KABARBURSA.COM - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Timah Tbk (TINS) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp656,8 miliar atau 50 persen dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp1,31 triliun.
Jika mengacu pada jumlah saham beredar TINS sekitar 7,45 miliar lembar, maka dividen yang akan diterima investor diperkirakan berada di kisaran Rp88 per saham.
Dengan harga penutupan saham TINS pada perdagangan 12 Juni 2026 di level Rp3.300 per saham, maka dividend yield yang diperoleh investor berada di kisaran 2,6-2,7 persen.
Yield tersebut memang belum tergolong tinggi jika dibandingkan sejumlah emiten batu bara atau perbankan yang mampu menawarkan imbal hasil di atas 5 persen. Namun, bagi investor yang mengejar kombinasi pertumbuhan bisnis dan pendapatan dividen, angka tersebut masih cukup kompetitif.
Saham Naik 160 Poin
Yang menarik justru terlihat dari pergerakan sahamnya.
Pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, saham TINS melonjak 160 poin atau 5,10 persen ke level Rp3.300. Kenaikan ini diikuti transaksi senilai sekitar Rp142 miliar dengan volume mencapai 429,15 juta saham dan frekuensi hampir 10 ribu kali transaksi.
Data perdagangan juga memperlihatkan dominasi aksi beli. Nilai foreign buy mencapai sekitar Rp47,15 miliar, sedangkan foreign sell hanya sekitar Rp19,40 miliar sehingga tercatat net foreign buy sekitar Rp27,76 miliar.
Jika melihat pergerakan beberapa pekan terakhir, volatilitas TINS memang masih cukup tinggi. Saham ini sempat turun ke area Rp2.850 pada awal Juni sebelum kemudian bangkit dan bergerak menuju Rp3.300.
Dalam lima hari perdagangan terakhir, TINS membukukan kenaikan sekitar 4,8 persen, sedangkan dibandingkan titik terendah awal Juni, saham ini telah menguat lebih dari 15 persen.
Zona Resistensi TINS
Secara teknikal, area Rp3.300-3.380 menjadi zona resistensi penting karena merupakan level tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Jika mampu ditembus dengan volume yang besar, peluang menuju area Rp3.500 hingga Rp3.600 akan semakin terbuka.
Sebaliknya, area Rp3.150 hingga Rp3.200 kini berubah menjadi support terdekat yang perlu dijaga agar momentum kenaikan tetap bertahan.
Dari sisi fundamental, pembagian dividen sebesar 50 persen memberikan pesan bahwa kondisi kas perusahaan masih cukup sehat sekaligus menunjukkan komitmen manajemen untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.
Keputusan menyisakan Rp656,8 miliar sebagai laba ditahan juga dapat dipandang positif karena memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperkuat modal kerja dan mendukung pengembangan bisnis di tengah dinamika harga komoditas timah global.
Apakah saham TINS masih menarik?
Untuk investor yang mengejar strategi dividen murni, yield sekitar 2,7 persen mungkin bukan yang paling tinggi di Bursa Efek Indonesia.
Namun bagi investor yang mencari kombinasi antara potensi capital gain dan dividen, TINS masih memiliki daya tarik. Masuknya dana asing, momentum teknikal yang membaik, serta komitmen pembagian laba memberikan sentimen positif bagi saham ini.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan pergerakan harga timah dunia, permintaan industri elektronik, serta kondisi ekonomi global yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka menengah.
Untuk saat ini, TINS masih berada dalam fase yang menarik untuk dipantau. Dividen telah menjadi katalis awal, sementara arah tren berikutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan saham ini mempertahankan level Rp3.300 dan melanjutkan momentum akumulasi yang mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.