Logo
>

UGM Soroti Kinerja EBT 2025, PLTS Masih Didominasi Konsumen Pribadi

UGM menilai capaian EBT 2025 belum sesuai target, sementara pertumbuhan PLTS justru didominasi konsumen pribadi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
UGM Soroti Kinerja EBT 2025, PLTS Masih Didominasi Konsumen Pribadi
UGM soroti capaian EBT 2025 yang belum capai target, dengan pertumbuhan PLTS lebih banyak berasal dari konsumen pribadi. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Upaya transisi energi di Indonesia menunjukkan kemajuan, namun belum sepenuhnya sesuai harapan. Bauran energi baru dan terbarukan pada 2025 tercatat mencapai 15,75 persen, masih di bawah target yang telah disesuaikan di kisaran 17 hingga 19 persen.

Kontribusi terbesar masih datang dari pembangkit berbasis sumber daya alam konvensional dalam kategori energi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga air menjadi penyumbang utama dengan kapasitas 7.587 megawatt, disusul bioenergi sebesar 3.148 megawatt, panas bumi 2.744 megawatt, serta tenaga surya sebesar 1.494 megawatt.

Namun di balik angka tersebut, terdapat pola yang menarik. Kenaikan kapasitas tenaga surya justru lebih banyak didorong oleh inisiatif masyarakat dan sektor swasta, bukan dari proyek yang dirancang pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik.

Dosen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, Ahmad Agus Setiawan, melihat tren ini sebagai sinyal positif dari meningkatnya kesadaran publik terhadap energi bersih. “Saya mengapresiasi bahwa generasi muda kita sudah menyadari pentingnya energi baru dan terbarukan, terbukti dengan meningkatnya kapasitas PLTS dari konsumen pribadi,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat 27 Maret 2026.

Meski demikian, ia mengingatkan pertumbuhan tersebut tetap perlu berjalan selaras dengan kebijakan yang ditetapkan pemerintah agar tidak menimbulkan ketidakseimbangan dalam sistem energi nasional. Di sisi lain, minimnya tambahan kapasitas dari proyek pemerintah menjadi catatan tersendiri. Menurutnya, pencapaian target bauran energi tidak cukup hanya dikejar melalui angka, tetapi juga membutuhkan komitmen nyata dalam implementasi.

“Pemerintah harus menunjukkan komitmennya dengan eksekusi nyata di lapangan serta memberikan upaya yang lebih besar,” katanya.

Ia juga menilai perkembangan energi terbarukan di negara lain perlu dijadikan bahan evaluasi. Kemajuan yang terjadi di kawasan seharusnya menjadi dorongan untuk mempercepat transformasi energi di dalam negeri, bukan justru diabaikan. “Jangan sampai sinyal kemajuan energi terbarukan suatu negara diartikan dengan cara yang merugikan,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan dinilai menjadi kunci. Pengembangan energi terbarukan tidak hanya menyasar sisi pasokan, tetapi juga harus memperhatikan pemanfaatannya di sektor industri dan konsumen. Jika komitmen tersebut dapat diwujudkan secara nyata, peluang untuk menarik investasi asing di sektor energi bersih juga terbuka lebih lebar.

“Kita harus terus maju dan berkembang di lapangan dengan berbagai macam teknologi, baik teknologi dasar, tepat guna, hingga teknologi terbaru,” katanya.

EBT Tumbuh, Target Masih Jauh

Kinerja energi baru dan terbarukan Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan kemajuan, namun belum cukup untuk mengejar target yang telah ditetapkan pemerintah. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bauran EBT berada di level 15,75 persen. Angka ini masih tertinggal dari target yang telah direvisi ke kisaran 17 hingga 19 persen, bahkan lebih jauh lagi dari target awal sebesar 23 persen.

Selisih tersebut memperlihatkan bahwa persoalan transisi energi bukan sekadar pada ambisi target, melainkan pada kemampuan realisasi di lapangan. Penyesuaian target yang lebih rendah pun belum mampu dikejar, menandakan adanya kendala struktural dalam implementasi.

Jika ditarik ke belakang, tren pertumbuhan EBT juga menunjukkan laju yang relatif lambat. Pada 2023, bauran energi terbarukan berada di kisaran 13 hingga 14 persen. Setahun kemudian naik tipis ke sekitar 14,1 persen, sebelum mencapai 15,75 persen pada 2025. Kenaikan ini memang konsisten, tetapi belum mencerminkan akselerasi yang dibutuhkan untuk mencapai target jangka menengah.

Dalam logika transisi energi, pertumbuhan seharusnya bersifat eksponensial, bukan linear. Kenaikan yang bertahap seperti ini justru mengindikasikan bahwa dorongan kebijakan dan investasi belum cukup kuat untuk mempercepat adopsi energi bersih.

Di sisi lain, terdapat anomali yang menarik ketika melihat sektor ketenagalistrikan secara spesifik. Bauran EBT di sektor listrik justru telah mencapai sekitar 16,3 persen, melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional sebesar 15,9 persen. Artinya, pada sektor ini, pengembangan energi terbarukan relatif berjalan lebih progresif.

Namun capaian tersebut tidak tercermin dalam angka bauran energi nasional secara keseluruhan. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada satu sektor tertentu, melainkan pada struktur energi nasional yang masih didominasi oleh sumber energi fosil di luar sektor listrik, seperti transportasi dan industri.

Dengan kata lain, keberhasilan di sektor listrik belum cukup untuk mendorong percepatan transisi energi secara menyeluruh. Tanpa intervensi yang lebih luas di sektor non-listrik, target bauran energi terbarukan akan sulit tercapai.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).