KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, 5 Juni 2026. Indeks utama bursa anjlok tajam sebesar 2,53 persen atau turun 147,63 poin menuju level 5.692,16.
Kejatuhan bursa saham Tanah Air ini dipicu langsung oleh aksi buang barang berskala raksasa dari para investor asing.
Berdasarkan data perdagangan bursa, investor asing mencatatkan nilai penjualan kotor atau foreign sell yang sangat fantastis mencapai Rp14,74 triliun. Angka pelepasan saham ini jauh melampaui nilai pembelian kotor asing atau foreign buy yang hanya tertahan pada level Rp12,69 triliun.
Akibatnya, pasar modal domestik harus menanggung nilai jual bersih asing atau net foreign sell secara total sebesar Rp2,05 triliun hanya dalam waktu setengah hari perdagangan.
Pergerakan indeks saham hari ini terpantau sangat fluktuatif dan terus tertekan sejak awal bel perdagangan berbunyi. IHSG sempat dibuka sedikit lebih tinggi pada posisi 5.846,49 dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level 5.839,79. Namun, laju indeks langsung merosot ke titik terendahnya pada level 5.673,93 sebelum akhirnya sedikit merangkak naik ke posisi penutupan sesi siang.
Tingginya aktivitas jual beli tergambar jelas dari total nilai transaksi bursa yang menembus angka Rp12,10 triliun pada paruh pertama. Investor secara aktif mentransaksikan lebih dari 159,24 juta lot saham di pasar reguler maupun negosiasi.
Derasnya aliran dana yang keluar secara masif ini membuat bursa saham domestik kesulitan untuk bangkit dari zona merah.
Saham BBCA Jadi Korban Terparah
Saham perbankan berkapitalisasi raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), menjadi korban paling parah dari aksi kabur dana asing ini. Investor luar negeri mencatatkan nilai jual bersih paling jumbo pada saham BBCA yang menembus angka Rp734,35 miliar. Volume saham yang dibuang oleh pemodal asing mencapai lebih dari 140,79 juta unit hanya dalam satu sesi perdagangan.
Gempuran aksi jual ini membuat harga saham BBCA terperosok cukup dalam sebesar 5,53 persen atau turun 300 poin. Saham bank swasta terbesar ini harus terparkir lemah pada level harga Rp5.125 per lembar pada penutupan sesi siang. Laju harga BBCA bahkan sempat menyentuh level terendah hariannya pada posisi Rp5.100 per lembar saham.
Total nilai transaksi yang berputar khusus pada saham BBCA menyentuh angka yang sangat besar yakni Rp1,74 triliun. Saham emiten perbankan lainnya seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut menjadi sasaran jual asing senilai Rp161,62 miliar.
Selain perbankan, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menderita tekanan jual asing terbesar kedua senilai Rp240,84 miliar.
Pemodal asing juga sangat agresif melepas saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Kedua emiten sektor pertambangan tersebut mencatatkan nilai jual bersih asing masing-masing sebesar Rp98,11 miliar dan Rp89,13 miliar.
Kondisi ini mempertegas bahwa arus keluar modal asing terjadi secara merata di berbagai sektor saham berkapitalisasi besar.
CGS International Sekuritas Dominasi Transaksi
Keriuhan transaksi bursa hari ini turut difasilitasi oleh sejumlah perusahaan perantara pedagang efek atau sekuritas berkapitalisasi besar. PT CGS International Sekuritas Indonesia yang memiliki kode broker YU memimpin sangat jauh dominasi transaksi pasar. Perusahaan sekuritas ini mencatatkan total nilai transaksi luar biasa yang menyentuh angka Rp11,02 triliun.
Pencapaian nilai transaksi broker YU tersebut meninggalkan jauh para pesaing terdekatnya di lantai bursa. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menempati urutan kedua dengan total nilai transaksi yang hanya mencapai Rp3,9 triliun. Posisi ketiga diisi oleh Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) yang memfasilitasi transaksi bernilai total Rp3,04 triliun.
Mandiri Sekuritas (CC) dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) melengkapi jajaran lima pialang teratas pada sesi perdagangan ini. Keduanya masing-masing sukses membukukan nilai perdagangan sebesar Rp2,85 triliun dan Rp2,48 triliun.
Tingginya angka transaksi antarbroker ini mengonfirmasi besarnya gejolak perpindahan aset di tengah anjloknya indeks saham gabungan.
Meski pasar didominasi oleh tekanan jual asing yang berat, beberapa saham berkapitalisasi menengah dan kecil justru berhasil menarik minat beli. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Timah Tbk (TINS) menempati daftar beli bersih teratas siang ini.
Keduanya meraup suntikan dana asing masing-masing senilai Rp13,86 miliar dan Rp13,19 miliar di tengah merahnya pasar modal nasional.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.