KABARBURSA.COM — Dalam beberapa tahun terakhir, panggung politik dan ruang diskusi finansial global riuh oleh sebuah istilah Environmental, Social, and Governance atau ESG. Di belahan dunia Barat, khususnya Amerika Serikat, instrumen ini kerap kali menjadi alat politik kelompok konservatif. ESG dicap sebagai agenda "woke", sebuah infiltrasi ideologi sayap kiri yang mencoba menjinakkan korporasi atau bahkan dituduh sebagai "sosialisme terselubung" yang sengaja disusupkan untuk meruntuhkan tatanan pasar bebas.
Namun, jika kita bersedia menanggalkan kebisingan politik dan melongok kembali cetak biru sejarahnya, narasi "ESG sebagai gerakan kiri" seketika runtuh. ESG dari oroknya bukanlah buah pikiran aktivis lingkungan radikal atau kaum sosialis. Sebaliknya, ia adalah anak kandung, sekaligus instrumen pertahanan diri (self-preservation) yang paling canggih yang pernah diciptakan oleh kapitalisme finansial modern untuk melindungi nilai modal mereka.
Dari Boikot Moral ke Manajemen Risiko
Untuk memahami mengapa ESG adalah alat kapitalis, kita harus melihat bagaimana dunia investasi berevolusi. Menukil rekam jejak sejarah dari The Corporate Governance Institute, embrio investasi berkelanjutan dimulai pada era 1970-an lewat skema Socially Responsible Investing (SRI). Kala itu, pelopornya seperti Pax Fund di AS atau kampanye anti-Apartheid di Afrika Selatan bergerak menggunakan metode exclusionary screening—sebuah pendekatan moral pasif yang basisnya adalah boikot. Investor kala itu sekadar berkata "tidak" terhadap saham senjata, tembakau, atau minyak demi menenangkan hati nurani.
Namun, kaum kapitalis menyadari bahwa sekadar berkata "tidak" adalah langkah pasif yang tidak menghasilkan apa-apa bagi pertumbuhan modal. Lompatan besar terjadi pada tahun 2004 ketika PBB merilis laporan monumental berjudul "Who Cares Wins". Istilah ESG resmi lahir di sini.
Menariknya, laporan tersebut digodok atas inisiasi 20 institusi finansial raksasa dunia—termasuk raksasa Wall Street seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, hingga Deutsche Bank. Di titik inilah kapitalisme melakukan domestikasi terhadap isu lingkungan dan sosial. Isu-isu moral tersebut tidak lagi diletakkan di luar pagar bisnis, melainkan diintegrasikan langsung ke dalam rumus matematika akuntansi risiko melalui standardisasi seperti GRI, SASB, hingga TCFD.
Tujuannya? Bukan untuk menyelamatkan bumi atas dasar altruisme, melainkan demi membuat keputusan investasi yang lebih cerdas, meminimalisir potensi kerugian finansial akibat denda lingkungan atau pemogokan buruh, dan pada akhirnya melipatgandakan keuntungan jangka panjang (potentially boost your returns).
CEO BlacRock Larry Fink: Ini Murni Kapitalisme
Bantahan paling telak mengenai keterkaitan ESG dengan agenda ideologi kiri datang langsung dari salah satu arsitek utama pasar modal dunia saat ini. Dia adalah Larry Fink, CEO BlackRock, manajer aset terbesar di planet bumi yang mengelola dana keluar-masuk hingga kisaran USD 8–10 triliun.
Dalam forum raksasa New York Times DealBook Summit pada akhir 2022 lalu, Fink secara blak-blakan menepis tuduhan bahwa pihaknya sedang menjalankan agenda politik tertentu saat mendesak korporasi-korporasi global menerapkan standardisasi ESG.
“Ini bukan soal politik. Ini bukan agenda sosial atau ideologis. Ini bukan gerakan 'woke'. Ini adalah kapitalisme,” kata Fink seperti di lihat di YouTube New York Times Event, Selasa, 26 Mei 2026.
Bagi Fink dan para pengelola modal raksasa Wall Street, korporasi yang mengabaikan tata kelola yang buruk atau abai terhadap risiko iklim bukanlah sedang menjadi "pejuang pasar bebas", melainkan sedang menjadi entitas bisnis yang bodoh.
