Logo
>

Liputan Khusus Bagian II: Jejak APBN RI, Badai 1998, Refocusing Covid-19 dan Rekor 2025

Instrumen fiskal ini berevolusi dari sekadar alat bertahan hidup saat krisis menjadi peredam kejut sekaligus penggerak utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Ditulis oleh Syahrianto
Liputan Khusus Bagian II: Jejak APBN RI, Badai 1998, Refocusing Covid-19 dan Rekor 2025
Jejak APBN RI, Badai 1998, Refocusing Covid-19 dan Rekor 2025

KABARBURSA.COM – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami transformasi fungsi yang radikal dalam tiga dekade terakhir yang bisa dianggap menjaga stabilitas ekonomi nasional. Instrumen fiskal ini berevolusi dari sekadar alat bertahan hidup saat krisis menjadi peredam kejut sekaligus penggerak utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Presiden ke-7 Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), menyatakan bahwa instrumen fiskal negara berulangkali menjadi benteng pertahanan terakhir. Anggaran negara terbukti harus selalu antisipatif, responsif, dan sangat fleksibel dalam merespons berbagai ketidakpastian global yang mengancam ekonomi domestik.

"Di tengah tantangan yang berat, APBN telah bekerja keras sebagai peredam kejut atau shock absorber untuk melindungi rakyat. Subsidi dan kompensasi energi diperbesar hingga ratusan triliun rupiah agar daya beli masyarakat tetap terjaga," tegas Jokowi mengulas fungsi krusial anggaran negara dalam masa jabatannya, dikutip Minggu, 7 Juni 2026.

Catatan sejarah panjang birokrasi menunjukkan postur belanja negara terus menyesuaikan diri dengan dinamika zaman yang sangat fluktuatif. Kabarbursa.com membedah per periode terpilih yakni sepanjang 1998, era pandemi Covid-19, dan tahun 2025.

Seperti Apa Postur dan Peran APBN Sepanjang 1998?

Pada tahun 1998, struktur APBN sepenuhnya mencerminkan kepanikan massal dan rentetan upaya penyelamatan dari badai krisis finansial Asia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam perekonomian Indonesia saat itu terkontraksi sangat dalam hingga minus 13,7 persen. Tingkat inflasi nasional juga meroket tajam menyentuh level 77,53 persen akibat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) yang jatuh sangat ekstrem.

Presiden Soeharto kala itu terpaksa merevisi rancangan APBN 1998/1999 hingga empat kali karena asumsi makroekonomi yang terus meleset jauh. "Rancangan APBN ini disusun dengan menyadari sepenuhnya kenyataan pahit bahwa pertumbuhan ekonomi akan mengalami kemerosotan tajam," ujar Soeharto dalam penyampaian keterangan pemerintah awal tahun 1998.

Kondisi tersebut membuat target pendapatan negara dipatok sangat terbatas pada angka Rp88,06 triliun. Penerimaan negara ini ditopang utamanya oleh sektor perpajakan yang ditargetkan mampu menyumbang dana sebesar Rp66,04 triliun. 
Namun realisasi belanja negara membengkak hebat hingga menembus angka Rp147,22 triliun di akhir periode krisis tersebut. Pembayaran bunga utang pemerintah menyedot porsi paling dominan sebesar Rp35,0 triliun akibat hancurnya nilai tukar mata uang domestik.

Tongkat estafet pengelolaan krisis kemudian berlanjut ke tangan Presiden B.J. Habibie yang langsung merombak prioritas postur pengeluaran negara. Habibie menegaskan bahwa APBN harus disesuaikan secara drastis dengan memprioritaskan penyediaan kebutuhan pokok dan jaring pengaman sosial.

Pemerintah transisi mengalokasikan suntikan dana darurat sebesar Rp28,5 triliun khusus untuk menyubsidi sembako dan bahan bakar minyak. Belanja pegawai negara tercatat menelan biaya Rp15,3 triliun, sementara pos belanja pembangunan tersisa sebesar Rp45,4 triliun yang difokuskan pada program padat karya pertanian. 
Rincian angka tersebut menyimpulkan bahwa postur APBN saat itu murni beroperasi dalam mode bertahan hidup jangka pendek. Tingginya beban subsidi senilai Rp28,5 triliun menjadi bukti empiris bahwa ruang fiskal tersandera untuk meredam gejolak sosial, bukan membiayai investasi pertumbuhan ekonomi.

