Logo
>

Sandiaga Uno Soroti Pentingnya Portofolio Hijau–ESG dalam Investasi

Founder Saratoga menilai arah investasi global kini bergeser ke ekonomi hijau dan ESG, dengan aset global mencapai USD30 triliun.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Sandiaga Uno Soroti Pentingnya Portofolio Hijau–ESG dalam Investasi
Sandiaga Salahuddin Uno selaku Founder PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melalui video daring untuk ajang Capitalk Smart Investor bertajuk

KABARBURSA.COM – Sandiaga Salahuddin Uno selaku Founder PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menyoroti pergeseran tren investasi berbasis ekonomi hijau.

Sandiaga Uno menilai, ekonomi hijau dalam investasi tengah menjadi tren global. Sebab bisnis kini harus dijalankan seiring dampak positif yang ditimbulkan terhadap lingkungan, artinya bukan sekadar mencari keuntungan saja.

Hal ini Sandi singgung melalui video daring untuk ajang Capitalk Smart Investor bertajuk "Membangun Portofolio Hijau Berkualitas Berkelanjutan Berbasis Data" yang diselenggarakan KabarBursa.com di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Jumat 27 Februari 2026.

"Para investor, pelaku industri keuangan, regulator, akademisi, dan seluruh peserta Capitalk 2026. Selamat datang, kini arah investasi global sekarang bergeser dari sekadar return menuju resilience sustainability and measurable social impact (Ketahanan, keberlanjutan, dan dampak sosial yang terukur)," ujarnya dalam pesan video, Jumat 27 Februari 2026.

Dalam ajang yang turut merayakan dua tahun anniversary KabarBursa.com tersebut, eks Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2020-2024 ini juga menyatakan, perkembangan tren global dalam bisnis sarat ramah lingkungan yang berdampak.

"Green portofolio bukan tren, tapi kebutuhan strategis. Green equals, grwoth engine. Growth engine berarti ekonomi hijau yang berpotensi menciptakan 3 juta green jobs secara nasional hingga 2030," sebut Sandiaga.

Ia kemudian membeberkan bahwa aset ESG (Environmental, Social, and Governance) global sekarang sudah 30 triliun US Dolar. Selain itu Sandiaga menyebut pentingnya ESG dalam menjaga keberlangsungan bisnis secara keberlanjutan.

"Dengan disiplin data, risk management ESG metrics, dalat menjaga stabilitas dan affordability jangka panjang. Resiliensi portofolio, diversifikasi sektor hijau, sektor esensial, dapat melindungi nilai aset kita yang saat ini sekarang sangat volatilitas," terangnya.

Sandiaga juga mendorong para pelaku bisnis dan segenap pihak untuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang produktif dengan pilar berbasis tiga "si".

"Jangan lupa tiga si framework yakni inovasi, adaptasi dan kolaborasi.
Inovasi teknologi, adaptasi modal, bisnis rendah karbon, dan kolaborasi publik dan swasta," ungkapnya.

"Kemudian percepat scale up dan social impact over fast money. Mari kita tetap disiplin secara capital management, spekulasi investasi produktif, membuka peluang usaha, menjaga harga terjangkau, dan memperluas inklusi ekonomi," sambung Sandi.

Ia juga mengajak para investor dan para pelaku bisnis untuk bekerja sama membangun portofolio hijau.

"Portofolio hijau kita tidak hanya menguntungkan tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan, memperluas kesempatan usaha, dan membawa dampak sosial yang berkelanjutan. Terima kasih," pungkas pria yang juga pernah menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2018 tersebut. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.