KABARBURSA.COM – Saham-saham sektor konsumer bergerak naik. Di tengah tekanan daya beli dan lonjakan harga energi global, emiten seperti Mayora Indah (MYOR), Kalbe Farma (KLBF), Cimory Group (CMRY), Unilever Indonesia (UNVR), Indofood CBP (ICBP), hingga Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO) mulai menunjukkan tanda pemulihan kinerja pada kuartal pertama 2026.
Laporan riset Indo Premier memperlihatkan penjualan domestik sektor consumer staples pada kuartal I-2026 tumbuh 4,4 persen secara tahunan atau masih sejalan dengan rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir di kisaran 4,5 persen.
Angka tersebut muncul meski periode awal tahun sempat terganggu pergeseran momentum belanja Lebaran yang tahun ini terjadi lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.
Analis menilai pola konsumsi masyarakat mulai membaik seiring percepatan belanja pemerintah, termasuk melalui program MBG yang mulai mengalir ke masyarakat. Dorongan belanja itu mulai terasa pada produk-produk kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya bergerak cukup lambat sepanjang 2025.
Laba MYOR Curi Perhatian
Dari sisi laba, MYOR menjadi salah satu emiten yang paling mencuri perhatian pasar. Laba bersih kuartal pertama perseroan tercatat berada di atas ekspektasi konsensus, ditopang perbaikan margin yang cukup signifikan.
Kondisi ini terlihat dari gross profit margin atau GPM MYOR yang melonjak 461 basis poin secara tahunan. Perbaikan margin tersebut didorong turunnya harga bahan baku utama seperti kopi, gula, dan kakao yang masing-masing terkoreksi 28,8 persen, 24,6 persen, dan 59,7 persen dibanding tahun lalu.
Efek penurunan bahan baku itu membuat pasar mulai kembali masuk ke saham MYOR. Dalam tabel valuasi Indo Premier, saham MYOR masih dipertahankan dengan rekomendasi buy dan target harga Rp2.700 per saham dari posisi saat ini Rp1.785.
Proyeksi Pertumbuhan Laba CMRY
Selain MYOR, CMRY juga mulai menunjukkan pemulihan seiring pertumbuhan laba yang masih solid. Indo Premier memproyeksikan pertumbuhan laba CMRY mencapai 13,7 persen pada 2026 dan berlanjut menjadi 16,7 persen pada 2027.
Meski begitu, tekanan biaya belum benar-benar hilang dari sektor ini. CMRY dan KLBF masih menghadapi kenaikan harga susu skim yang naik 8,6 persen secara tahunan, ditambah tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sekitar 3,1 persen.
ICBP-UNVR dan Kenaikan Harga CPO
Situasi berbeda terlihat pada ICBP dan UNVR yang mulai terkena dampak kenaikan harga minyak sawit mentah atau CPO. Margin laba bruto kedua emiten turun menjadi 34,8 persen untuk ICBP dan 48,2 persen untuk UNVR akibat kenaikan harga CPO sekitar 12 persen secara tahunan.
UNVR bahkan menjadi salah satu emiten yang paling sensitif terhadap kenaikan harga energi dan bahan baku berbasis minyak. Analisis sensitivitas Indo Premier menunjukkan setiap kenaikan 5 persen harga CPO dan minyak mentah berpotensi memangkas laba UNVR hingga 6,4 persen pada 2026.
Tekanan serupa juga membayangi KLBF dan ICBP. Untuk KLBF, kenaikan harga energi dan bahan baku diperkirakan dapat menggerus laba sekitar 4,7 persen, sedangkan ICBP berpotensi turun 4,2 persen.
Laba Bruto SIDO Tertekan
Sementara itu, SIDO masih menghadapi tekanan dari perubahan bauran produk atau product mix yang membuat margin laba brutonya turun menjadi 50,5 persen. Meski demikian, saham SIDO masih dipertahankan pada rekomendasi hold dengan dividend yield yang tetap tinggi di kisaran 9,1 persen.
Di tengah tekanan biaya tersebut, pasar mulai melihat adanya peluang pemulihan konsumsi domestik pada kuartal kedua 2026. Salah satu pendorongnya berasal dari jumlah hari kerja yang lebih panjang dibanding tahun lalu setelah distribusi logistik tidak terlalu terganggu pembatasan truk saat Lebaran.
Indo Premier mencatat kuartal kedua tahun ini diperkirakan memiliki 58 hari kerja dibandingkan 53 hari pada periode sama tahun lalu. Kondisi itu dinilai bisa membantu mempercepat distribusi barang konsumsi dan mendorong volume penjualan.
Selain itu, basis pertumbuhan tahun lalu juga relatif rendah karena penjualan domestik sektor staples pada kuartal II-2025 hanya tumbuh 0,9 persen. Artinya, ruang pemulihan konsumsi pada tahun ini menjadi lebih terbuka.
Risiko Eksternal Masih Membayangi
Namun pasar masih menaruh kewaspadaan besar terhadap risiko eksternal, terutama lonjakan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak Brent tercatat melonjak lebih dari 32 persen sejak kuartal pertama 2026 dan mulai memberi tekanan ke berbagai rantai biaya industri konsumer.
Kenaikan harga energi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite. Pengalaman pada 2022 hingga 2023 menunjukkan kenaikan harga BBM sempat memukul penjualan sektor consumer staples secara cukup signifikan.
Overweight untuk Sektor Konsumer
Meski begitu, valuasi sektor konsumer mulai kembali menarik di mata investor. Indo Premier mencatat aggregate earnings yield sektor staples kini sudah mencapai 9 persen, lebih tinggi dibanding imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di kisaran 6,8 persen.
Dari sisi rekomendasi, Indo Premier masih mempertahankan overweight untuk sektor consumer staples dengan urutan pilihan utama MYOR, CMRY, ICBP, KLBF, UNVR, hingga SIDO. Pasar kini mulai mencermati apakah pemulihan konsumsi domestik mampu lebih kuat dibanding tekanan biaya energi yang terus meningkat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.