Logo
>

Bahlil Rinci Mengapa Butuh Empat Juta KL Etanol buat E20

Kementerian ESDM proyeksikan kebutuhan 4 juta KL etanol demi memangkas sisa impor bensin sebesar 20 juta KL.

Ditulis oleh Gusti Ridani
Bahlil Rinci Mengapa Butuh Empat Juta KL Etanol buat E20
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan bahwa total konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin di dalam negeri saat ini menyentuh angka 40 juta KL per tahun. (Foto: Kabarbursa.com/Gusti RIdani)

KABARBURSA.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan kebutuhan pasokan etanol nasional mencapai 4 juta kiloliter (KL) per tahun untuk mengunci implementasi program bauran energi E20.

Langkah strategis ini menjadi senjata andalan pemerintah guna memotong ketergantungan akut terhadap impor bahan bakar fosil jenis bensin yang membebani neraca perdagangan negara.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan bahwa total konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin di dalam negeri saat ini menyentuh angka 40 juta KL per tahun.

Bahlil mengungkapkan bahwa kapasitas produksi bensin domestik awalnya hanya berkisar 14,3 juta KL sehingga Indonesia harus mengimpor hampir 25 juta KL bensin setiap tahunnya.

Namun, pengoperasian Kilang Balikpapan sejak Januari 2026 sukses menambah kapasitas produksi bensin sebesar 5,5 juta KL per tahun, sehingga memangkas sisa ketergantungan impor menjadi sekitar 20 juta KL.

"Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter, dan dari 40 juta kiloliter itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta kiloliter jadi impornya hampir 25 juta kiloliter, namun begitu kilang Balikpapan kita resmikan di bulan Januari 2026 bertambah produksinya 5,5 juta kiloliter bensin, sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter," ujar Bahlil dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), dikutip Senin, 29 Juni 2026.

Pemerintah menyiapkan Program E20 yang mengombinasikan bensin dengan 20 persen etanol untuk mengeliminasi sisa defisit impor tersebut.

Bahlil menyebut kebijakan bensin hijau ini mengadopsi cetak biru dari kesuksesan program biodiesel berbasis kelapa sawit yang telah berevolusi dari B10 hingga B50 pada sektor solar.

Untuk menjamin kepastian pasar di sektor hulu, pemerintah berkomitmen menjadi pembeli utama atas komoditas pertanian penunjang bioenergi yang dihasilkan oleh para petani lokal.

"Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta kiloliter maka kita akan menerapkan Program E20 yang idenya berangkat dari kesuksesan Program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off taker produksi etanol yang dihasilkan petani," ungkap Bahlil.

Integrasi industri hulu-hilir bioenergi ini menggunakan bahan baku dari komoditas tebu, singkong, dan jagung secara masif. Skema ini diperkirakan mampu menggerakkan roda ekonomi perdesaan sekaligus memberikan nilai tambah yang besar bagi sektor agroindustri nasional.

Di sisi lain, pembatasan konsumsi bahan bakar fosil melalui program E20 juga menjadi instrumen penting pemerintah untuk mencapai target emisi nol bersih (NZE) pada tahun 2060 atau bahkan terealisasi lebih cepat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang