Logo
>

Brent Anjlok 4,34 Persen, Barclays dan UBS Pangkas Target Harga

Harga minyak Brent turun lebih dari 4 persen setelah arus kapal tanker di Selat Hormuz kembali normal. Barclays dan UBS kompak memangkas proyeksi harga minyak akibat membaiknya pasokan global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Brent Anjlok 4,34 Persen, Barclays dan UBS Pangkas Target Harga
Minyak mentah Brent ditutup turun 4,34 persen ke level USD72 per barel. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, waktu setempat. Setelah sempat menjadi perhatian utama pasar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kini fokus investor beralih ke lancarnya pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Minyak mentah Brent ditutup turun 4,34 persen ke level USD72 per barel. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren penurunan harga dalam sepekan terakhir.

Beberapa pekan lalu, pasar sempat dihantui kemungkinan terganggunya salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut. Selat Hormuz menjadi pintu keluar bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global, sehingga setiap ancaman terhadap jalur ini hampir selalu memicu lonjakan harga minyak.

Namun situasi perlahan berubah. Data pelayaran menunjukkan semakin banyak kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz tanpa hambatan berarti. Arus pengiriman minyak bahkan meningkat ke level tertinggi sejak konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mulai memanas pada akhir Februari 2026.

Perkembangan itu langsung mengurangi premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak. Investor yang sebelumnya bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan mulai melepas sebagian posisi beli karena melihat distribusi minyak kembali berjalan lebih normal.

Meski demikian, pasar belum sepenuhnya bebas dari risiko. Pada Kamis lalu sebuah kapal kargo dilaporkan terkena serangan di dekat perairan Oman. Insiden tersebut sempat mengingatkan pelaku pasar bahwa kawasan Timur Tengah masih menyimpan potensi eskalasi keamanan. 

Namun kali ini pasar memilih lebih fokus pada fakta bahwa arus pengiriman minyak secara keseluruhan tetap berjalan lancar.

Aktivitas Ekspor Minyak Saudi

Sentimen positif terhadap sisi pasokan juga diperkuat oleh kembalinya aktivitas ekspor minyak Arab Saudi. Data LSEG menunjukkan Saudi Aramco kembali melakukan pemuatan minyak di terminal Ras Tanura pada Jumat setelah hampir empat bulan menghentikan aktivitas di fasilitas tersebut.

Ras Tanura merupakan salah satu terminal ekspor minyak terbesar di dunia. Kembalinya aktivitas di terminal ini menjadi sinyal bahwa pasokan minyak dari produsen terbesar OPEC mulai kembali normal. 

Bagi pasar, kabar tersebut memperkuat keyakinan bahwa ancaman kekurangan pasokan dalam jangka pendek mulai berkurang.

Proyeksi Harga Minyak

Perubahan kondisi inilah yang mendorong sejumlah lembaga keuangan global merevisi proyeksi harga minyak mereka.

Barclays menjadi salah satu bank investasi terbaru yang memangkas perkiraan harga minyak Brent. Sebelumnya bank asal Inggris tersebut memperkirakan Brent akan berada di level rata-rata USD100 per barel pada 2026 dan USD88 per barel pada 2027. 

Kini proyeksi itu diturunkan menjadi masing-masing USD96 per barel untuk 2026 dan USD85 per barel pada 2027.

Menurut Barclays, keputusan tersebut diambil setelah melihat peningkatan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Selama jalur distribusi tetap terbuka, tekanan terhadap pasokan global dinilai tidak akan sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan.

Meski demikian, Barclays belum sepenuhnya optimistis terhadap kondisi pasar minyak. Bank tersebut memperkirakan stok minyak global masih akan terus mengalami penurunan setidaknya dalam beberapa pekan mendatang meskipun distribusi sudah mulai pulih.

Penyebabnya adalah proses pemulihan produksi yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan normalisasi distribusi. Dalam proyeksinya, Barclays masih melihat pasar minyak global mengalami defisit pasokan pada kuartal III 2026 akibat keterlambatan peningkatan produksi.

UBS Pagkas Target Harga Brent

Pandangan serupa juga datang dari UBS. Bank investasi asal Swiss itu turut memangkas target harga Brent pada akhir September menjadi USD85 per barel dari sebelumnya USD105 per barel. Sementara proyeksi akhir Desember juga direvisi turun menjadi USD85 per barel dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar USD95 per barel.

Langkah dua lembaga keuangan besar tersebut memperlihatkan perubahan pandangan pasar terhadap prospek minyak dalam beberapa bulan mendatang. Jika sebelumnya perhatian sepenuhnya tertuju pada risiko geopolitik, kini investor mulai kembali mempertimbangkan faktor fundamental berupa keseimbangan antara produksi dan permintaan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79