KABARBURSA.COM — Di tengah dorongan transisi energi dan tekanan krisis iklim, satu fakta menonjol adalah energi terbarukan masih jadi bintang utama. Namun, di balik grafik pertumbuhan yang menanjak, sektor ini juga harus berjibaku dengan masalah klasik seperti rantai pasok, jaringan listrik, pembiayaan, hingga perubahan kebijakan.
Laporan tahunan terbaru Renewables 2025 dari International Energy Agency (IEA) memperkirakan kapasitas listrik energi terbarukan global akan lebih dari dua kali lipat pada 2030. Secara kumulatif, kapasitas energi terbarukan dunia diproyeksikan bertambah 4.600 gigawatt (GW) hingga akhir dekade ini. Angka ini setara dengan total kapasitas pembangkit listrik China, Uni Eropa, dan Jepang jika digabungkan.
Pertumbuhan ini dipimpin oleh tenaga surya, terutama solar PV, yang terus melaju berkat biaya yang makin murah dan proses perizinan yang relatif cepat. Namun, lonjakan ini juga terjadi di tengah tekanan besar, antara lain rantai pasok yang ketat, tantangan integrasi ke jaringan listrik, biaya pembiayaan yang naik, serta arah kebijakan yang berubah-ubah di sejumlah negara kunci.
Dilansir dari laman resmi IEA, Jumat, 23 Januari 2026, badan itu mencatat sekitar 80 persen tambahan kapasitas energi terbarukan global hingga 2030 akan berasal dari solar PV. Setelah itu menyusul angin, hidro, bioenergi, dan panas bumi.
Panas bumi (geothermal) bahkan diproyeksikan mencetak rekor pemasangan baru di sejumlah pasar utama, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, serta berbagai negara berkembang lainnya. Di saat bersamaan, tantangan integrasi jaringan listrik mendorong minat baru pada pumped-storage hydropower, yang pertumbuhannya diperkirakan hampir 80 persen lebih cepat dalam lima tahun ke depan dibanding lima tahun sebelumnya.
Negara Berkembang Mulai Tancap Gas
Di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, energi terbarukan tumbuh lebih cepat berkat kombinasi biaya yang makin kompetitif dan dukungan kebijakan yang lebih agresif. Banyak pemerintah memperkenalkan program lelang baru dan menaikkan target bauran energi bersih.
India disebut berada di jalur untuk menjadi pasar pertumbuhan energi terbarukan terbesar kedua di dunia setelah China, sekaligus diperkirakan mampu mencapai target ambisiusnya pada 2030 tanpa banyak hambatan.
Di tingkat korporasi, kepercayaan terhadap energi terbarukan masih terjaga. Mayoritas pengembang besar mempertahankan—bahkan menaikkan—target pemasangan kapasitas hingga 2030 dibanding tahun lalu. Ini mencerminkan ketahanan dan optimisme sektor tersebut.
Namun, angin lepas pantai (offshore wind) jadi pengecualian. Prospek pertumbuhannya direvisi turun sekitar seperempat dibanding laporan tahun lalu, akibat perubahan kebijakan di pasar utama, hambatan rantai pasok, dan biaya yang melonjak.
Surya Masih Jadi Raja
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menegaskan dominasi surya dalam beberapa tahun ke depan. “Pertumbuhan kapasitas energi terbarukan global dalam beberapa tahun ke depan akan didominasi oleh solar PV—namun angin, hidro, bioenergi, dan panas bumi juga akan berkontribusi. Solar PV berada di jalur untuk menyumbang sekitar 80 persen dari peningkatan kapasitas energi terbarukan dunia dalam lima tahun ke depan,” katanya.
Ia menambahkan, lonjakan surya tidak hanya terjadi di pasar mapan, tetapi juga di ekonomi seperti Arab Saudi, Pakistan, dan sejumlah negara Asia Tenggara. Namun, ia mengingatkan pembuat kebijakan agar tidak lengah.
“Seiring meningkatnya peran energi terbarukan dalam sistem kelistrikan di banyak negara, pembuat kebijakan perlu memberi perhatian serius pada keamanan rantai pasok dan tantangan integrasi jaringan,” katanya.
Meski prospeknya tetap besar, IEA sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan kapasitas energi terbarukan global dibanding tahun lalu. Penyebab utamanya datang dari dua raksasa: Amerika Serikat dan China.
Di Amerika Serikat, penghentian lebih cepat insentif pajak federal serta perubahan regulasi lainnya memangkas ekspektasi pertumbuhan energi terbarukan hampir 50 persen dibanding proyeksi sebelumnya. Sementara di China, peralihan dari tarif tetap ke sistem lelang memengaruhi keekonomian proyek dan menurunkan proyeksi pertumbuhan pasar domestik.
Penurunan ini sebagian tertutup oleh lonjakan di wilayah lain—terutama India, Eropa, dan sebagian besar negara berkembang—yang mendapat dorongan dari kebijakan baru, volume lelang yang lebih besar, perizinan lebih cepat, dan maraknya pemasangan panel surya atap.
IEA mencatat, perjanjian pembelian listrik korporasi (corporate PPA), kontrak utilitas, dan pembangkit merchant kini menyumbang 30 persen dari ekspansi kapasitas energi terbarukan global hingga 2030—dua kali lipat dibanding proyeksi tahun lalu.
Di balik euforia pertumbuhan, ada risiko laten yang belum terpecahkan. Rantai pasok global untuk solar PV dan elemen tanah jarang—yang penting untuk turbin angin—masih sangat terkonsentrasi di China. Bahkan dengan investasi diversifikasi yang mulai muncul di berbagai negara, dominasi China pada segmen produksi kunci diperkirakan tetap di atas 90 persen hingga 2030.
Jaringan Listrik Mulai Kepayahan
Lonjakan energi terbarukan yang bersifat variabel juga menekan sistem kelistrikan. Fenomena curtailment dan harga listrik negatif mulai muncul di semakin banyak pasar. Ini tanda bahwa investasi di jaringan, penyimpanan energi, dan pembangkit fleksibel sudah mendesak.
Sejumlah negara merespons dengan lelang kapasitas dan penyimpanan baru. Namun, menurut IEA, langkah ini masih jauh dari cukup untuk memastikan integrasi energi terbarukan berjalan efisien dan aman.
Peran energi terbarukan di sektor transportasi dan pemanas pun diproyeksikan naik, meski tidak drastis. Di transportasi, pangsa energi terbarukan diperkirakan naik dari 4 persen menjadi 6 persen pada 2030, terutama didorong listrik terbarukan untuk kendaraan listrik di China dan Eropa. Biofuel menyumbang pertumbuhan di Brasil, Indonesia, India, dan pasar utama lainnya.
Sementara itu, pangsa energi terbarukan untuk pemanas bangunan dan industri global diperkirakan meningkat dari 14 persen menjadi 18 persen dalam periode proyeksi.
Intinya, energi terbarukan memang sedang ngebut menuju 2030. Tapi jalannya bukan jalan tol tanpa lubang. Tantangan kebijakan, jaringan, dan rantai pasok akan menentukan apakah laju ini bisa konsisten atau justru tersendat di tengah jalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.