KABARBURSA.COM - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara masih menanti kejelasan lanjutan dari proses lelang lahan untuk pengembangan proyek Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi. Prosesnya berjalan. Namun tidak secepat yang diharapkan.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa tahapan finalisasi tender mengalami perlambatan. Bukan karena kendala teknis semata, melainkan imbas dari turbulensi geopolitik yang tengah melanda kawasan Timur Tengah.
“Kami masih menunggu respons dari pemerintah Arab Saudi. Sebenarnya kami cukup agresif mengejar, karena untuk beberapa lot yang sudah kami ajukan penawaran, seharusnya sudah ada perkembangan. Tapi hingga kini, kami tetap dalam fase menanti sembari menjaga komunikasi intensif,” ujar Pandu kepada media di Jakarta, dikutip Jumat 24 April 2026.
Situasi regional menjadi faktor penentu. Ketidakstabilan yang terjadi membuat prioritas pemerintah Arab Saudi bergeser. Fokus utama kini tertuju pada aspek keamanan dan pertahanan nasional.
Menurut Pandu, kondisi tersebut dapat dipahami. Dalam lanskap yang sarat ketidakpastian, stabilitas domestik menjadi kepentingan yang tak bisa ditawar. “Mereka sedang menghadapi tekanan di dalam negeri. Jadi, wajar jika prioritas utama mereka adalah menjaga pertahanan negara,” katanya.
Meski demikian, Danantara tidak tinggal diam. Jalur komunikasi tetap dibuka. Intensitas koordinasi terus dijaga, meski proses berjalan lebih lambat dari ekspektasi awal.
“Kami tetap proaktif. Namun kami juga realistis bahwa kawasan Timur Tengah sedang dalam fase yang tidak stabil,” tambahnya.
Di tengah ketidakpastian itu, ada perkembangan positif. Aset yang telah diakuisisi, yakni hotel Novotel Thakher Makkah, dipastikan siap digunakan oleh jamaah haji Indonesia mulai tahun 2026. Kualitasnya pun mendapat apresiasi tinggi.
“Sudah bisa digunakan. Penilaian terhadap hotel tersebut sangat baik, bahkan banyak yang memberi rating bintang lima. Respons pengguna sejauh ini sangat positif,” ujar Pandu.
Sebelumnya, Danantara diketahui tengah mematangkan langkah lanjutan dalam skema lelang yang dikelola Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC). Fokusnya adalah membuka peluang pengembangan kawasan lain di sekitar Masjidil Haram.
Sebagai pijakan awal, kawasan Thakher telah memiliki fondasi yang solid. Di area ini berdiri hotel Novotel Thakher Makkah dengan kapasitas sekitar 1.461 kamar yang tersebar di tiga menara. Selain itu, tersedia lahan pengembangan seluas kurang lebih 4,4 hektare di koridor strategis yang berjarak sekitar 2–3 kilometer dari pusat ibadah umat Islam tersebut.
Pengembangan Kompleks Haji dirancang secara bertahap. Tidak instan. Kawasan Thakher menjadi titik awal karena kesiapan asetnya relatif matang dan siap untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Kami membangun secara gradual. Thakher adalah fondasi awal, sementara untuk kawasan lain yang lebih dekat dengan pusat aktivitas haji dan umrah, kami masih mengikuti proses lelang RCMC,” jelas Pandu.
Dalam jangka panjang, kawasan ini ditargetkan berkembang signifikan. Kapasitasnya dirancang mencapai sekitar 6.000 kamar, dengan daya tampung hingga 22.000 jamaah. Angka itu setara dengan sekitar 10 persen dari total jamaah haji Indonesia setiap tahun.
Namun proyek ini tidak hanya soal akomodasi. Pendekatannya lebih holistik. Danantara ingin membangun ekosistem layanan yang terintegrasi—mulai dari fasilitas ritel, dukungan logistik, hingga layanan pendukung lainnya yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan jamaah.
Pada fase berikutnya, Danantara juga terus mencermati dinamika lelang yang dikelola RCMC. Proses tersebut melibatkan tahapan kompleks—mulai dari penawaran, evaluasi teknis dan finansial, hingga seleksi investor yang selaras dengan master plan pengembangan Kota Makkah.
Pandu menegaskan bahwa proyek Kompleks Haji merupakan bagian dari strategi investasi jangka panjang yang dijalankan secara selektif dan berbasis kajian komprehensif.
Untuk kawasan Thakher, alokasi investasi dilakukan bertahap. Termasuk di dalamnya penguatan aset awal serta pengucuran belanja modal atau capital expenditure (capex) guna mendukung ekspansi lanjutan. Proyek ini ditargetkan memasuki fase peletakan batu pertama pada 2026, dengan operasional tambahan hotel direncanakan mulai berjalan pada 2029.
“Fokus kami adalah memastikan setiap langkah diambil secara hati-hati, terukur, dan memberikan nilai tambah dalam jangka panjang. Kompleks Haji ini bukan sekadar proyek, melainkan investasi strategis lintas generasi,” tutup Pandu.(*)