KABARBURSA.COM — Di tengah ketergantungan impor bahan bakar yang belum juga surut, Badan Riset dan Inovasi Nasional mulai mengarahkan perhatian ke hutan. Bukan untuk ditebang, tapi dimanfaatkan sebagai sumber energi baru lewat biomassa.
Salah satu yang didorong adalah tanaman nyamplung, spesies asli Indonesia yang dinilai punya potensi besar sebagai bahan bakar nabati. Tanaman ini bukan sekadar alternatif, tapi mulai dilihat sebagai bagian dari solusi jangka panjang energi nasional.
Riset yang dilakukan tidak setengah-setengah. Dari urusan benih, teknik budidaya intensif, sampai pemuliaan pohon untuk meningkatkan produktivitas biji terus dikembangkan. Di sisi hilir, teknologi pengolahan minyak mentahnya juga digarap agar bisa memenuhi standar teknis dan keekonomian sebagai pengganti BBM.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, menjelaskan potensi nyamplung tidak bisa dipandang sebelah mata. “Minyak nyamplung atau Tamanu crude Oil berpotensi besar untuk diproses menjadi bahan baku biofuel atau bakar ramah lingkungan seperti biokerosin, biodiesel, dan bioavtur atau sustainable aviation fuel,” ujarnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu, 4 April 2026.
Menurut dia, pendekatan ini bukan untuk mengeksploitasi hutan, melainkan memaksimalkan potensi biomassa dalam sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan berbasis sains. Nilai tambahnya tidak berhenti di bahan bakar. Limbah dari pengolahan nyamplung justru membuka peluang ekonomi baru. Cangkang buah, bungkil biji, hingga resin dan gliserol bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Mulai dari arang aktif, pelet berkalori tinggi, pakan ternak berprotein, hingga produk biofarmaka seperti obat herbal dan kosmetik. Bahkan sabun herbal pun bisa lahir dari rantai industri ini. Namun, tantangan terbesar bukan lagi pada teknologi. Menurut Budi, banyak teknologi konversi biomassa sudah terbukti layak secara teknis.
“Teknologi konversi biomassa sudah banyak dikaji dan terbukti layak secara teknis. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat hilirisasi dan memastikan dukungan kebijakan yang konsisten,” katanya.
Di sinilah persoalan klasik muncul. Riset sering berhenti di laboratorium, sementara industri butuh kepastian dan kebijakan yang tidak berubah-ubah. Dalam konteks yang lebih luas, pengembangan biofuel dari biomassa hutan dinilai strategis. Selain memanfaatkan sumber daya domestik, pendekatan ini juga memberi nilai tambah ekonomi di dalam negeri.
Di saat yang sama, upaya ini berpotensi menekan emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya hayati. Budi bahkan menilai Indonesia sebenarnya tidak kekurangan energi. Yang terjadi justru potensi besar itu belum dimanfaatkan secara optimal.
“Indonesia sebenarnya tidak kekurangan energi. Kita hanya belum optimal memanfaatkan potensi biomassa hutan sebagai sumber energi terbarukan,” ujarnya.
Pengembangan ini menjadi bagian dari agenda riset dan inovasi BRIN di sektor energi baru dan terbarukan. Pendekatannya dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Mulai dari budidaya tanaman penghasil energi, peningkatan produktivitas, hingga rekayasa proses konversi menjadi bahan bakar cair yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Momentum transisi energi yang sedang berjalan disebut sebagai peluang besar untuk mendorong biofuel berbasis tanaman hutan masuk ke peta jalan energi nasional. Kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan industri dinilai menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di atas kertas.
Di tengah tekanan impor BBM dan gejolak harga energi global, arah ini mulai terlihat sebagai jalan keluar yang realistis.
“Kemandirian energi itu realistis dan merupakan suatu keniscayaan. Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi riset, inovasi, dan sinergi kebijakan. Hal ini juga membuka peluang Indonesia untuk kembali menjadi negara produsen atau pengekspor minyak, kalau dulu eksportir BBM maka ke depan dalam bentuk BBN,” kata Budi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.