KABARBURSA.COM - Perekonomian China mulai memperlihatkan gejala perlambatan yang semakin nyata. Belanja masyarakat dan aktivitas investasi merosot ke level yang belum pernah terlihat sejak periode pandemi Covid-19, memunculkan kekhawatiran baru mengenai ketahanan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Kondisi ini terjadi ketika ekspor masih menikmati momentum pertumbuhan dan tensi geopolitik di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Data terbaru dari Biro Statistik Nasional China yang dirilis, menunjukkan penjualan ritel menyusut 0,6 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu jauh di bawah ekspektasi pasar dan menjadi kontraksi pertama sejak China membuka kembali aktivitas ekonominya setelah mencabut pembatasan ketat pandemi pada akhir 2022.
Di saat yang sama, sektor properti kembali menjadi sumber tekanan. Harga rumah mencatat penurunan yang lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya, sementara investasi aset tetap terkontraksi 4,1 persen dalam lima bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut juga meleset dari proyeksi para analis.
Di tengah pelemahan tersebut, sektor industri masih mampu menunjukkan daya tahan. Output industri tumbuh 4,5 persen pada Mei, meningkat dari 4,1 persen pada April dan sedikit melampaui perkiraan pasar. Tingkat pengangguran perkotaan juga turun menjadi 5,1 persen.
Kepala Ekonom Greater China ING Bank, Lynn Song, menilai kekuatan ekonomi China saat ini masih bertumpu pada sektor teknologi dan industri yang berorientasi ekspor. Namun di luar sektor-sektor tersebut, tekanan masih terasa cukup besar. Seperti dikutip bloomberg di Jakarta, Rabu 17 Juni 2026.
Menurutnya, sejumlah bidang usaha memang masih memperlihatkan performa yang solid, khususnya industri teknologi dan sektor yang menikmati permintaan ekspor. Akan tetapi, perekonomian secara keseluruhan masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Situasi itu berpotensi meningkatkan tekanan terhadap otoritas untuk melonggarkan kebijakan ekonomi guna menopang pertumbuhan.
Ledakan permintaan global terhadap produk berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu motor baru bagi ekspor China. Namun ketergantungan yang semakin besar terhadap pasar luar negeri juga menyoroti ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi domestik. Konsumsi rumah tangga masih tertahan akibat krisis berkepanjangan di sektor properti dan pemulihan pasar tenaga kerja yang belum sepenuhnya kokoh.
Tanpa kebangkitan permintaan domestik yang lebih kuat, risiko perlambatan ekonomi yang lebih tajam masih membayangi. Padahal, kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi membantu menjaga stabilitas perdagangan global sekaligus meredakan tekanan harga energi.
Data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan turut memicu diskusi mengenai reliabilitas sejumlah indikator resmi. Ekonom UBS Securities, Yu Song, menilai indeks produksi jasa memiliki hubungan yang lebih erat dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan data penjualan ritel yang lebih banyak menggambarkan konsumsi barang.
Ia juga menyoroti adanya anomali dalam data investasi aset tetap yang telah muncul sejak tahun lalu. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat pelemahan ekonomi terlihat lebih besar dibandingkan realitas yang terjadi di lapangan.
Meskipun demikian, banyak analis memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua akan berada di bawah target resmi pemerintah yang dipatok pada kisaran 4,5 hingga 5 persen. Sejumlah proyeksi bahkan menunjukkan pertumbuhan ekonomi sempat mendekati level 4 persen pada April.
Sentimen negatif investor langsung tercermin di pasar keuangan. Yuan offshore mengalami pelemahan setelah publikasi data tersebut, sementara indeks Hang Seng China Enterprises memperpanjang koreksi dengan turun sekitar 1,3 persen.
Dari sisi investasi, sektor swasta menjadi salah satu titik terlemah. Belanja modal perusahaan swasta anjlok 7,1 persen dalam lima bulan pertama tahun ini, menandai kontraksi terdalam sejak 2020. Investasi manufaktur bahkan mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
Meski demikian, sektor teknologi tinggi masih mampu mencatatkan pertumbuhan. Investasi di bidang teknologi maju meningkat 4,5 persen. Belanja modal industri semikonduktor naik 11 persen, sedangkan sektor baterai lithium melesat hingga 25 persen.
