KABARBURSA.COM – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mempercepat pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional. Teknologi ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, produktif, dan berkelanjutan di sektor UMKM.
Pelaksana tugas Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, menegaskan Indonesia perlu berperan aktif dalam pengembangan ekosistem AI, tidak hanya sebagai pengguna teknologi.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi AI. Kita harus menjadi pemain aktif dalam membentuk ekosistem di mana AI memperkuat usaha dan memberdayakan pengusaha UMKM,” ujar Riza dalam keterangan tertulis dikutip, Rabu, 22 April 2026.
Menurut dia, pemanfaatan AI menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas akses ekonomi bagi pelaku usaha, termasuk di wilayah yang belum terjangkau layanan digital secara optimal.
Pendekatan ini, lanjut Riza, sejalan dengan kebijakan nasional pengembangan AI yang mengusung prinsip AI for Many.
Riza menjelaskan prinsip tersebut menekankan bahwa teknologi harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Pelaku UMKM di daerah rural dan wilayah underserved menjadi target utama dalam perluasan adopsi teknologi ini.
Dalam implementasinya, pemerintah mendorong dua akselerator utama, yakni Velocity of Money dan Velocity of Data. Konsep ini menjadi landasan dalam mempercepat digitalisasi sektor usaha kecil.
“Velocity of Money berkaitan dengan percepatan sistem pembayaran digital yang meningkatkan likuiditas usaha. Sementara Velocity of Data memanfaatkan AI untuk analisis data real-time dalam pengambilan keputusan,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan AI dalam analisis data juga berpotensi memperluas akses pembiayaan bagi UMKM. Dengan pemrosesan data yang lebih cepat dan akurat, lembaga keuangan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha.
Sebagai bagian dari program prioritas nasional, Kementerian UMKM telah meluncurkan sejumlah inisiatif untuk mempercepat transformasi digital. Salah satunya melalui platform SAPA UMKM yang menghubungkan pelaku usaha dengan akses pembiayaan, pendampingan, dan peluang pasar global.
Selain itu, program Entrepreneur Hub dikembangkan sebagai ruang kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas inovasi pelaku usaha melalui pendampingan intensif. Program ini juga mendorong penerapan teknologi dalam kegiatan bisnis sehari-hari.
Di sektor pembiayaan, pemerintah mengembangkan program Transformasi Finansial yang memanfaatkan AI dalam analisis kredit. Skema ini diarahkan untuk memperluas jangkauan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta memperkuat Sistem Informasi Kredit Program (SIKP).
Riza menekankan bahwa penguatan ekosistem digital tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi lintas sektor menjadi faktor utama dalam memastikan keberhasilan implementasi teknologi di tingkat pelaku usaha.
“Kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital terus diperkuat untuk menciptakan ruang digital yang aman, produktif, dan mendukung pengembangan usaha,” ujarnya.
Di tingkat regional, Indonesia juga terlibat dalam Program ASEAN MOVE yang bekerja sama dengan Tsinghua Southeast Asia Center. Program ini mendukung kesiapan digital dan praktik bisnis berkelanjutan bagi 100 pelaku UMKM dan startup di Asia Tenggara.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, pemerintah menargetkan adopsi teknologi, termasuk AI, dapat mendorong transformasi ekosistem kewirausahaan nasional.
Langkah ini diharapkan mendukung agenda pembangunan ekonomi, termasuk kedaulatan pangan dan hilirisasi industri berbasis teknologi pada periode 2026 hingga 2029.(*)