Logo
>

Alarm dari Cadangan Devisa, Rupiah Makin Berat

Pelemahan rupiah ke level Rp18.187 per dolar AS terjadi di tengah penurunan cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Alarm dari Cadangan Devisa, Rupiah Makin Berat
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 151 poin ke level Rp18.187 pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah hari ini tidak lepas dari cadangan devisa Indonesia yang menyusut pada akhir Mei 2026.

Menurut Ibrahim, sentimen juga datang dari kegelisahan pasar atas agenda pengeluaran besar-besaran pemerintah terhadap program politik yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa ( Kopdes) Merah Putih, membuat devisit neraca transaksi berjalan melebar.

"Pelebaran devisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surflus perdagangan Indonesia," ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Di samping itu, kata Ibrahim, pemerintah harus menghitung ulang dengan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah setelah penutupan selat hormuz  di Timur Tengah oleh Iran.

"Sehingga kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat hutang pemerintah semakin membengkak," ujarnya.

Dari luar negeri, sentimen datang dari tensi geopolitik yang kembali memanas paska serangan Israel yang kembali di Lebanon sehari sebelumnya, tetapi juga semakin menguat setelah terdengar suara ledakan di Iran.

"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan yang mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," tuturnya.

Sedangkan untuk perdagangan besok, Selasa, 9 Juni 2026, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp18.180- Rp18.230.

Cadangan Devisa Menyusut di Mei 2026

Posisi cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan pada akhir Mei 2026. Penyusutan ini disebabkan oleh beberap aktivitas.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tercatat USD144,9 miliar.

"Lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2026 sebesar USD146,2 miliar," ujar dia dalam keterangannya, Senin, 8 Juni 2026.

Ramdan menyampaikan perkembangan cadangan devisa Mei 2026 dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

"Di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik," katanya.

Secara keseluruhan, Ramdan menyatakan posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," tuturnya.

Ke depan, kata dia, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ungkapnya.

Di sisi lain, BI menyampaikan Uang Primer (M0) Adjusted pada Mei 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 14,2 persen year on year (yoy). Catatan ini melanjutkan pertumbuhan pada April 2026 sebesar 14,3 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.214,6 triliun.

Ramdan menyebut, perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen (yoy).

"Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 Adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted)," pungkasnya. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.