Juru Bicara Biro Statistik Nasional China, Fu Linghui, menjelaskan bahwa pelemahan investasi dan penjualan ritel dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari curah hujan yang tinggi, efek basis perbandingan yang besar akibat program subsidi pemerintah tahun lalu, hingga proses transformasi ekonomi menuju sumber pertumbuhan baru.
Menurut Fu, sejak memasuki kuartal kedua, sejumlah indikator ekonomi memang menunjukkan perlambatan seiring perubahan lingkungan global yang semakin kompleks serta penyesuaian struktural di dalam negeri. Meski sebagian perusahaan masih menghadapi tekanan, momentum ekonomi secara umum dinilai tetap berada dalam jalur yang relatif stabil.
Pada sektor konsumsi, produk-produk bernilai tinggi menjadi penyumbang utama penurunan penjualan. Penjualan kendaraan bermotor yang berkontribusi sekitar 8 persen terhadap total penjualan ritel turun 16 persen pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Namun apabila komponen penjualan mobil dikeluarkan, penjualan ritel sebenarnya masih mencatat pertumbuhan sebesar 1,1 persen.
Kinerja sejumlah sektor konsumsi lainnya juga melemah. Penjualan peralatan rumah tangga, bahan bangunan, dan perlengkapan dekorasi rumah mengalami kontraksi dua digit, mencerminkan masih lemahnya minat belanja masyarakat.
Tekanan dari sektor properti semakin memperburuk psikologi konsumen. Harga rumah baru maupun rumah bekas turun lebih dalam dibandingkan April. Sinyal pemulihan sejauh ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar yang menikmati limpahan investasi global pada industri kecerdasan buatan.
Data produksi industri juga memperlihatkan kesenjangan yang semakin lebar antara sektor teknologi mutakhir dan sektor ekonomi konvensional. Produksi manufaktur berteknologi tinggi melonjak 15 persen pada Mei, lebih cepat dibandingkan kenaikan 13 persen pada bulan sebelumnya.
Industri elektronik menjadi salah satu bintang pertumbuhan dengan lonjakan output mencapai 17 persen. Kinerja tersebut didorong oleh tingginya permintaan global terhadap perangkat keras dan komponen yang berkaitan dengan perkembangan teknologi AI.
Hingga saat ini, ekspor masih menjadi penopang utama ekonomi China. Gelombang investasi dunia dalam pengembangan kecerdasan buatan terus meningkatkan permintaan terhadap perangkat teknologi yang diproduksi pabrikan China.
Ekspor pada Mei tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga bulan terakhir. Produk semikonduktor dan komputer menyumbang hampir separuh pertumbuhan ekspor maupun impor, sementara ekspor chip melesat hingga 111 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Prospek perdagangan juga memperoleh angin segar dari membaiknya hubungan ekonomi antara Beijing dan Washington setelah kunjungan Presiden Donald Trump ke China.
Di sisi lain, para pengambil kebijakan tampaknya masih memilih pendekatan wait and see sebelum meluncurkan stimulus baru. Pemerintah bahkan tercatat mengurangi belanja publik pada Maret dan April seiring perlambatan penerbitan obligasi pemerintah.
Meski demikian, banyak ekonom menilai perekonomian domestik masih memerlukan dukungan tambahan. Pelonggaran moneter dan stimulus fiskal dinilai menjadi instrumen yang diperlukan untuk menghidupkan kembali konsumsi dan investasi.
Kepala Ekonom China Citic Bank International, Allen Ding, memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga dan rasio giro wajib minimum atau reserve requirement ratio (RRR) cukup besar pada paruh kedua tahun ini, terutama apabila harga minyak dunia kembali mengalami penurunan.
Menurutnya, pemulihan permintaan domestik tidak akan berlangsung optimal tanpa dukungan kebijakan yang lebih akomodatif. Kombinasi kebijakan moneter yang longgar dan stimulus fiskal yang lebih agresif masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas serta menopang pertumbuhan ekonomi China dalam jangka menengah.(*)