Logo

INFOGRAFIS Harga Batu Bara Global Melemah di Tengah Transisi Energi Dunia

Terbit pada 23 October 2025 Oleh: Redaksi KabarBursa.com
INFOGRAFIS Harga Batu Bara Global Melemah di Tengah Transisi Energi Dunia

KABARBURSA.COM - Harga batu bara global kembali tertekan di tengah sentimen negatif yang masih membayangi pasar energi dunia. Pada perdagangan Rabu, 22 Oktober 2025, harga batu bara di ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan depan ditutup di level USD103,7 per ton, turun 0,29 persen dari sesi sebelumnya, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung lama. Sepanjang sepekan terakhir, harga terkoreksi 2,03 persen dan sepanjang tahun telah anjlok 17,21 persen. Tekanan harga ini terutama dipicu oleh kelebihan pasokan global serta meningkatnya transisi menuju energi bersih, seiring negara-negara besar di Asia dan Eropa mempercepat kebijakan dekarbonisasi yang menekan permintaan terhadap energi fosil. Kajian McKinsey memperkirakan porsi energi fosil dalam bauran energi dunia akan turun menjadi 41–55 persen pada 2050 dari sekitar 64 persen saat ini, sementara energi terbarukan akan melonjak hingga 67 persen. Meski demikian, sinyal positif muncul dari pasar Asia, di mana permintaan batu bara dari China dan India mulai meningkat menjelang musim dingin, mendorong kontrak November dan Desember di Newcastle masing-masing naik menjadi USD106,7 dan USD108,25 per ton. Pasar Eropa juga menunjukkan pergerakan bervariasi, sementara stok batu bara India yang naik 31 persen berpotensi menekan impor jangka pendek. Secara teknikal, harga batu bara masih berada di zona bearish dengan RSI di level 41, namun indikasi oversold membuka peluang rebound jangka pendek. Beberapa analis memperkirakan potensi kenaikan terbatas menjelang akhir Oktober, dengan resistensi di USD107–108 per ton dan support di kisaran USD101–98 per ton. Di tengah tekanan global, pemerintah Indonesia mencatat kenaikan Harga Batu Bara Acuan (HBA) sebesar 3,33 persen pada awal Oktober, mencerminkan masih adanya daya tarik ekspor. Secara keseluruhan, pasar batu bara kini berada di persimpangan antara tekanan fundamental jangka panjang akibat transisi energi dan peluang teknikal jangka pendek yang muncul dari permintaan Asia menjelang musim dingin.