Logo
>

Membaca Kontradiksi ESG Harum Energy (HRUM), Pemakaian Energi Melonjak 4.900 Persen

ESG HRUM menyimpan kontradiksi: konsumsi energi melonjak 4.900 persen, laba turun, risiko K3 meningkat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Membaca Kontradiksi ESG Harum Energy (HRUM), Pemakaian Energi Melonjak 4.900 Persen
Laporan ESG HRUM 2025 mencatat lonjakan energi 4.900 persen, laba turun, utang naik, dan indikator keselamatan kerja memburuk. Foto: IG @vtbcfeed.

KABARBURSA.COM — Narasi mengenai transisi energi dan ekosistem hijau kerap kali disajikan dengan indah di atas kertas. Komoditas nikel diagungkan sebagai kunci masa depan untuk melepaskan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil melalui baterai kendaraan listrik (electric vehicle). Namun, laporan keberlanjutan atau Sustainability Report 2025 dari PT Harum Energy Tbk (HRUM) justru menyingkap sebuah kontradiksi ekologis dan operasional yang fundamental.

Demi mengejar status sebagai pemain utama dalam ekosistem hijau global melalui diversifikasi nikel yang agresif, HRUM harus membayar harga yang sangat mahal. Dalam operasional perusahaan yang dipimpin Ray Antonio Gunara ini, terjadi lonjakan konsumsi energi fosil secara brutal, tekanan pada profitabilitas keuangan, hingga pembengkakan risiko keselamatan kerja di lapangan.

Indikator paling mencolok dari laporan keberlanjutan HRUM berada pada Aspek Lingkungan. Korporasi mencatatkan lonjakan penggunaan energi total yang tidak sedikit. Pada tahun 2023, konsumsi energi perusahaan berada di angka 1.054.527 Gigajoule (GJ). Angka ini kemudian melesat tajam menjadi 37.211.743 GJ pada 2024, dan terus melambung hingga menyentuh 52.700.328 GJ pada tahun 2025.

Dalam kurun waktu dua tahun, konsumsi energi HRUM membengkak hingga lebih dari 4.900 persen.

Jika dibedah lebih dalam, energi yang menggerakkan operasional raksasa tambang ini bukanlah energi bersih, melainkan energi fosil kotor yang intensif. Detail bauran energi perusahaan menunjukkan data sebagai berikut:

Secara tata kelola ESG, HRUM memang mengklaim berhasil melakukan Pengurangan Emisi Langsung yang Dihasilkan (Scope 1 & 2) sebesar 3.110.868 TonCO₂e pada tahun 2025, serta penurunan intensitas emisi sebesar 24 persen dari baseline. Namun, di sisi lain, dokumen yang sama mencatatkan lompatan konsumsi energi total secara absolut hingga menyentuh angka 52,70 juta GJ. Kontras angka ini menunjukkkan adanya anomali nyata. Di sini tampak efisiensi dan pengurangan emisi berjalan paralel dengan pembengkakan skala konsumsi energi yang luar biasa raksasa di tingkat operasional perusahaan seiring meluasnya industri pengolahan mereka.

Lonjakan brutal konsumsi energi ini merupakan konsekuensi langsung dari perubahan haluan bisnis HRUM yang sangat agresif dari batubara ke nikel. Data aspek ekonomi HRUM mengonfirmasi pergeseran tersebut:

Volume produksi batubara ditekan turun hingga 33,7 persen sejak 2023. Sebaliknya, volume produksi nikel digenjot hingga naik 159 persen menjadi 74.822 TonNi pada 2025.

Proses pengolahan nikel melalui teknologi smelter—yang dijalankan oleh entitas anak yang baru dikonsolidasikan seperti PT Infei Metal Industry (IMI), PT West Nalendra Industry (WMI), dan PT Blue Sparking Energy (BSE)—memiliki karakteristik industri hulu-hilir yang jauh lebih rakus energi panas dan listrik dibandingkan dengan sekadar menambang batubara mentah (upstream coal mining).

