[INFOGRAFIS] Dampak Kenaikan Suku Bunga BI ke Dunia Nyata
KABARBURSA - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) memberikan dampak langsung terhadap sektor konsumsi dan simpanan masyarakat. Salah satu yang paling terasa adalah pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama skema bunga mengambang yang mengikuti fluktuasi suku bunga. Saat BI Rate naik menjadi 6,25% pada April 2024, suku bunga KPR ikut meningkat dan mendorong naiknya cicilan bulanan debitur. Namun, kebijakan BI yang menahan suku bunga di level 5,75% pada Maret 2025 memberi ruang stabilitas, menjaga agar beban cicilan KPR tidak melonjak lebih jauh. Di sisi lain, kenaikan BI Rate juga memicu peningkatan suku bunga deposito, menjadikan produk simpanan ini lebih menarik sebagai pilihan investasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi.
Dampak suku bunga tinggi juga terasa signifikan di kalangan dunia usaha, khususnya perusahaan dengan utang besar. Kenaikan biaya pinjaman akibat tingginya suku bunga mempersempit margin keuntungan dan dapat menekan kinerja keuangan emiten berbasis utang, seperti BSDE, CTRA, dan PWON. Sebaliknya, sektor perbankan dan asuransi justru cenderung diuntungkan karena dapat menikmati margin lebih besar dari selisih antara bunga pinjaman dan bunga simpanan. Dengan menjaga BI Rate di 5,75%, Bank Indonesia menyeimbangkan kebutuhan menjaga nilai tukar dan inflasi, sembari tetap memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang masih berlanjut.