Logo
>

Wall Street Melemah, Tertekan Mundurnya IPO OpenAI

Wall Street ditutup bervariasi setelah saham chip AI anjlok tajam. Investor mulai mempertanyakan profitabilitas investasi AI di tengah inflasi AS yang kembali menguat dan peluang kenaikan suku bunga The Fed.

Ditulis oleh Yunila Wati
Wall Street Melemah, Tertekan Mundurnya IPO OpenAI
Nasdaq yang selama ini sangat bergantung pada saham teknologi juga ikut melemah 0,24 persen ke posisi 25.297,62. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan pergerakan yang bervariasi. Investor kembali mempertanyakan kapan investasi jumbo di sektor kecerdasan buatan (Ai) benar-benar menghasilkan keuntungan?

Setelah menjadi motor utama kenaikan bursa Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir, saham-saham semikonduktor menjadi sumber tekanan terbesar pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, waktu Amerika Serikat. 

Gelombang aksi jual di sektor chip membuat indeks semikonduktor PHLX (SOX) anjlok 5,3 persen dalam sehari dan mencatat pelemahan mingguan sebesar 7,9 persen. Ini menjadi penurunan terburuk sejak awal April.

Tekanan tersebut membuat pergerakan tiga indeks utama Wall Street berakhir berbeda arah. Indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,05 persen ke level 7.353,95, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,09 persen menjadi 51.876,11. 

Di sisi lain, Nasdaq yang selama ini sangat bergantung pada saham teknologi juga ikut melemah 0,24 persen ke posisi 25.297,62.

Investor tidak lagi hanya mengejar cerita besar mengenai AI, tetapi mulai menghitung apakah belanja modal bernilai ratusan miliar dolar mampu menghasilkan laba dalam waktu yang cukup cepat.

Chief Investment Strategist AlphaCore Wealth Advisory David Stubbs, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa sektor teknologi sedang memasuki fase koreksi besar. Meski demikian, menurutnya, pertanyaan mengenai profitabilitas investasi AI dan besarnya belanja modal tidak akan menghilang dalam waktu dekat.

Ia juga mengingatkan bahwa ekspektasi laba perusahaan Amerika Serikat saat ini sudah berada pada level yang sangat tinggi. Apabila kinerja emiten gagal memenuhi harapan investor, tekanan jual berpotensi semakin besar, terutama pada saham-saham yang selama ini diperdagangkan dengan valuasi premium.

Apple Melesat 3,1 Persen

Di tengah pelemahan sektor teknologi, terdapat sejumlah saham yang justru menjadi penopang pasar. Apple bangkit dari tekanan sehari sebelumnya dengan melonjak 3,1 persen. Kenaikan tersebut menjadi pemulihan setelah saham perusahaan itu sempat terkoreksi usai mengumumkan kenaikan harga iPad dan MacBook.

Apple menjelaskan bahwa kenaikan harga dilakukan akibat melonjaknya biaya komponen memori dan penyimpanan data. Langkah tersebut justru memunculkan kekhawatiran baru bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya berakhir meskipun harga minyak dunia telah turun cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Chief Market Strategist B. Riley Wealth Art Hogan melihat kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan situasi pada masa pandemi COVID-19. Ketika itu, gangguan rantai pasok menyebabkan harga semikonduktor melonjak karena pasokan terbatas. Kini, menurutnya, tekanan kembali muncul dari sisi memori sehingga berpotensi memicu inflasi baru pada sejumlah produk teknologi.

Sinyal tersebut datang hanya sehari setelah data ekonomi menunjukkan inflasi Amerika Serikat pada Mei kembali menembus level 4 persen. 

Sebelumnya, lonjakan harga energi akibat konflik Iran sempat menjadi faktor utama kenaikan inflasi. Meski ketegangan di Timur Tengah mulai mereda dan harga minyak terkoreksi, kenaikan harga produk elektronik memperlihatkan bahwa tekanan biaya produksi masih belum benar-benar hilang.

Kondisi itu membuat pelaku pasar semakin berhati-hati terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan masih ada peluang satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. 

Bahkan terdapat peluang sekitar 27 persen bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya apabila inflasi tetap bertahan tinggi.

Moderna Melesat 13 Persen

Di luar sektor teknologi, saham-saham kesehatan justru tampil sangat kuat. Moderna menjadi bintang perdagangan setelah melesat hampir 13 persen dan mencatat harga tertinggi sejak 2024. 

Lonjakan tersebut terjadi setelah perusahaan bioteknologi itu menggelar pertemuan dengan investor serta memaparkan perkembangan terbaru berbagai kandidat produknya yang dinilai memiliki prospek menjanjikan.

Pergerakan saham Moderna membantu menopang sektor kesehatan di tengah tekanan luas yang melanda sebagian besar sektor lain. 

Dari sebelas sektor utama dalam indeks S&P 500, sebanyak delapan sektor berakhir melemah. Sektor industri menjadi yang paling terpukul setelah turun 3,41 persen, disusul sektor material yang kehilangan 2,45 persen.

Sentimen negatif juga diperkuat oleh laporan bahwa OpenAI dikabarkan mempertimbangkan untuk menunda rencana penawaran saham perdana (IPO) hingga tahun depan. Kabar tersebut semakin mengurangi optimisme investor terhadap sektor AI yang sebelumnya menjadi magnet utama arus dana di Wall Street.

SpaceX Naik Tipis 0,15 Persen

Sementara itu, saham SpaceX bergerak relatif stabil dengan kenaikan tipis sekitar 0,15 perse. Investor masih menantikan masuknya saham perusahaan tersebut ke dalam indeks Russell yang diperkirakan akan mendorong pembelian dalam jumlah besar oleh berbagai reksa dana indeks pasif.

Di sisi lain, ON Semiconductor menjadi salah satu saham dengan pelemahan terdalam setelah anjlok hampir 24 persen. Penurunan tajam itu terjadi setelah perusahaan menyepakati akuisisi Synaptics melalui transaksi seluruhnya menggunakan saham dengan nilai sekitar USD7 miliar. 

Saham Synaptics sendiri ikut terkoreksi 3,7 persen menyusul pengumuman tersebut.

Meski indeks utama bergerak lesu, kondisi internal pasar sebenarnya masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Di dalam indeks S&P 500, jumlah saham yang naik masih lebih banyak dibandingkan saham yang turun dengan rasio sekitar 1,8 banding satu. 

Indeks S&P 500 juga mencatat 35 saham membukukan level tertinggi baru, sementara Nasdaq menghasilkan 263 saham yang menyentuh rekor baru meski disertai 169 saham yang mencetak level terendah baru.

Aktivitas perdagangan juga berlangsung jauh lebih ramai dibandingkan biasanya. Total volume transaksi di seluruh bursa Amerika Serikat mencapai sekitar 30,1 miliar saham, jauh di atas rata-rata harian 20 sesi terakhir yang berada di kisaran 23,1 miliar saham.

Secara keseluruhan, investor mulai memasuki fase yang lebih selektif. Kisah besar AI masih menjadi tema utama pasar, namun kini perhatian mulai bergeser dari sekadar potensi pertumbuhan menuju kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan nyata.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79