Beban Finansial: Aset Menggurita, Laba Tergerus

Agresivitas ekspansi ini nyatanya juga mengubah postur neraca keuangan perusahaan secara signifikan. HRUM mencatatkan pertumbuhan Total Aset yang sangat masif, hampir dua kali lipat, dari USD 1,63 miliar (2023) menjadi USD 3,43 miliar (2025).

Namun, pertumbuhan aset dan kenaikan tipis pada Pendapatan (yang mencapai USD 1,33 miliar pada 2025) nyatanya tidak linier dengan profitabilitas bersih perusahaan. Laba Tahun Berjalan justru anjlok drastis dari USD 195,67 juta (2023) menjadi USD 77,65 juta (2024), dan terus merosot hingga tinggal USD 45,32 juta pada tahun 2025.

Ekspansi ini pun sangat bergantung pada pengungkit utang (leverage). Total Liabilitas HRUM meroket tajam dari USD 458,38 juta (2023) menjadi USD 1,61 miliar (2025). Hal ini mengonfirmasi bahwa pendanaan untuk melakukan green pivot ini membawa beban risiko finansial jangka pendek yang signifikan bagi korporasi.

Biaya Kemanusiaan dan Kesiapan Tata Kelola K3

Kontradiksi paling kritis dalam implementasi ESG Harum Energy tidak hanya berhenti pada dimensi lingkungan dan ekonomi, melainkan menyentuh Aspek Sosial, khususnya pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Seiring masuknya entitas anak baru, jumlah tenaga kerja yang dikelola HRUM melonjak dari 785 orang (2023) menjadi 3.742 orang (2025). Sayangnya, pertumbuhan jumlah kepala ini tidak mampu diimbangi oleh kesiapan sistem manajemen keselamatan di lapangan.

Rapor K3 HRUM sepanjang periode transisi ini menunjukkan tren memburuk yang mengkhawatirkan:

  • Kecelakaan Kerja Fatal (Fatality): Dari 0 kasus pada 2023, muncul 1 kasus pada 2024, dan melompat menjadi 3 kasus kematian kerja pada tahun 2025.
  • Lost Time Injury Frequency Rate (LTIFR): Indeks frekuensi cedera waktu kerja melonjak secara tidak biasa dari tingkat aman di angka 0,1 (2024) menjadi 28,6 pada 2025.

Jika ditarik garis lurus ke matriks Tata Kelola (Governance) dan Sertifikasi Sistem Manajemen, akar masalah dari anomali ini mulai terlihat. Lini bisnis pertambangan batubara lama mereka, PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ), tercatat memiliki kematangan tata kelola yang tinggi dengan kepemilikan penghargaan kecelakaan nihil (Zero Accident Award) dari Gubernur Kalimantan Timur pada 26 Juni 2025.

Kontras data ini mempertegas adanya pekerjaan rumah yang besar bagi manajemen untuk mereplikasi sistem keselamatan kerja di lini pertambangan lama ke dalam ekosistem anak usaha yang baru mereka konsolidasikan.

Data objektif dari Sustainability Report 2025 HRUM memberikan pelajaran berharga mengenai realitas transisi energi di tingkat korporasi. Komoditas masa depan yang dicap ramah lingkungan (nikel untuk EV) nyatanya harus diproduksi melalui proses hulu yang sangat padat emisi karbon di dalam negeri.

HRUM berhasil mengubah portofolio bisnisnya secara radikal demi tuntutan pasar masa depan. Namun, selama pasokan energi smelter nikel mereka masih mengandalkan pembakaran batubara domestik skala raksasa, dan selama standardisasi K3 di entitas anak belum merata hingga mengorbankan nyawa pekerja, maka predikat ESG yang mereka sandang akan terus menghadapi kontradiksi yang nyata antara narasi korporasi dengan fakta angka di lapangan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).