[INFOGRAFIS] Kenapa Banyak Startup RI Tutup di 2023–2024?
KABARBURSA - Industri startup di Indonesia menghadapi tekanan besar sepanjang 2023–2024, ditandai dengan penurunan drastis pendanaan dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Laporan DealStreetAsia mencatat bahwa nilai investasi ke startup Indonesia turun hingga 66% pada 2024, hanya mencapai US$437,8 juta dari sebelumnya US$1,3 miliar, dengan jumlah kesepakatan menyusut menjadi 85 transaksi. Kontribusi Indonesia terhadap pendanaan startup di Asia Tenggara juga melemah signifikan, dari 16,3% pada 2023 menjadi hanya 9,6% di 2024. Tech in Asia melaporkan total investasi US$764 juta sepanjang tahun tersebut—turun hampir 59% dari tahun sebelumnya—dipicu oleh suku bunga global yang tinggi, ketidakpastian ekonomi makro, dan pergeseran fokus investor dari pertumbuhan ke profitabilitas.
Situasi ini turut memicu gelombang PHK di sektor teknologi dan industri terkait. Perusahaan seperti GoTo, Shopee, Tokopedia-TikTok Shop, hingga JD.ID dan Ruangguru melakukan efisiensi besar-besaran, dengan ribuan karyawan terdampak. GoTo sendiri memecat lebih dari 1.900 karyawan, sementara Shopee mencatat total PHK lebih dari 6.500 orang sejak 2022. Di sisi lain, data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa industri manufaktur, jasa, dan perdagangan besar menjadi sektor paling terdampak, dengan puluhan ribu pekerja kehilangan pekerjaan. Fenomena ini menandai fase "tech winter" yang memaksa startup untuk meninjau ulang strategi bisnis dan mencari jalur keberlanjutan baru di tengah tekanan pendanaan dan pasar.