KABARBURSA.COM - Indonesia berupaya memperkuat posisinya dalam rantai ekonomi halal global yang nilainya diproyeksikan menembus USD10 triliun pada 2030.
Melalui B57+ Asia Pacific Chapter, pelaku usaha dan institusi ekonomi Islam didorong membangun jejaring investasi dan perdagangan yang menghubungkan pasar domestik dengan kawasan Asia Pasifik.
Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia, Eka Sastra, mengungkapkan B57+ Asia Pacific Chapter diarahkan sebagai platform kolaborasi ekonomi yang mempertemukan pelaku usaha, institusi ekonomi Islam, investor, dan mitra strategis lintas negara.
Langkah tersebut difokuskan untuk memperkuat kelembagaan hingga program yang dijalankan, sehingga dapat memicu berbagai investasi di sektor ekonomi halal.
"Fokus awalnya adalah membangun fondasi kelembagaan, memperkuat jejaring anggota, dan menyiapkan program prioritas di sektor halal economy, trade, investment, Islamic finance, youth entrepreneurship, dan business matchmaking," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, belum lama ini.
Eka lalu menyebut Indonesia memiliki peran krusial bagi B57+. Selain menjadi kantor pusat regional B57+ Asia-Pasifik, Indonesia juga menjadi tempat penyelenggaraan beberapa agenda penting forum tersebut.
"Untuk Indonesia, agenda besarnya adalah menjadikan B57+ sebagai platform yang dapat menghubungkan potensi ekonomi umat nasional dengan jejaring kawasan Asia Pasifik. Indonesia sendiri sudah melakukan beberapa kegiatan, mulai dari deklarasi dan launching B57+ di awal Februari lalu. Halal Bihalal B57+ Indonesia yang diikuti oleh beberapa perwakilan pemerintah, organisasi bisnis dan organisasi kemasyarakatan dan publik secara umum," jelasnya.
Lebih lanjut, Eka mengungkapkan, B57+ Asia Pacific Chapter dianggap relevan bagi negara anggota OKI maupun non-OKI yang memiliki kepentingan besar dalam rantai nilai halal, perdagangan, investasi, logistik, teknologi, dan pasar Muslim global.
B57+ Asia Pacific Chapter juga ingin terus memperluas kehadirannya di beberapa negara non-OKI untuk mengembangkan sektor ekonomi halal di kawasan Asia-Pasifik (APAC).
"Karena itu, pendekatannya adalah inclusive economic platform, bukan platform politik atau keagamaan. Negara seperti Singapura, Australia, Selandia Baru, India, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina tetap strategis karena mereka memiliki kapasitas produksi, teknologi, pasar, investasi, dan konektivitas perdagangan yang penting bagi ekonomi halal kawasan," terang Eka.
Ia menambahkan, B57+ secara terbuka siap menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuka peluang-peluang baru dalam investasi ekonomi halal.
"Pada prinsipnya, B57+ membuka kerja sama dengan siapa pun yang ingin berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi halal, perdagangan etis, dan investasi produktif," kata Eka.
Bukan cuma itu, B57+ Indonesia juga berambisi menjadi penghubung antara potensi ekonomi umat Indonesia dengan jejaring bisnis global. "Fokus kami bukan hanya membangun forum, tetapi membangun ekosistem yang menghasilkan investasi, perdagangan, lapangan kerja, dan penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi halal dunia," paparnya.
Punya Prospek Menjanjikan
Bicara prospek, B57+ memproyeksikan potensi ekonomi halal global mencapai sekitar USD9,5 - 10,5 triliun pada 2030.
Indonesia punya peluang untuk memanfaatkan potensi tersebut. Sebab nilai ekspor produk halal Indonesia tahun 2024 mencapai sekitar USD51,4 miliar, atau tumbuh sebesar 1,70 persen secara tahunan (YoY).
Kemudian dalam State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025, Indonesia berada di posisi ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator.
"Ini menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi syariah Indonesia semakin diakui secara global," pungkas Eka.(*)