Logo
>

BEI Perketat Transparansi ESG Lewat Form E020, Investor Kini Punya Senjata Baca Risiko Emiten

Lewat sistem pelaporan E020 dan ESG Core Metrics, BEI mendorong keterbukaan data keberlanjutan emiten secara lebih terukur dan transparan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
BEI Perketat Transparansi ESG Lewat Form E020, Investor Kini Punya Senjata Baca Risiko Emiten
BEI memperketat transparansi ESG lewat E020 dan ESG Core Metrics agar investor bisa membaca risiko emiten lebih akurat. Foto: Hutama Prayoga/KabarBursa

KABARBURSA.COM — Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmennya untuk tidak lagi sekadar menjadi penyelenggara perdagangan, melainkan motor transparansi data keberlanjutan di Asia Tenggara. Melalui sistem pelaporan terbaru Form E020, BEI kini memberikan wewenang penuh kepada investor untuk menilai kualitas lingkungan dan tata kelola emiten melalui transparansi data yang jauh lebih rigid.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan sistem pelaporan E020 merupakan tonggak baru dalam keterbukaan informasi emiten di Indonesia. Berbeda dengan model pelaporan sukarela di masa lalu, sistem baru ini telah dikembangkan BEI dengan mengintegrasikan ESG Core Metrics yang mencakup lebih dari 100 data points (titik data) yang bersifat wajib.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap emiten menyajikan indikator Environmental, Social, and Governance atau ESG yang seragam dan terukur sehingga tidak ada lagi celah bagi narasi keberlanjutan yang tidak berbasis data angka.

“Sistem pelaporan E020 merupakan kewajiban keterbukaan informasi oleh Perusahaan Tercatat, kami menambahkan ESG core metrics yang berisi lebih dari 100 data points untuk dapat memberikan transparansi lebih baik bagi investor,” kata Jeffrey kepada KabarBursa.com, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurut Jeffrey, BEI berperan sebagai fasilitator yang menjaga objektivitas pasar melalui penyajian data yang transparan dan akuntabel. Oleh karena itu, kehadiran infrastruktur pelaporan ini berfungsi sebagai instrumen navigasi bagi para pemodal agar dapat membedah profil risiko setiap perusahaan secara mandiri.

“Pelaporan E020 tidak menyaring emiten melainkan keterbukaan informasi sehingga investor dapat mengambil keputusan dengan mengintegrasikan data ESG," kata Jeffrey.

Menantang Peran Aktif Emiten

Jeffrey juga menyoroti kredibilitas sebuah emiten di platform penilaian internasional, seperti Sustainalytics dan S&P Global, sangat bergantung pada proaktifnya perusahaan tersebut. Dalam sistem yang digunakan BEI, investor dapat melihat secara langsung apakah sebuah emiten memiliki skor risiko yang lengkap atau justru menyisakan celah data (seperti status N/A pada pilar tertentu).

“Untuk pemeringkatan kami bekerja sama dengan Sustainalytics dan S&P Global … Untuk S&P diperlukan peran aktif emiten untuk mengisi CSA (Corporate Sustainability Assessment),"  jelasnya.

Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa narasi "Hijau" di permukaan tidak akan cukup jika emiten tidak mampu membuktikannya melalui pengisian data teknis yang diminta oleh regulator.

Kepemimpinan Jeffrey saat menjadi Direktur Pengembangan BEI di bursa menunjukkan hasil yang signifikan dalam mendorong emiten masuk ke radar penilaian global. Pada 2024 hanya terdapat 80 Perusahaan Tercatat yang dinilai oleh Sustainalytics, namun angka ini melonjak drastis menjadi 187 Perusahaan Tercatat pada 2025.

Peningkatan ini menandakan sistem yang dibangun bursa berhasil memaksa emiten untuk mulai peduli pada rating risiko mereka. Jeffrey menambahkan, penerapan Sustainability yang baik bukan sekadar kewajiban moral, melainkan strategi kunci untuk mendorong potensial capital inflow bagi Perusahaan Tercatat di Indonesia.

Dengan tersedianya platform IDX Sustainability, BEI kini menyediakan filter bagi investor untuk membedakan mana emiten yang benar-benar berisiko rendah (Negligible/Low Risk) dan mana emiten yang masih terjebak dalam kategori risiko sedang hingga tinggi karena ketiadaan transparansi data operasional.

Era baru ini menempatkan BEI bukan lagi sebagai penilai, melainkan sebagai penyedia laboratorium data bagi investor global yang semakin selektif dalam menaruh modal di tanah air.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).