Logo
>

AS-Iran Makin Dekat Damai, WTI Dibuka Rontok ke USD92

WTI jatuh ke area USD92 per barel setelah sinyal kesepakatan AS-Iran muncul, sementara USD/IDR bergerak ke Rp17.326 meski tren besar rupiah masih tertekan.

Ditulis oleh Yunila Wati
AS-Iran Makin Dekat Damai, WTI Dibuka Rontok ke USD92
Ilustrasi kesepakatan damai Amerika Serikat-Iran. (Foto: dok KabarBursa)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Sinyal meredanya tensi geopolitik Amerika Serikat dan Iran mulai mengubah arah pasar global dalam waktu cepat. Harga minyak WTI yang sebelumnya melonjak akibat risiko gangguan Selat Hormuz, kini jatuh ke area USD92,68 per barel. Rontoknya WTI seiring dengan munculnya laporan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kerangka kesepakatan awal.

Laporan Axios menyebut, Amerika Serikat dan Iran sedang membahas memorandum satu halaman yang berisi 14 poin. Isinya mencakup penghentian perang, pembukaan masa negosiasi 30 hari, pembatasan program nuklir Iran, pencabutan sanksi AS, pelepasan dana Iran yang dibekukan, serta pelonggaran bertahap atas pembatasan transit di Selat Hormuz.

Pasar langsung membaca kabar ini sebagai tanda risiko pasokan minyak mulai turun. WTI pada grafik 15 menit terlihat jatuh tajam dari area atas menuju USD92,40–USD92,68 per barel. Angka ini menembus kanal turun jangka pendek dan mendekati area support horizontal di sekitar USD92,40–USD92,68.

Tekanan teknikal minyak juga terlihat cukup dalam. RSI WTI berada di kisaran 16,46, memasuki area sangat jenuh jual. Harga juga bergerak jauh di bawah MA10, MA20, dan MA50 yang masing-masing berada di sekitar USD95,60, USD97,92, dan USD99,65. Artinya, tekanan jual minyak terjadi agresif, bukan sekadar koreksi tipis.

Peluang Penguatan Rupiah?

Bagi rupiah, turunnya minyak adalah kabar penting. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak sangat sensitif terhadap harga energi global. Ketika minyak turun, risiko inflasi impor dan tekanan kebutuhan dolar untuk impor energi ikut mereda.

Itulah sebabnya rupiah mulai “agak terselamatkan”. USD/IDR bergerak di sekitar Rp17.326 setelah sebelumnya sempat berada di area Rp17.400-an. Dorongan penguatan rupiah datang dari kombinasi minyak turun, dolar AS melemah, dan sentimen risiko global yang membaik.

Namun secara teknikal, posisi rupiah belum sepenuhnya aman. Pada grafik mingguan USD/IDR, tren besar masih naik karena pasangan ini masih bergerak di dalam kanal uptrend. Level saat ini juga masih berada di atas MA10 sekitar Rp17.088, MA20 sekitar Rp16.948, dan MA50 sekitar Rp16.658.

RSI USD/IDR berada di kisaran 76,27, menandakan posisi dolar terhadap rupiah masih berada di area overbought. Ini membuka ruang koreksi USD/IDR atau penguatan rupiah dalam jangka pendek, terutama jika kabar damai AS-Iran benar-benar berlanjut menjadi kesepakatan resmi.

Titik pentingnya kini berada di area Rp17.300–Rp17.326. Jika USD/IDR mampu turun lebih dalam dan bertahan di bawah area tersebut, tekanan terhadap rupiah bisa mereda sementara. Namun selama struktur mingguan masih berada dalam kanal naik, penguatan rupiah belum bisa dibaca sebagai pembalikan tren besar.

Dengan kata lain, pasar sedang memberi napas kepada rupiah, tetapi belum memberi jaminan penuh. Kabar damai menekan minyak, minyak yang turun menekan ekspektasi inflasi, lalu ekspektasi inflasi yang mereda ikut menurunkan daya tarik dolar AS. Rantai sentimen inilah yang membuat rupiah mendapat ruang penguatan.

Di sisi lain, risiko belum hilang. Axios menyebut belum ada kesepakatan final. Iran juga menyatakan hanya akan menerima perdamaian jika isi kesepakatan dianggap adil. Artinya, pasar masih bergerak di atas kabar yang rapuh, bukan kepastian diplomatik yang sudah selesai.

Jika negosiasi gagal, blokade laut dan aksi militer AS berpotensi kembali muncul. Dalam skenario itu, minyak bisa kembali memantul, dolar kembali diburu, dan rupiah kembali menghadapi tekanan.

Untuk sementara, arah pasar global hari ini cukup jelas, minyak jatuh, emas naik, dolar melemah, dan mata uang Asia memperoleh ruang penguatan. Rupiah ikut menikmati sentimen itu, meski secara teknikal masih harus keluar lebih dulu dari tekanan kanal naik USD/IDR.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79