Logo
>

RUPS ELSA Putuskan Dividen Rp44,29, Saham Ditutup Rontok

RUPST ELSA menyetujui dividen Rp44,29 per saham, tertinggi dalam sejarah perseroan. Namun di tengah kabar positif tersebut, saham ELSA justru ditutup turun 3,48 persen dengan antrean jual yang masih mendominasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
RUPS ELSA Putuskan Dividen Rp44,29, Saham Ditutup Rontok
Jika dihitung per saham, investor akan menerima dividen ELSA sebesar Rp44,29, lebih tinggi sekitar 13 persen dibandingkan dividen tahun sebelumnya. (Foto; dok ELSA)

KABARBURSA.COM - PT Elnusa Tbk (ELSA) kembali memanjakan pemegang sahamnya. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Senin, 8 Juni 2026, perseroan menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp323,28 miliar atau 45 persen dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp718,4 miliar.

Jika dihitung per saham, investor akan menerima dividen sebesar Rp44,29, lebih tinggi sekitar 13 persen dibandingkan dividen tahun sebelumnya yang sebesar Rp39,11 per saham.

Bukan hanya naik dibandingkan tahun lalu, angka tersebut juga menjadi dividen tertinggi sepanjang sejarah ELSA.

Rekam Jejak Dividen yang Semakin Dermawan

Jika melihat perjalanan dividen dalam beberapa tahun terakhir, ELSA menunjukkan tren yang cukup menarik. Pada 2021, perseroan membagikan dividen Rp10,24 per saham. Setahun kemudian jumlahnya turun menjadi Rp7,45 seiring kondisi bisnis yang belum sepenuhnya pulih.

Namun sejak 2023, cerita ELSA berubah. Dividen melonjak menjadi Rp25,90, kemudian naik lagi menjadi Rp27,57 pada 2024, berlanjut ke Rp39,11 pada 2025, dan kini mencapai Rp44,29 per saham.

Artinya, dalam tiga tahun terakhir dividen ELSA meningkat lebih dari 70 persen, mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang semakin baik sekaligus menjaga komitmen terhadap pemegang saham.

Jika ditarik lebih jauh, ELSA juga memiliki rekam jejak pembagian dividen yang cukup konsisten sejak lebih dari satu dekade lalu. Bahkan ketika nominalnya masih berada di kisaran Rp1 hingga Rp10 per saham, perusahaan tetap mempertahankan tradisi membagikan keuntungan kepada investor.

Sebagian Laba Tetap Disimpan untuk Ekspansi

Meski meningkatkan dividen, ELSA tidak mengorbankan kebutuhan ekspansi. Sebesar Rp395,12 miliar atau sekitar 55 persen laba bersih ditetapkan sebagai saldo laba ditahan yang akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis dan operasional perseroan.

Strategi tersebut menunjukkan perusahaan masih menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada investor dan mempertahankan ruang pertumbuhan di masa depan.

Kenapa Saham Justru Turun?

Menariknya, pasar tidak langsung merayakan keputusan tersebut. Pada perdagangan Senin, saham ELSA justru ditutup di level Rp555, turun 20 poin atau 3,48 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp575.

Harga sempat bergerak di rentang Rp535 hingga Rp580, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp14,9 miliar.

Dari struktur orderbook, tekanan jual masih terlihat cukup dominan. Total antrean jual mencapai sekitar 59.717 lot, lebih besar dibandingkan antrean beli yang berada di kisaran 44.356 lot. Antrean jual terbesar berada pada area Rp595 hingga Rp600, sementara sisi pembeli mulai menguat pada kisaran Rp540 hingga Rp545.

Pola tersebut menunjukkan sebagian pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah kepastian dividen diumumkan.

Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing di pasar modal. Sering kali investor membeli saham menjelang RUPS dengan harapan mendapatkan dividen, kemudian mulai melakukan aksi ambil untung setelah keputusan resmi diumumkan.

Dividen ELSA Masih Menarik?

Jawabannya cukup menarik. Dengan dividen Rp44,29 dan harga penutupan Rp555, dividend yield ELSA berada di kisaran 7,9 hingga 8 persen, jauh di atas rata-rata deposito maupun banyak emiten lain di Bursa Efek Indonesia.

Yield yang tinggi tersebut membuat ELSA masih memiliki daya tarik bagi investor yang mengincar pendapatan dividen sekaligus eksposur terhadap sektor jasa energi.

Apalagi tren kenaikan dividen selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan laba perusahaan berhasil diterjemahkan menjadi peningkatan nilai bagi pemegang saham.

Karena itu, pelemahan harga pada hari pengumuman RUPS belum tentu menjadi sinyal memburuknya fundamental.

Sebaliknya, pasar saat ini lebih terlihat sedang melakukan penyesuaian posisi setelah kepastian dividen keluar. Bagi investor jangka panjang yang mengutamakan kombinasi pertumbuhan bisnis dan dividen yang konsisten, ELSA masih menyimpan cerita yang menarik untuk terus diperhatikan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79