Karena separuh lebih dari dana yang dikelola BlackRock adalah dana pensiun masyarakat yang baru akan ditarik 20 hingga 30 tahun ke depan, mengabaikan risiko destruktif lingkungan dan sosial adalah ancaman nyata bagi masa depan portofolio investasi mereka.
Bukti lain yang mempertegas bahwa ESG berjarak sangat jauh dari agenda sayap kiri radikal adalah penolakan keras para kapitalis terhadap tuntutan divestasi—atau penghentian total pendanaan pada industri fosil seperti minyak, gas, dan batu bara.
Kelompok lingkungan radikal kerap menuntut manajer investasi seperti BlackRock untuk langsung memutus keran modal ke korporasi pencemar lingkungan. Namun, Fink merespons tuntutan tersebut dengan logika pasar yang sangat dingin dan pragmatis. Bagi kapitalis, mencabut modal secara total adalah langkah emosional yang tidak akan menyelesaikan masalah emisi, melainkan hanya merugikan nilai portofolio publik.
“Kami telah mengatakan kepada semua orang untuk tidak melakukan divestasi dari hidrokarbon ... Ketika sebuah organisasi melakukan divestasi, aset itu hanya berpindah ke tangan swasta, itu tidak berarti jejak Net Zero dunia berubah. Hasil dari divestasi bukanlah hasil yang baik,” katanya.
Logika Fink sederhana. Jika institusi publik yang transparan seperti BlackRock mencabut modalnya dari perusahaan batu bara atau minyak, operasional fosil tersebut tidak akan mendadak bangkrut dan tutup. Aset-aset tersebut justru akan dibeli murah oleh perusahaan swasta atau hedge funds oportunistik yang tidak terikat kewajiban transparansi publik. Hasilnya, bumi tetap tercemar, sementara kapitalis publik kehilangan kendali dan potensi cuan dari proses transisi energinya.
Merawat Harapan Jangka Panjang
Pada akhirnya, ESG dalam kacamata kapitalisme finansial modern berfungsi sebagai jangkar psikologis untuk merawat optimisme pasar. Di tengah lanskap ekonomi global yang dipenuhi guncangan inflasi tinggi dan ketidakpastian geopolitik, kapitalisme membutuhkan sebuah instrumen yang meyakinkan para investor retail agar tidak menarik uang mereka dari pasar saham.
Fink melihat, tugas utama dari kapitalisme modern lewat narasi keberlanjutan ini adalah menyediakan apa yang ia sebut sebagai hope (harapan).
“Tugas BlackRock adalah memberikan harapan. Jika Anda tidak memiliki harapan, untuk apa Anda berinvestasi demi hasil 20 atau 30 tahun ke depan? Jika Anda tidak memiliki harapan, Anda akan menyimpan semua uang Anda di rekening bank. Dan itulah yang kitalihat di Tiongkok saat ini, 45 persen tabungan di rekening bank,” ujarnya.
Tanpa adanya tata kelola yang transparan dan mitigasi risiko jangka panjang yang ditawarkan oleh kerangka kerja ESG, investor akan kehilangan kepercayaan. Mereka akan memilih menyembunyikan uangnya di bawah kasur atau rekening bank konvensional yang pasif—seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa dan Tiongkok. Bagi ekosistem pasar modal, hilangnya arus investasi jangka panjang ini adalah kematian massal yang perlahan.
Mendedah ESG secara analitik membawa kita pada satu kesimpulan bahwa korporasi raksasa dunia dan para taipan pemilik modal mengadopsi standardisasi hijau bukan karena mereka mendadak bertransformasi menjadi filantropis yang mencintai bumi tanpa pamrih. Mereka melakukannya karena ESG adalah instrumen paling rasional di abad ke-21 untuk menjaga agar bisnis mereka tidak hancur diamuk krisis iklim atau boikot sosial.
Narasi global ini sekaligus menjadi cermin bagi emiten-emiten di dalam negeri, termasuk riuh rendah penerapan sistem pelaporan keberlanjutan (seperti E020) di Bursa Efek Indonesia. Ketika korporasi domestik berlomba-lomba merias diri dengan sertifikasi hijau dan laporan keberlanjutan yang tebal, mereka sedang tidak melakukan gerakan sosial.
Mereka hanya sedang tunduk pada hukum pasar, yakni bersolek se-estetik mungkin agar modal raksasa dari para kapitalis global pemilik takhta USD10 triliun seperti BlackRock bersedia mampir, bertahan, dan melipatgandakan nilai kapital mereka di tanah air.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.