi beban subsidi listrik pemerintah.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Adi Subchan

Adi Subchan, telah berkarir sebagai jurnalistik sejak 2002 dan telah meliputi tentang Politik, Olahraga, Lifestyle, dan Ekonomi di berbagai media berskala nasional maupun lokal (daerah). Dan pernah ditugaskan meliput peristiwa-peristiwa besar di Indonesia dan dunia. Tercatat pula sebagai Wartawan Utama melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diinisiasi LPSD dengan nomor 749-LPDS/WU/DP/I/2012/03/05/79.