KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 18 poin ke level Rp17.211 pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Penguatan ini didorong angin segar dari konflik AS dan Iran.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assu’aibi mengatakan para pedagang mempertimbangkan gangguan pasokan terhadap potensi dimulainya kembali pembicaraan damai antara AS dan Iran. Menurutnya, hal ini dapat membantu membatasi gangguan tersebut.
"Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi diperkirakan akan tiba di Islamabad pada Jumat malam untuk membahas proposal untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan AS setelah pembicaraan gagal awal pekan ini," kata Ibrahim dalam keterangannya.
Ibrahim menyebut, Presiden AS, Donald Trump telah mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan dengan menteri luar negeri Iran.
Di satu sisi, Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang.
"Dalam usulan tersebut, Teheran menawarkan untuk menunda negosiasi nuklir demi fokus pada penyelesaian konflik," ungkap Ibrahim.
Ibrahim memandang, sebelumnya, pasar khawatir akan peningkatan eskalasi militer di kawasan tersebut, sehari setelah Iran merilis rekaman pasukan komando yang menaiki kapal kargo di Selat Hormuz.
Di satu sisi, sentimen penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh lembaga pemeringkat utang atau kredit global Moody's yang mengumumkan peringkat utang Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2 atau satu tingkat di atas batas investment grade (layak diinvestasi), namun dengan outlook rating direvisi dari stabil menjadi negatif.
Adapun untuk perdagangan besok, Selasa, 28 April 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.210- Rp17.260. (*)