Selama dua dekade setelah badai krisis Asia tersebut berlalu, struktur keuangan negara perlahan disehatkan menuju batas defisit yang normal. Pemerintah berhasil mendisiplinkan tata kelola anggaran ini secara konsisten sebelum akhirnya kembali dihantam oleh krisis global berskala lebih masif.

Guncangan Covid-19: Refocussing Total Fungsi APBN

Ujian berskala raksasa berikutnya bagi sistem ketahanan fiskal nusantara muncul saat pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi global pada 2020.  
Pemerintah pusat merombak total fungsi APBN menjadi instrumen penyelamat nyawa masyarakat dan pemulihan berbagai sektor industri.

Jokowi langsung menerbitkan payung hukum darurat untuk memperlebar batas defisit anggaran melampaui batas wajar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kebijakan pelebaran defisit hingga 6,14 persen atau setara Rp947,6 triliun ini memicu realisasi belanja negara melonjak tinggi ke angka Rp2.595,4 triliun pada tahun 2020.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa pendapatan negara tahun 2020 hanya mampu terkumpul sebesar Rp1.647,7 triliun. Ruang fiskal kemudian difokuskan pada sektor perlindungan sosial yang menyerap dana raksasa mencapai Rp498,0 triliun untuk mencegah ledakan kemiskinan.

Alokasi pendidikan pada tahun pertama pandemi tersebut juga masih mendominasi dengan realisasi serapan sebesar Rp473,7 triliun. Diikuti oleh belanja infrastruktur dasar senilai Rp307,3 triliun, kesehatan sebesar Rp172,3 triliun, serta guyuran subsidi dan kompensasi mencapai Rp190,0 triliun.

Kebijakan ekspansif berlanjut pada 2021 dengan total realisasi pendapatan membaik ke angka Rp2.003,1 triliun. Pemerintah menggelontorkan belanja negara senilai Rp2.786,8 triliun, sehingga defisit mulai menyusut menjadi Rp783,7 triliun atau 4,65 persen dari PDB.

Sektor kesehatan mengambil alih panggung utama pada tahun 2021 dengan lonjakan anggaran mencapai Rp312,4 triliun. Dana fantastis tersebut dihabiskan untuk membiayai perawatan jutaan pasien Covid-19, pengadaan vaksinasi massal, dan insentif tenaga medis. Meski fokus pada kesehatan, sektor pendidikan pada 2021 tetap mendapat jatah yang sangat besar yaitu Rp479,6 triliun dan perlindungan sosial menyusul di angka Rp468,2 triliun. Proyek infrastruktur strategis menyerap dana sebesar Rp402,8 triliun, sementara subsisdi mulai merangkak naik ke level Rp243,0 triliun.

Titik balik pemulihan ekonomi terjadi pada tahun 2022 saat penerimaan negara melesat menjadi Rp2.626,4 triliun berkat ledakan harga komoditas global. Namun, tingginya harga minyak dunia memaksa pemerintah mencetak rekor belanja negara hingga menembus angka Rp3.090,8 triliun.

Sektor kompensasi dan subsidi energi domestik menjadi biang keladi pembengkakan belanja tahun 2022 dengan serapan dana mencapai Rp551,2 triliun. Langkah drastis ini mengamankan daya beli masyarakat, sehingga realisasi pendidikan terjaga di Rp472,6 triliun dan perlindungan sosial terserap Rp460,6 triliun.

Alokasi infrastruktur dan kesehatan pada 2022 mulai menurun menuju kondisi normal dengan serapan masing-masing Rp366,8 triliun dan Rp176,7 triliun. Strategi subsidi energi yang masif sukses menekan defisit anggaran akhir jauh di bawah target menjadi hanya Rp464,3 triliun atau 2,38 persen dari PDB.

Angka realisasi tersebut mengonfirmasi secara kuantitatif tingkat keberhasilan program konsolidasi fiskal pascapandemi. Pencapaian defisit 2,38 persen menjadi bukti matematis bahwa pemerintah sukses mengembalikan ketahanan instrumen keuangan negara secara disiplin mematuhi batas aman undang-undang.

Fondasi makroekonomi yang kembali sehat ini otomatis memberikan ruang manuver anggaran yang sangat leluasa bagi pemerintahan selanjutnya. Bantalan fiskal tersebut menjadi modal krusial untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus mengeksekusi berbagai kebijakan baru pada masa pergantian rezim.

