Logo
>

Sulawesi Jadi Fokus, Jerman Danai Koridor Energi Hijau dan Penguatan Jaringan Listrik

Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan atau Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dipimpin bersama Indonesia dan Jerman turut menjadi instrumen strategis

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Sulawesi Jadi Fokus, Jerman Danai Koridor Energi Hijau dan Penguatan Jaringan Listrik
Sulawesi Jadi Fokus, Jerman Danai Koridor Energi Hijau dan Penguatan Jaringan Listrik

KABARBURSA.COM - Hubungan bilateral antara Jerman dan Indonesia memasuki babak baru. Kedua negara sepakat mempererat kerja sama di bidang perdagangan, investasi, serta transisi energi berkelanjutan dalam kunjungan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta.

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Steinmeier menegaskan pentingnya membangun kemitraan yang dilandasi kepercayaan dan kepentingan bersama. Menurutnya, kondisi dunia saat ini ditandai oleh meningkatnya fragmentasi geopolitik, menurunnya tingkat kepercayaan antarnegara, serta menguatnya politik kekuasaan dan konflik di berbagai kawasan.

“Ada alasan sangat kuat yang membuat saya kembali lagi ke sini hari ini, di mana dunia tampaknya sedang terpecah belah dan ketidakpercayaan, politik kekuasaan dan kekerasan sedang meningkat di banyak tempat,” ujar Steinmeier dalam pernyataan yang dikutip Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.

Ia menilai hubungan yang kokoh antara Indonesia dan Jerman menjadi semakin relevan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian. Karena itu, ia menyambut baik kesepakatan kedua negara untuk memperluas kemitraan, tidak hanya dalam ranah politik, tetapi juga pada sektor ekonomi, pengembangan tenaga ahli, iklim, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Senada dengan itu, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste menyebut penguatan hubungan bilateral berlangsung pada saat tatanan global mengalami perubahan yang sangat cepat. Kehadiran Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA), menurutnya, berpotensi membuka ruang yang lebih luas bagi peningkatan ekspor dan investasi antara Indonesia dan Jerman.

Ia juga menyoroti gejolak harga energi dunia yang kembali mengemuka. Lonjakan harga minyak dan gas global, kata Beste, menjadi pengingat bahwa percepatan transisi menuju energi terbarukan tidak hanya penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi bagi ketahanan energi jangka panjang.

“Lonjakan harga minyak dan gas global yang terbaru juga menunjukkan bahwa kita memerlukan transisi ke energi terbarukan tidak hanya untuk melindungi iklim, tetapi juga untuk menjamin ketahanan energi,” ujarnya.

Menurut Beste, Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan atau Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dipimpin bersama Indonesia dan Jerman turut menjadi instrumen strategis dalam mempererat hubungan kedua negara. Melalui skema tersebut, kerja sama tidak lagi berhenti pada komitmen diplomatik, melainkan diwujudkan dalam berbagai proyek konkret.

Baru-baru ini, Indonesia dan sejumlah lembaga keuangan Jerman menyepakati dua perjanjian pendanaan yang diarahkan untuk memperkuat perdagangan dan investasi sekaligus mempercepat transisi energi bersih yang inklusif dan berkeadilan.

Perjanjian pertama berfokus pada peningkatan daya saing ekonomi dan iklim investasi dengan nilai mencapai 400 juta euro atau sekitar Rp8,2 triliun. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Bank Pembangunan Jerman KfW bersama Kementerian Keuangan Indonesia melalui Program Daya Saing, Modernisasi Industri, dan Percepatan Perdagangan atau Competitiveness, Investment, and Trade Acceleration (CITA).

Program CITA dirancang sebagai katalisator reformasi ekonomi nasional guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, sekaligus memperkuat keselarasan Indonesia dengan standar perdagangan dan investasi internasional.

Sementara itu, perjanjian kedua bernilai 302 juta dolar AS atau sekitar Rp5,35 triliun. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mendukung pembangunan pembangkit energi terbarukan dan penguatan jaringan listrik nasional. Penandatanganan dilakukan antara KfW dan PT PLN (Persero) melalui Program Accelerating Indonesia’s Clean Energy Transition.

Program tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam mempercepat transformasi sektor energi Indonesia. Fokusnya mencakup pengembangan energi terbarukan melalui modernisasi infrastruktur jaringan listrik, sekaligus mendorong ekspansi pembangkit tenaga surya dan angin di berbagai wilayah.

Tak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, program tersebut juga menekankan penerapan standar perlindungan lingkungan dan prinsip transisi yang adil bagi seluruh pemangku kepentingan yang terdampak.

Inisiatif ini merupakan bagian dari kontribusi Jerman dalam implementasi JETP Indonesia. Sejak awal 2025, Jerman mengambil peran sebagai pemimpin bersama Kelompok Mitra Internasional atau International Partners Group (IPG) bersama Jepang untuk mengawal percepatan agenda transisi energi nasional.

Dalam keterangan yang sama disebutkan bahwa Jerman telah menyatakan komitmennya untuk mengalokasikan dana sekitar 1 miliar euro atau setara Rp20,5 triliun bagi kerja sama pembangunan dengan Indonesia pada 2026.

Sebelumnya, pada Februari 2026, dua perjanjian pendanaan lainnya juga telah disepakati dan disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Direktur Jenderal untuk Asia, Eropa Tenggara dan Timur, Timur Tengah, dan Amerika Latin dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (BMZ), Christine Toetzke.

Kedua perjanjian tersebut berkaitan dengan proyek Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) dengan total nilai mencapai 308 juta euro atau sekitar Rp6,33 triliun.

Melalui proyek GECS, akan dibangun jaringan transmisi listrik bertegangan 275 kV yang membentang di Sulawesi Selatan. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu membuka akses terhadap potensi energi terbarukan yang melimpah di kawasan tersebut. Di sisi lain, GBDF dirancang untuk memperkuat pasar obligasi hijau Indonesia sehingga mampu menarik lebih banyak investasi berkelanjutan dari pasar global.

Secara keseluruhan, rangkaian inisiatif tersebut menjadi tonggak penting dalam implementasi JETP di Indonesia. Langkah-langkah itu tidak hanya mencerminkan komitmen kemitraan kedua negara, tetapi juga menghadirkan kemajuan yang terukur dalam mewujudkan sistem energi yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.