KABARBURSA.COM - Desa Tompobulu di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan mampu berkembang signifikan sebagai desa berbasis potensi lokal.
Berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, desa Tompobulu kini mengandalkan sektor pariwisata dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru.
Mayoritas warga Tompobulu memang masih berprofesi sebagai petani. Namun, pengembangan kuliner khas seperti saraba daun kelor mulai memperluas sumber pendapatan masyarakat.
Produk berbahan jahe dan daun kelor tersebut kini tidak hanya menjadi identitas lokal, tapi juga telah masuk ke pasar yang lebih luas.
Selain itu, sektor pariwisata berkembang sebagai pilar ekonomi tambahan. Desa Tompobulu memiliki sejumlah destinasi unggulan, termasuk Puncak Pendagang Bulu Sarang di Dusun Bulu-Bulu yang berada di ketinggian 1.353 mdpl (meter di atas permukaam laut).
Kawasan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan.
Kinerja desa ini juga tercermin dari sejumlah capaian. Tompobulu berhasil meraih juara nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), mendapat penghargaan dalam Lomba Desa Pariwisata Kementerian Desa, hingga masuk nominasi desa terbaik dalam ajang Desa BRILiaN.
Kepala Desa Tompobulu, Abdul Kadir Hakim mengatakan, prestasi tersebut menjadi pemicu bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi desa.
“Capaian ini menjadi kebanggaan bagi kami sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan potensi desa,” ujarnya lewat keterangan resmi, Minggu 29 Maret 2026.
Penguatan ekonomi desa semakin terakselerasi melalui program Desa BRILiaN. Kedekatan warga dengan layanan perbankan, khususnya BRI, menjadi faktor penting mengingat banyak warga merupakan pelaku UMKM dan penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Melalui program Desa BRILian, BRI memberikan beragam upaya pendampingan mulai dari penguatan ekonomi desa, digitalisasi layanan keuangan, hingga peningkatan kapasitas pengelolaan potensi lokal.
Di sisi lain, UMKM berbasis kearifan lokal terus tumbuh. Selain saraba daun kelor, produksi gula aren tetap dipertahankan dengan metode tradisional berbasis gotong royong. Hal ini juga berdampak positif untuk menjaga kualitas dan nilai sosial masyarakat Tompobulu.

Capaian lainnya, peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga semakin krusial. BUMDes di Tompobulu telah mengembangkan berbagai unit usaha, seperti layanan Wi-Fi desa, depot air galon, hingga usaha produktif lainnya yang berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa.
Dukungan sektor keuangan juga turut memperkuat ekosistem ini. BRI menghadirkan akses keuangan inklusif melalui penyaluran KUR, penguatan AgenBRILink yang terintegrasi dengan BUMDes, implementasi pembayaran digital QRIS, serta penggunaan aplikasi BRImo.
Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya menyatakan, program Desa BRILiaN menjadi salah satu strategi guna mendorong ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan.
“Desa BRILiaN dirancang sebagai program pemberdayaan desa berbasis empat pilar utama, yakni penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi layanan keuangan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa. Melalui program ini, BRI mendorong masyarakat desa untuk terus berinovasi dan menciptakan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi,” jelasnya.
Akhmad menambahkan, sejauh ini suda ada lebih dari 5.200 desa yang telah tergabung dan mendapatkan pendampingan intensif dari Desa BRILian.
“BRI akan terus memperkuat peran sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa, sehingga potensi lokal dapat berkembang secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Dengan kombinasi potensi alam, penguatan kelembagaan, dan dukungan perbankan, Desa Tompobulu kini berkembang sebagai desa wisata yang adaptif dan berdaya saing, sekaligus menjadi contoh transformasi ekonomi desa di Indonesia yang diperkuat BRI. (info-bks/*)