Era Prabowo Subianto: Postur APBN 2025 Pengawal Transisi Strategis

Lompatan fungsi pengelolaan fiskal ini berlanjut pada pelaksanaan anggaran penuh tahun 2025 yang menjadi jembatan transisi kepemimpinan. Pemerintah mendesain APBN transisi ini secara kokoh untuk merawat kesinambungan proyek lama sekaligus mendanai program pemerintahan baru.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pentingnya efisiensi tingkat tinggi dan ketepatan sasaran dalam tata kelola anggaran.  

"Anggaran negara harus, dan saya tegaskan kembali, harus sepenuhnya dikelola untuk kemakmuran rakyat termasuk memastikan ketahanan pangan dan energi," tegas Prabowo di hadapan parlemen dikutip dari laman Sekretariat Presiden.

Data menunjukkan target pendapatan negara tahun 2025 dipatok sebesar Rp3.005,1 triliun, namun realisasi akhirnya ditutup pada angka Rp2.756,3 triliun. Sementara itu, total serapan belanja negara tercatat fantastis mencapai Rp3.451,4 triliun guna membiayai transisi strategis tersebut.

Postur besar ini bermuara pada realisasi defisit anggaran yang sedikit melebar namun tetap aman di angka Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB. Angka ini menegaskan kedisiplinan pemerintah menjaga mandat undang-undang keuangan negara meski diwarnai tingginya berbagai tuntutan fiskal.

Sektor pendidikan memegang porsi alokasi tertinggi di tahun 2025 dengan realisasi akhir menyentuh rekor Rp660,5 triliun. Dana pembangunan sumber daya manusia ini banyak dialirkan untuk perbaikan fasilitas sekolah, kesejahteraan guru, dan program gizi.

Belanja perlindungan sosial masih memegang peranan krusial dengan realisasi anggaran sebesar Rp496,2 triliun untuk keluarga rentan. Sementara itu, penyelesaian pembangunan IKN dan infrastruktur daerah memakan alokasi biaya hingga Rp390,4 triliun.

Pemerintah juga membakar dana Rp350,5 triliun untuk mempertahankan subsidi energi di tengah dinamika pasar global. Sektor pertahanan dan keamanan tak luput mendapat atensi besar dengan serapan mencapai Rp320,1 triliun demi modernisasi alutsista nasional.

Kesiagaan fiskal 2025 juga terlihat dari alokasi kesehatan yang menyerap Rp195,8 triliun, dan sektor ketahanan pangan memakan biaya Rp115,3 triliun. Rekam jejak panjang ini membuktikan instrumen keuangan negara berhasil dipertahankan sebagai pilar utama kedaulatan bangsa.

Distribusi serapan anggaran tahun 2025 tersebut mengonfirmasi secara kuantitatif dominasi mutlak negara pada investasi sumber daya manusia, di mana akumulasi sektor pendidikan dan perlindungan sosial menyedot porsi raksasa senilai Rp1.156,7 triliun.  

Di sisi makro, capaian defisit pada level 2,92 persen juga membuktikan bahwa meskipun pemerintah menghadapi kekurangan (shortfall) target pendapatan hingga Rp248,8 triliun, kedisiplinan mematuhi batas aman fiskal tetap tidak tertembus di tengah masifnya beban pembiayaan transisi kepemimpinan nasional.

Dinamika Penerimaan Negara dan Berkah Sektor Komoditas

Penerimaan negara selalu menjadi cermin utama kondisi pergerakan ekonomi riil dan aktivitas perdagangan internasional.  

Pada masa krisis moneter 1998, penerimaan negara hancur seiring bangkrutnya sektor korporasi besar akibat beban utang valuta asing.

Situasi berbalik seratus delapan puluh derajat saat Indonesia memasuki era pascapandemi khususnya pada fase konsolidasi tahun 2022. Lonjakan harga komoditas global atau commodity boom memberikan berkah penerimaan yang luar biasa berlimpah bagi kas negara.

Kementerian Keuangan mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada periode tersebut melonjak tajam hingga menembus angka Rp595,6 triliun. Angka penerimaan fantastis ini didorong sangat kuat oleh setoran sektor energi primer seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.

Penerimaan kepabeanan dan cukai juga ikut terkerek signifikan berkat tingginya volume ekspor industri minyak kelapa sawit mentah. Tingginya harga komoditas andalan Indonesia ini sukses menambal beban subsidi energi yang saat itu sangat membebani APBN.

