KABARBURSA.COM – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa realisasi investasi nasional sebesar Rp1.931 triliun pada 2025 menjadi fondasi utama bagi optimisme ekonomi Indonesia. Capaian ini juga mencerminkan kepercayaan kuat investor, baik asing maupun domestik.
“Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia tetap melangkah maju dengan optimisme kuat. Fundamental ekonomi yang solid diperkuat dengan kepercayaan berkelanjutan dari investor internasional,” ujar Airlangga dalam acara Stakeholders Networking: World Engineering Day 2026 di Jakarta Selatan, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Airlangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat naik 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy). Secara rinci, sektor manufaktur masih menjadi magnet utama investasi dengan pertumbuhan 5,54 persen dan berkontribusi 19,15 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun industri logam dasar, mesin dan peralatan, serta kimia dan farmasi menjadi sektor dengan kinerja paling menonjol.
Lebih lanjut, tambah Airlangga, peran investasi tidak hanya mendorong luaran (output), tetapi juga mempercepat transformasi industri menuju sektor bernilai tambah tinggi. Pemerintah pun mengarahkan investasi ke sektor strategis seperti industri tekstil berorientasi fesyen dan gaya hidup (lifestyle). Segmen ini akan direvitalisasi dengan dukungan pendanaan hingga USD6 miliar.
“Langkah ini diharapkan menjaga daya saing sekaligus memperkuat rantai pasok industri nasional,” tambah mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.
Selain itu, peluang investasi juga dibuka luas pada sektor energi bersih dan industri hijau, termasuk proyek waste to energy di berbagai daerah serta percepatan transisi energi melalui skema pembiayaan internasional seperti JETP. Pemerintah memastikan keterlibatan swasta dan investor global dilakukan secara transparan dan berkelanjutan.
Di sektor transportasi, Airlangga menyoroti potensi besar investasi pada kendaraan listrik (electric vehilce/EV). Hingga 2025, industri perakitan EV telah melibatkan lebih dari 80 entitas bisnis dengan kapasitas produksi melampaui 2,58 juta unit per tahun.
“Indonesia sudah memiliki ekosistem EV yang terintegrasi. Ini menjadi daya tarik kuat bagi investor sekaligus fondasi penting bagi pemanfaatan energi terbarukan,” ujarnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan strategi investasi pada industri semikonduktor dan teknologi tinggi, mulai dari desain hingga penguatan SDM. Kerja sama internasional terus diperluas untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global sektor teknologi.
Menutup pernyataannya, Airlangga menegaskan bahwa arus investasi akan terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui ekonomi hijau, digitalisasi, serta penguatan industri berbasis teknologi, sehingga Indonesia tetap kompetitif di tengah dinamika global.
BPS Ungkap Motor Ekonomi RI di Akhir 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan sejumlah faktor utama yang menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid pada kuartal IV 2025, meskipun terjadi bencana di beberapa wilayah Sumatera.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan 5,11 persen yoy pada kuartal IV 2025.
“Daya beli masyarakat tetap terjaga dan ada berbagai stimulus kebijakan ekonomi. Misalnya diskon tarif transportasi, yang mendorong mobilitas dan belanja masyarakat,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
BPS mencatat angkutan rel tumbuh 9,96 persen yoy, angkutan laut 9,8 persen, serta angkutan sungai, danau, dan penyeberangan sekitar 3,35 persen. Meski demikian, Amalia mengakui konsumsi di wilayah terdampak bencana Sumatera mengalami perlambatan bahkan kontraksi.
“Dampak bencana tidak merata nasional, hanya di beberapa provinsi. Nanti akan terlihat di rilis masing-masing BPS daerah,” jelasnya.
Dari sisi pengeluaran, motor kedua pertumbuhan berasal dari investasi (PMTB) yang tumbuh 6,12 persen pada kuartal IV 2025. Peningkatan ini didorong belanja barang modal, terutama mesin, perlengkapan, dan kendaraan yang masing-masing tumbuh 22,16 persen dan 7,29 persen secara tahunan.
Sementara itu, ekspor barang dan jasa turut menyumbang pertumbuhan sebesar 0,82 persen terhadap PDB Triwulan IV 2025. Komoditas utama ekspor nonmigas masih didominasi lemak dan minyak nabati, batu bara, besi, dan baja.
Amalia juga menyoroti peran sektor pariwisata dalam menggerakkan ekonomi daerah. Provinsi seperti Bali, NTB, dan DIY mencatat peningkatan pada sektor akomodasi, makanan-minuman, dan transportasi seiring naiknya wisatawan nusantara maupun mancanegara serta adanya berbagai event nasional dan internasional.
Selain itu, sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dari sisi produksi dengan pertumbuhan 5,40 persen, diikuti perdagangan yang tumbuh 6,07 persen, serta pertanian yang naik 5,14 persen berkat peningkatan produksi tanaman pangan, peternakan, dan perikanan.
BPS juga mencatat aktivitas ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut terekam dalam PDB, baik dari sisi pengeluaran maupun lapangan usaha, khususnya pada sektor penyediaan makanan dan minuman.
“Seluruh aktivitas ekonomi yang terjadi di masyarakat, termasuk program pemerintah, akan tercermin dalam perhitungan PDB kami,” tegas Amalia.
Meski mencatat pertumbuhan positif, BPS belum memberikan proyeksi untuk kuartal I 2026. Amalia menegaskan tugas BPS adalah mencatat realisasi ekonomi, yang hasilnya baru akan diumumkan pada Mei 2026. (*)
Reporter: Nadek