Logo
>

BRMS Lagi Naik Daun, tapi Pasar Mulai Overoptimistis

Reli harga emas dan proyek tambang bawah tanah mendorong optimisme terhadap BRMS, namun valuasi saham mulai dipandang terlalu premium.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
BRMS Lagi Naik Daun, tapi Pasar Mulai Overoptimistis
Saham BRMS melonjak didorong reli emas dan ekspansi tambang, namun valuasinya mulai dinilai terlalu mahal oleh pasar. Foto: Dok. BRMS.

KABARBURSA.COM – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mulai memasuki fase baru pertumbuhan bisnis emas di tengah reli harga logam mulia global. Namun di balik prospek yang semakin cerah, valuasi saham perusahaan tambang Grup Bakrie ini mulai memunculkan pertanyaan baru soal apakah kenaikan harga sahamnya sudah terlalu mahal dibanding realisasi kinerja saat ini?

Riset KB Valbury Sekuritas menunjukkan BRMS membukukan kinerja kuartal I 2026 yang relatif solid meski produksi dan volume penjualan emas mengalami tekanan akibat aktivitas pushback di tambang River Reef milik Citra Palu Mineral (CPM).  

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, volume penjualan emas BRMS turun menjadi sekitar 14,8 ribu ons, atau melemah 3,5 persen secara kuartalan dan anjlok 32,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun pelemahan volume tersebut berhasil ditutup oleh lonjakan harga emas global yang sedang berada di fase bullish.

Tim riset KB Valbury Sekuritas dalam laporannya menyebut kenaikan harga emas menjadi faktor utama yang menopang pendapatan dan laba perusahaan.

“BRMS melaporkan hasil kuartal I 2026 yang solid, dengan harga emas yang lebih tinggi mengimbangi dampak operasi pushback di tambang River Reef milik Citra Palu Mineral,” tulis analis KB Valbury Sekuritas Ashalia Fitri Yuliana dalam risetnya yang diterima KabarBursa.com, Kamis, 7 Mei 2026.  

Harga jual rata-rata emas atau average selling price (ASP) BRMS tercatat mencapai USD4.512 per ons atau setara sekitar Rp76,2 juta per ons dengan asumsi kurs Rp16.900. Angka ini melonjak 60,6 persen dibanding tahun sebelumnya.  

Lonjakan harga emas tersebut membuat pendapatan BRMS tetap tumbuh menjadi USD69 juta atau sekitar Rp1,16 triliun, naik 9,7 persen secara tahunan meski volume penjualan turun tajam. Di sisi laba bersih, perusahaan membukukan keuntungan USD18 juta atau sekitar Rp304,2 miliar, naik 21,6 persen dibanding tahun sebelumnya.  

Secara analitik, kondisi ini menunjukkan BRMS mulai memasuki fase bisnis yang sangat sensitif terhadap harga emas global. Artinya, reli harga emas kini menjadi mesin utama pertumbuhan laba perusahaan, bahkan ketika produksi belum benar-benar melonjak signifikan.

Tambang Bawah Tanah Jadi Katalis Besar

Di luar sentimen harga emas, pasar mulai menaruh perhatian besar terhadap proyek tambang bawah tanah (underground mining) BRMS yang diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

KB Valbury menilai proyek ini berpotensi mengubah profil produksi BRMS secara signifikan karena memiliki kadar emas yang jauh lebih tinggi dibanding operasi tambang terbuka saat ini.

“Proyek tambang bawah tanah yang ditargetkan selesai pada kuartal III 2027 diperkirakan menghasilkan kadar emas yang lebih tinggi sebesar 3,5 sampai 4,9 gram per ton,” tulis KB Valbury.  

Sebagai perbandingan, kadar bijih emas BRMS pada kuartal I 2026 masih berada di kisaran 1,4 gram per ton. Artinya, jika proyek bawah tanah berjalan sesuai target, margin perusahaan berpotensi meningkat tajam dalam beberapa tahun ke depan.

Selain proyek bawah tanah, BRMS juga sedang memperluas kapasitas pabrik carbon in leach (CIL) pertama milik CPM dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan selesai pada Oktober 2026.  

Ekspansi tersebut diperkirakan menjadi fondasi kenaikan produksi emas BRMS ke level 76 ribu ons pada 2026 atau tumbuh sekitar 6,1 persen secara tahunan.  

Tak hanya itu, perusahaan juga mempercepat eksplorasi di sejumlah aset lain seperti Gorontalo Minerals, Suma Heksa Sinergi, Linge Mineral Resources, hingga Dairi Prima Mineral untuk memperkuat portofolio multi-mineral perusahaan.  

Valuasi Mulai Dipertanyakan

Meski prospek bisnis terlihat semakin agresif, valuasi saham BRMS mulai menjadi perhatian investor. KB Valbury memang masih mempertahankan rekomendasi beli (buy) dengan target harga Rp1.060 per saham atau mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 35,9 persen dari posisi saat ini.  

Namun di sisi lain, saham BRMS kini diperdagangkan pada valuasi yang cukup premium dibanding sejumlah emiten tambang lain di Bursa Efek Indonesia.

Rasio price to earnings (PER) BRMS untuk 2026 diproyeksikan mencapai 70,9 kali, sementara EV/EBITDA berada di level 37,5 kali. Sebagai pembanding, PER emiten ANTM diperkirakan hanya sekitar 9,7 kali dan INCO sekitar 16,4 kali pada periode yang sama.  

Hal ini menunjukkan pasar mulai menghargai BRMS bukan berdasarkan kinerja saat ini, melainkan berdasarkan ekspektasi masa depan terhadap produksi emas dan proyek bawah tanah yang masih dalam tahap pengembangan.

KB Valbury sendiri mengakui valuasi tersebut memang terlihat mahal, namun dianggap masih layak karena pasar sedang menghitung potensi pertumbuhan produksi BRMS beberapa tahun ke depan.

“Kami mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.060 per saham yang didukung visibilitas pertumbuhan laba yang kuat dan potensi kenaikan lebih lanjut dari harga emas,” tulis KB Valbury.  

Meski begitu, risiko tetap membayangi. Ketergantungan besar terhadap reli harga emas global membuat BRMS rentan terhadap perubahan sentimen geopolitik dan arah suku bunga global. Selain itu, keterlambatan proyek tambang bawah tanah juga berpotensi mengubah ekspektasi pasar yang saat ini sudah telanjur tinggi terhadap BRMS.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).