Memasuki tahun anggaran 2025, pemerintah memproyeksikan pergerakan penerimaan negara kembali pada level normalisasi pertumbuhan ekonomi. Penerimaan perpajakan dipatok sangat dominan mencapai angka Rp2.490,9 triliun sebagai tulang punggung utama pembiayaan proyek pembangunan nasional. 
Pemerintah mulai secara konsisten mengurangi ketergantungan pendapatan dari fluktuasi harga komoditas energi di pasar internasional. Strategi diversifikasi ini diambil khusus untuk memitigasi risiko volatilitas harga minyak mentah yang seringkali tidak dapat diprediksi secara pasti.

Manajemen Utang dan Kedisiplinan Keseimbangan Primer

Sisi pembiayaan atau sistem manajemen utang merupakan indikator paling krusial dalam menilai tingkat kesehatan instrumen APBN. Krisis tahun 1998 memberikan pelajaran empiris yang sangat berharga tentang bahaya tumpukan utang luar negeri yang tidak terkendali.

Rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto pada masa krisis tersebut melonjak sangat drastis akibat pelemahan kurs yang fatal. Pemerintah terpaksa menelan pil pahit dengan menerbitkan obligasi rekapitalisasi bernilai ratusan triliun rupiah demi menyelamatkan operasional sistem perbankan.

Trauma krisis moneter tersebut melahirkan aturan perundang-undangan ketat yang membatasi rasio utang maksimal negara sebesar 60 persen. Pemerintah terbukti sangat disiplin mematuhi batas aman ini meskipun dihadapkan pada situasi krisis pandemi kesehatan global yang mengerikan.

Rasio utang pemerintah pada pembukaan pascapandemi tercatat sangat aman pada kisaran 39,57 persen dari total produk domestik bruto.

Rasio ketahanan utang Indonesia ini jauh lebih tangguh dan rendah dibandingkan mayoritas negara berkembang maupun negara maju lainnya. Pemerintah melanjutkan tren kedisiplinan fiskal tersebut pada rancangan pelaksanaan anggaran transisi tahun 2025 yang sangat masif.

Kementerian Keuangan menargetkan indikator keseimbangan primer kembali mencetak posisi surplus atau setidaknya bergerak mendekati angka nol mutlak. 
Keseimbangan primer yang terhitung positif menandakan bahwa pemerintah secara riil mampu membayar cicilan bunga utang murni dari pendapatan negara. 
Kondisi ini membuktikan bahwa penarikan surat utang baru benar-benar dialokasikan murni untuk kegiatan produktif, bukan sekadar melunasi kewajiban masa lalu.

Penguatan Ketahanan Pangan dan Transformasi Ekonomi Jangka Panjang

Alokasi tematik APBN 2025 menunjukkan secara jelas adanya pergeseran paradigma pemerintah yang mulai memprioritaskan aspek kemandirian dasar. 
Ketahanan pangan tidak lagi dipandang secara sempit sebagai isu sektoral semata, melainkan pilar utama ketahanan ekonomi dan pertahanan nasional. Suntikan dana raksasa sebesar Rp115,3 triliun disiapkan untuk menggaransi ketersediaan bahan pokok bergizi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Anggaran ini membiayai kelancaran skema distribusi subsidi pupuk, peresmian pembangunan bendungan raksasa, hingga pengembangan kawasan lumbung pangan baru.

Integrasi program ketahanan pangan strategis dengan program makan siang bergizi menciptakan efek pengganda atau multiplier effect ekonomi lokal. Rantai pasok bahan baku makanan dari kalangan petani lokal akan terserap maksimal oleh program berskala nasional ini setiap harinya.

Langkah strategis berjangka panjang ini juga diyakini mampu menekan rasio angka impor bahan pangan dasar secara persentase signifikan pada masa depan. Penghematan arus devisa negara dari skenario pengurangan impor pangan akan semakin memperkuat posisi fundamental nilai tukar mata uang Rupiah.

Perjalanan panjang rekam jejak APBN mendokumentasikan dengan jelas bagaimana negara ini mampu bertahan, bangkit tegak, dan merencanakan masa depan. Kedisiplinan ketat dalam pengelolaan sistem keuangan menjadi warisan berharga untuk memastikan roda ekonomi terus melaju stabil secara berkelanjutan.(*) 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.