KABARBURSA.COM — Pasar kripto kembali melemah di tengah tekanan global yang belum mereda. Upaya Bitcoin menembus level psikologis tinggi kembali gagal. Hal ini menandakan sentimen pasar masih rapuh. Data terbaru menunjukkan kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 1,07 persen dalam 24 jam terakhir menjadi USD2,59 triliun (Rp43.771 triliun).
Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik hingga tekanan makroekonomi. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar. Kondisi ini diperparah oleh belum jelasnya arah hubungan kedua negara, meski gencatan senjata diperpanjang.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat dampaknya langsung ke perilaku investor. “Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat menyentuh level di atas USD79000, harga kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 2 persen ke kisaran USD78000,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2026.
Penurunan harga ini tidak berdiri sendiri. Tekanan semakin kuat setelah terjadi likuidasi besar di pasar derivatif. Total posisi yang terlikuidasi mencapai sekitar USD278 juta (Rp4,7 triliun). Aksi jual yang meningkat akibat likuidasi ini mempercepat penurunan harga dalam jangka pendek, sekaligus menunjukkan rapuhnya momentum kenaikan sebelumnya.
Sejalan dengan Bitcoin, sejumlah altcoin juga ikut tertekan. Ethereum, XRP, hingga Solana dan Cardano mengalami penurunan, mencerminkan turunnya minat investor terhadap aset berisiko. Di sisi lain, dominasi Bitcoin justru naik hingga sekitar 60 persen. Ini menjadi sinyal bahwa investor mulai beralih ke aset yang dianggap lebih defensif di dalam ekosistem kripto.
Tekanan pasar juga datang dari sisi regulasi, khususnya di Amerika Serikat. Ketidakpastian terkait arah kebijakan aset digital membuat investor memilih menahan posisi. Fyqieh menilai kondisi saat ini masih dalam fase penyesuaian.
“Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh tekanan teknikal seperti likuidasi besar di pasar derivatif serta aksi profit taking dari investor jangka pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi,” ujarnya.
Meski tekanan masih kuat, pasar kripto dinilai belum kehilangan fondasi. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tertentu, peluang pemulihan tetap terbuka. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis USD75000, peluang untuk pemulihan masih terbuka,” ujar Fyqieh.
Namun, untuk kembali naik secara berkelanjutan, pasar membutuhkan dukungan yang lebih kuat, mulai dari likuiditas hingga permintaan baru dari investor. Tanpa itu, kenaikan harga dinilai berpotensi hanya sementara dan mudah terkoreksi kembali.
Pergerakan harga di pasar kripto turut memperkuat sinyal bahwa tekanan masih berlangsung. Data Trading Economics menunjukkan Bitcoin bergerak di kisaran USD77500 (Rp1,31 miliar) dengan pelemahan harian mendekati 1 persen.
Dalam pergerakan intraday, Jumat, 24 April 2024, harga sempat berfluktuasi cukup tajam. Bitcoin sempat naik mendekati level USD78500 sebelum kembali tertekan dan turun ke area USD77500. Pola ini mencerminkan pasar yang belum menemukan arah yang solid, dengan tekanan jual masih cukup dominan.
Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga menunjukkan pola serupa. Ethereum turun sekitar 0,95 persen ke level USD2309 (Rp39 juta), sementara Solana dan XRP ikut terkoreksi masing-masing di kisaran USD85 (Rp1,4 juta) dan USD1,42 (Rp23.998).
Altcoin lain bahkan mencatat pelemahan lebih dalam secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mencerminkan lemahnya minat risiko dalam periode yang lebih panjang. Kondisi ini mempertegas pergeseran perilaku investor. Di tengah ketidakpastian global, dana cenderung mengalir ke aset yang dianggap lebih defensif, dengan Bitcoin tetap menjadi pilihan utama dibanding altcoin.(*)