KABARBURSA.COM – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) melaporkan pencapaian laba bersih tahun berjalan sebesar USD339,64 juta pada laporan keuangan tahun buku 2025.
Pembalikan angka dari rugi bersih USD148,42 juta pada 2024 sama sekali tidak menggambarkan kesehatan operasional badan usaha milik negara (BUMN) baja ini secara riil.
Di balik laba tersebut, kondisi fundamental perseroan menyisakan beban finansial masa lalu yang ditopang restrukturisasi utang, bukan kinerja perdagangan murni. Perbaikan neraca dengan total aset USD2,77 miliar dinilai semu karena tidak ditopang efisiensi bisnis baja yang kokoh.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan, mengakui capaian laba ini bergantung pada dukungan pembiayaan pihak eksternal, bukan produktivitas operasional internal. Ia menyebut keberhasilan ini murni ditopang oleh restrukturisasi utang serta dukungan pendanaan dari pemerintah melalui Danantara.
"Dukungan pendanaan dan kepercayaan dari Danantara menjadi pendorong utama bagi kami untuk terus berbenah. Laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati," ujar Akbar dalam keterangan resminya dikutip, Sabtu, 27 Juni 2026.
Klaim positif ini justru mempertegas profitabilitas perseroan saat ini hanya tertolong oleh skema bantuan non-operasional.
Akbar menegaskan proses evaluasi terhadap berbagai aset ventura yang membebani struktur neraca masih menjadi pekerjaan rumah sangat besar bagi jajaran manajemen. Pihaknya menyatakan harus bertindak lebih disiplin karena perseroan masih memiliki banyak tantangan operasional dan beban biaya di depan mata.
"Oleh karena itu, Perseroan akan terus melakukan evaluasi portofolio secara aktif dan meninjau kembali kerja sama yang belum memberikan nilai optimal," kata Akbar. Pernyataan lugas ini mensinyalkan banyak lini bisnis, termasuk perusahaan patungan, yang kinerjanya masih berdarah-darah menggerus kas.
Tumpukan Liabilitas KRAS yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com, emiten plat merah berkode saham KRAS ini nyatanya masih memikul akumulasi kerugian dalam jumlah yang fantastis.
Nilai akumulasi kerugian perseroan hingga akhir Desember 2025 tercatat mencapai USD2,15 miliar atau setara Rp34,11 triliun. Meskipun kewajiban fantastis tersebut diklaim turun 17,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar USD2,45 miliar, ketergantungan perseroan terhadap utang perbankan tetap pada level membahayakan. Struktur permodalan perusahaan rentan karena disokong rasio liabilitas yang jauh melampaui kapasitas ekuitas murni perseroan.
Struktur modal perusahaan pun masih sangat rentan karena disokong oleh liabilitas yang nilainya jauh melampaui kapasitas permodalan murni milik perseroan.
Di sisi lain, nilai total ekuitas perseroan yang dilaporkan meningkat menjadi USD725,51 juta per Desember 2025 juga memerlukan pencermatan kritis. Peningkatan ekuitas dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar USD435,18 juta ini terjadi di tengah beban penyesuaian pos keuangan non-operasional yang kompleks.
Rincian neraca mencatat cadangan kerugian penurunan nilai piutang usaha dari pihak ketiga mencapai USD4,34 juta pada Desember 2025, lalu merangkak naik menjadi USD4,95 juta pada Maret 2026. Tingginya ketidakpastian pemulihan piutang dari rekanan mempertegas kualitas aset lancar perusahaan masih dibayangi risiko gagal bayar riil.
Beban pajak penghasilan perseroan pada periode 2025 juga mengalami lonjakan drastis menjadi USD119,30 juta dibanding tahun sebelumnya yang hanya USD7,94 juta.
Kenaikan pos beban pajak yang luar biasa besar ini langsung memangkas potensi perolehan keuntungan bersih yang bisa diatribusikan secara optimal. Kompleksitas pengelolaan kewajiban perpajakan fiskal ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam pengakuan pendapatan komprehensif perusahaan.
Pola pengeluaran biaya pokok yang tidak efisien membuat margin keuntungan bersih operasional utama tetap tertekan secara konsisten.
Keberadaan instrumen utang berupa obligasi wajib konversi senilai USD120,84 juta pada neraca jangka panjang juga menambah daftar ketidakpastian restrukturisasi. Kewajiban keuangan non-bank serta pinjaman jangka panjang lainnya yang mencapai USD249,75 juta memperlihatkan beban leverage yang sangat ekstrem.
Skema pemulihan posisi finansial yang mengandalkan konversi utang menjadi saham terbukti hanya mempercantik tampilan laporan di atas kertas. Keuntungan dari transaksi restrukturisasi finansial non-operasional terbukti tidak mampu menyelesaikan akar permasalahan rendahnya produktivitas manufaktur baja domestik.
Masalah efisiensi produksi disorot tajam, mengingat total volume penjualan produk baja 944.562 ton ternyata hanya menghasilkan pendapatan USD959,84 juta pada 2025.
Akbar berdalih pihaknya sedang berupaya keras mengembalikan produktivitas fasilitas utama agar angka penjualan tidak menguap menjadi beban pokok. "Kami fokus memastikan setiap lini produksi berjalan dengan efisien, agar dapat menghasilkan produk baja yang lebih kompetitif dan dapat bersaing di pasar," tegas Akbar.
Faktanya, pola pengeluaran biaya produksi yang tidak efisien membuat margin keuntungan bersih operasional utama tetap tertekan.
Menanggapi deretan liabilitas dan beban operasional, Akbar menegaskan perbaikan strategi portofolio menjadi kunci agar perusahaan tidak disandera kewajiban masa lalu.
"Keputusan ini diambil demi memperkokoh struktur keuangan serta memastikan bahwa setiap inisiatif bisnis mampu memberikan nilai tambah yang maksimal," tukasnya.
Padahal, risiko operasional grup Krakatau Steel diperberat oleh tingginya kewajiban imbalan pascakerja jangka panjang karyawan yang menembus USD62,18 juta pada 2025.
Tekanan dari pos kesejahteraan karyawan ini menjadi potret suram tata kelola internal BUMN yang kurang adaptif terhadap efisiensi.(*)