KABARBURSA.COM – Peta impor nonmigas Indonesia pada paruh pertama 2026 berubah cukup mencolok. Jika selama ini China identik sebagai pemasok utama kebutuhan industri nasional, kini Australia ikut mencuri perhatian setelah nilai impor logam mulia dan perhiasannya melonjak tajam ke pasar Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tiga negara, yakni China, Jepang, dan Australia, masih menjadi penguasa utama pasar impor nonmigas Indonesia. Ketiganya menyumbang 52,69 persen dari total impor nonmigas nasional sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Di balik angka tersebut, Australia mencatat lonjakan yang mencolok. Nilai impor nonmigas dari negara itu mencapai USD5,02 miliar atau sekitar Rp85,34 triliun, dengan komoditas logam mulia dan perhiasan menjadi penyumbang terbesar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan pertumbuhan impor logam mulia dari Australia meningkat sangat tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Impor nonmigas dari Australia tercatat sebesar USD5,02 miliar atau sekitar Rp85,34 triliun, terutama didominasi oleh impor logam mulia dan perhiasan atau permata dengan kode HS 71 yang pangsanya mencapai 29,83 persen dan tumbuh sebesar 216,88 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ujar Ateng dalam konferensi pers daring, Rabu, 1 Juli 2026.
Sementara itu, China masih belum tergoyahkan sebagai pemasok barang terbesar bagi Indonesia. Nilai impor nonmigas dari Negeri Tirai Bambu mencapai USD39,27 miliar atau sekitar Rp667,59 triliun.
Menurut Ateng, impor dari China masih didominasi mesin dan peralatan mekanik yang terus mencatat pertumbuhan. "Impor dari China masih didominasi oleh mesin dan peralatan mekanik yang tumbuh sebesar 15,20 persen," kata Ateng.
Secara keseluruhan, kelompok komoditas mesin dan peralatan mekanik, mesin serta perlengkapan elektrik, dan plastik masih menjadi tulang punggung impor nonmigas Indonesia. Nilai impor mesin dan peralatan mekanik mencapai USD16,16 miliar atau sekitar Rp274,72 triliun. Adapun mesin dan perlengkapan elektrik sebesar USD13,95 miliar atau sekitar Rp237,15 triliun, sedangkan plastik mencapai USD4,92 miliar atau sekitar Rp83,64 triliun.
Ketiga kelompok komoditas tersebut menyumbang 37,31 persen terhadap total impor nonmigas Indonesia sepanjang lima bulan pertama 2026. Berbeda dengan Australia dan China yang mencatat kinerja positif, Jepang justru mengalami pelemahan. Nilai impor nonmigas dari Negeri Sakura tercatat sebesar USD5,17 miliar atau sekitar Rp87,89 triliun.
Komoditas andalan Jepang berupa mesin dan peralatan mekanik justru mengalami penurunan sebesar 18,79 persen secara kumulatif, menandai melemahnya kontribusi negara tersebut di pasar impor Indonesia.
Mengintip Pergerakan Harga di Balik Lonjakan Impor Indonesia
Di balik lonjakan nilai impor nonmigas Indonesia sepanjang awal 2026, terdapat dinamika lain yang tak kalah menarik, yakni perubahan harga berbagai komoditas di pasar internasional. Data BPS melalui Indeks Unit Value (IUV) menunjukkan kenaikan harga rata-rata barang impor menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhi besarnya nilai transaksi perdagangan Indonesia. IUV adalah Indeks harga rata-rata barang ekspor atau impor. Jadi, IUV indeks ini bukan mengukur berapa banyak barang yang diperdagangkan, melainkan mengukur apakah harga rata-rata barang tersebut naik atau turun dari waktu ke waktu.
Sepanjang Januari hingga April 2026, indeks unit value impor nasional terus menunjukkan tren meningkat. Indeks yang semula berada di level 92,20 pada Januari naik menjadi 105,34 pada April 2026. Kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa secara rata-rata harga barang impor yang masuk ke Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan awal tahun.
Salah satu komoditas yang mencatat kenaikan harga paling mencolok adalah kelompok logam mulia dan perhiasan atau HS 71. Pada April 2026, indeks unit value komoditas tersebut mencapai 246,28, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 164,54.

Pergerakan harga tersebut sejalan dengan meningkatnya nilai impor logam mulia Indonesia yang sebelumnya tercermin dalam data perdagangan Januari hingga Mei 2026. Kenaikan harga komoditas global ikut memperbesar nilai transaksi impor, terutama dari negara pemasok utama seperti Australia yang banyak mengekspor emas dan perhiasan ke Indonesia.
Sementara itu, kelompok mesin dan perlengkapan elektrik atau HS 85 menunjukkan arah yang berbeda. Meski masih menjadi salah satu penyumbang terbesar impor nasional, indeks harga komoditas ini justru mengalami koreksi. Pada April 2026, indeks unit value HS 85 tercatat sebesar 127,25, turun 15 poin dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 142,25.
Selain kedua kelompok tersebut, sejumlah komoditas lain juga mencatat kenaikan harga cukup tinggi secara bulanan.
Kelompok bahan kimia organik atau HS 29 menjadi yang tertinggi dengan kenaikan 15,85 poin menjadi 98,04. Disusul kelompok minuman, alkohol, dan cuka atau HS 22 yang meningkat 13,46 poin menjadi 117,04, serta barang fotografi dan sinematografi atau HS 37 yang naik 12,54 poin menjadi 108,85.
Di sisi ekspor, pergerakan harga menunjukkan pola yang berbeda. Indeks unit value ekspor Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 103,03 atau turun tipis 0,97 poin dibandingkan Maret 2026.
Penurunan terdalam terjadi pada kelompok logam mulia dan perhiasan atau HS 71 yang terkoreksi 22,24 poin menjadi 221,67. Sebaliknya, kelompok pohon hidup dan bunga potong atau HS 06 justru mencatat kenaikan paling tinggi dengan lonjakan indeks sebesar 96,24 poin menjadi 334,26.
Secara umum, fluktuasi indeks unit value mencerminkan perubahan harga berbagai komoditas di pasar internasional, sekaligus perubahan komposisi barang yang diperdagangkan dalam setiap kelompok HS. Untuk impor, nilai transaksi juga dipengaruhi metode penilaian Cost, Insurance, and Freight (CIF), sehingga biaya angkut dan asuransi turut membentuk harga barang yang masuk ke Indonesia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.