KABARBURSA.COM - Presiden Prabowo Subianto dikabarkan tengah mempertimbangkan perombakan atau reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Salah satu nama yang disebut masuk bursa calon Menteri Keuangan adalah Muhammad Chatib Basri.
Informasi tersebut disampaikan dua sumber internal yang mengetahui dinamika pembahasan di lingkungan pemerintahan. Menurut mereka, reshuffle kabinet berpotensi dilakukan pada Senin, 8 Juni 2026.
“Senin (hari ini) kemungkinan akan ada reshuffle kabinet. Presiden memang sedang menimbang sejumlah nama, salah satunya Pak Chatib Basri untuk posisi Menteri Keuangan," ujar sumber tersebut.
Sumber tersebut menyebutkan, pertimbangan itu muncul di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Spekulasi mengenai masuknya Chatib Basri ke kabinet semakin menguat setelah muncul kabar bahwa ekonom senior tersebut pulang lebih cepat dari Amerika Serikat (AS).
Diketahui, Chatib sedang menjalani program sebagai visiting fellow di Harvard Kennedy School, Amerika Serikat.
Menurut sumber yang sama, Chatib telah melakukan sejumlah pertemuan penting setibanya di Indonesia, termasuk bertemu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas.
Chatib Basri bukan sosok baru di bidang pengelolaan ekonomi negara. Ia pernah menjabat Menteri Keuangan pada pemerintahan Presiden SBY periode 2013-2014. Sebelumnya, ia memimpin Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2012-2013.
Sementara itu, Menteri Keuangan saat ini, Purbaya Yudhi Sadewa, disebut tidak akan keluar dari lingkaran pengambil kebijakan ekonomi apabila reshuffle benar-benar terjadi.
Berdasarkan informasi yang beredar, Purbaya berpeluang mendapatkan penugasan baru yang tetap memiliki peran strategis dalam pengelolaan ekonomi nasional.
Bahkan, beredar spekulasi bahwa Purbaya dapat menempati posisi penting di sektor moneter. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah terkait kabar tersebut.
Kalangan pengamat menilai, apabila skenario pergantian itu terealisasi, kombinasi Chatib Basri di sektor fiskal dan Purbaya pada sektor moneter berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan serta meningkatkan kepercayaan investor.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari Presiden Prabowo Subianto maupun pihak Istana terkait rencana reshuffle kabinet dan perubahan posisi di Kementerian Keuangan.
Purbaya Bantah Mengundurkan Diri
Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa membantah dirinya akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Keuangan di tengah situasi ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Ia menegaskan komitmen penuhnya untuk tetap mengawal perekonomian nasional dan berada di dalam jajaran kabinet sesuai mandat yang diberikan oleh kepala negara.
“Saya enggak tahu isu itu timbul dari mana. Saya orangnya enggak suka mundur. Isu mundur itu enggak ada, itu kurang beralasan,” tegas Purbaya menanggapi pertanyaan wartawan mengenai komitmennya di tengah tekanan ekonomi, Jumat, 5 Juni 2026.
Isu tersebut kencang berhembus, Kamis, 4 Juni 2026, bertepatan dengan pelemahan rupiah yang masih berlangsung di pasar keuangan.
Selain itu, isu tersebut juga mencuat setelah beredarnya sebuah dokumen atau 'selembaran putih' di kalangan pelaku pasar yang berspekulasi mengenai keretakan di internal tim ekonomi pemerintah.
Purbaya tidak menampik keberadaan dokumen tersebut, namun ia menggarisbawahi adanya distorsi informasi yang sengaja diembuskan oleh pihak tertentu.
Purbaya membeberkan bahwa dirinya telah membaca langsung isi selembaran putih yang viral tersebut.
Ia membenarkan ada beberapa poin logis di dalamnya karena merekam aktivitas rapat kedinasan, tetapi banyak pula bumbu informasi yang melenceng dari fakta sebenarnya.
“Saya juga sudah baca selembaran putih itu. Sebagian informasinya benar dan sebagian salah. Karena di setiap kertas yang di situ, saya ikut rapatnya dengan Bapak Presiden. Tapi sebagian ditulis barulah, itu mungkin buat gonjang-ganjing pasar kali,” cetus Purbaya.
Dia menilai spekulasi semacam ini sengaja digulirkan oleh oknum yang ingin memanfaatkan momentum kelumpuhan kurs untuk menciptakan volatilitas dan sentimen negatif di pasar keuangan domestik.
Purbaya menegaskan kepatuhan dan soliditasnya terhadap kepemimpinan nasional agar pasar kembali tenang. "Tapi kita tetap ikut perintah Bapak Presiden," pungkas Purbaya.(*)