KABARBURSA.COM — Ancaman El Nino kembali menghantui Asia. Kali ini bukan sekadar soal cuaca, tapi juga berkelindan dengan perang Iran yang bikin pupuk langka dan bahan bakar makin mahal. Badan meteorologi Jepang memperkirakan peluang kemunculan El Nino mencapai 70 persen pada musim panas 2026 di belahan bumi utara.
Sementara China mewanti-wanti fenomena ini bisa bertahan hingga akhir tahun, dan India mulai bersiap menghadapi musim hujan yang di bawah normal untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Sinyal awal dampaknya sudah mulai terasa. Beberapa wilayah di Australia dan India dilaporkan mengalami suhu panas dan kekeringan lebih awal dari biasanya.
“Kami sudah melihat panas dan kekeringan di beberapa wilayah Australia dan India,” kata Chris Hyde, meteorolog dari Meteomatics, dikutip dari Reuters, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia mengingatkan pola ini mirip dengan El Nino 2015–2016 yang memicu kekeringan luas di Asia dan menekan produksi pangan. Australia, India, dan Asia Tenggara disebut sebagai wilayah yang paling rentan dan berpotensi terdampak lebih cepat.
Fenomena El Nino sendiri merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya tidak main-main, mulai dari kekeringan di Asia hingga gangguan produksi gandum, minyak nabati, dan komoditas pangan lain.
Masalahnya, tekanan tahun ini datang berlapis. Perang Iran ikut mengganggu distribusi pupuk global, terutama urea, karena sekitar 30 persen perdagangan dunia melewati Selat Hormuz yang kini terganggu.
Akibatnya, petani bukan hanya menghadapi cuaca buruk, tapi juga kelangkaan pupuk dan mahalnya biaya produksi. Di Australia, petani di New South Wales dan Queensland bahkan sudah mulai mengurangi penanaman gandum dan kanola setelah berbulan-bulan kekurangan hujan.
“Musim kami benar-benar runtuh,” kata Pat Ryan, petani di New South Wales.
Ia mengaku wilayahnya hampir tidak mendapat hujan yang layak selama tiga hingga empat bulan terakhir. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut. Australia sebagai eksportir gandum terbesar keempat dunia dan pemasok utama kanola berpotensi mengalami tekanan produksi.
Di Asia Tenggara, cuaca kering juga mengancam produksi minyak sawit dan beras. Dampaknya bahkan bisa terasa beberapa bulan kemudian karena siklus tanaman. “Dampak utama pada minyak sawit biasanya terasa enam hingga 15 bulan kemudian, tergantung siklus tanaman,” kata M.R. Chandran, pelaku industri di Kuala Lumpur.
Ia memperkirakan, jika El Nino berlangsung kuat dan lama, produksi bisa turun antara 5 persen hingga 12 persen.
Di India, ancaman datang dari melemahnya musim hujan. Curah hujan diperkirakan hanya mencapai 70 persen hingga 90 persen dari rata-rata normal. Kondisi ini berisiko menekan produksi padi, kapas, dan kedelai, sekaligus mengurangi kelembapan tanah untuk musim tanam berikutnya.
“Seluruh musim kemungkinan akan berada di bawah normal,” kata Hyde.
Ia bahkan memperingatkan potensi kekeringan parah terutama pada Agustus hingga September. China juga tak sepenuhnya aman. Meski dampaknya cenderung lebih ringan, El Nino tetap meningkatkan risiko banjir di wilayah selatan yang bisa mengganggu produksi beras dan sayuran.
Sementara itu, di Eropa dan Amerika Serikat, El Nino justru bisa membawa hujan lebih banyak. Namun kondisi ini juga bukan tanpa risiko, karena curah hujan berlebih dapat merusak hasil panen dan menurunkan kualitas komoditas pertanian.
Tekanan lain datang dari sisi biaya produksi. Kelangkaan pupuk akibat gangguan pasokan energi membuat harga tetap tinggi, sehingga petani mulai menahan penggunaan. “Kalau biaya pupuk tetap mahal, curah hujan rendah akan membuat petani enggan menggunakannya,” kata Vitor Pistoia dari Rabobank.
Menurut dia, kondisi ini bisa menciptakan lingkaran masalah baru, karena hasil panen yang sudah berisiko rendah justru semakin tertekan akibat minimnya input produksi. Di tengah kombinasi cuaca ekstrem, gangguan rantai pasok, dan mahalnya biaya produksi, sektor pangan global kini menghadapi tekanan yang tidak sederhana. Bagi Asia, situasi ini bisa menjadi ujian serius terhadap ketahanan pangan dalam waktu dekat.
Stok Aman, Risiko Tetap Mengintai
Di tengah ancaman El Nino yang berpotensi menekan produksi pangan global, kondisi Indonesia saat ini relatif masih berada dalam posisi aman. Data produksi dan cadangan beras menunjukkan bantalan yang cukup kuat untuk meredam tekanan awal.
Produksi beras nasional sepanjang 2025 tercatat sekitar 34,69 juta ton, sementara estimasi lembaga internasional menempatkan angka tersebut di kisaran 35,6 juta ton. Tren positif juga berlanjut pada awal 2026, dengan produksi Januari hingga Maret mencapai 10,16 juta ton atau naik 15,79 persen secara tahunan.
Di sisi cadangan, stok beras pemerintah per Maret 2026 telah mencapai sekitar 4,3 juta ton, bahkan diproyeksikan bisa menembus 5 juta ton. Level ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan disebut sebagai penyangga utama menghadapi gejolak global, termasuk risiko cuaca ekstrem.
Stabilitas juga tercermin dari sisi harga. Inflasi beras pada Februari 2026 tercatat hanya 0,43 persen secara bulanan, melanjutkan tren terkendali sejak 2024 yang tidak menembus level 2 persen.
Namun, kondisi ini belum sepenuhnya bebas risiko. Ketergantungan terhadap impor masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Pada 2024, impor beras Indonesia tercatat lebih dari 3,7 juta ton, menunjukkan bahwa pasokan domestik belum sepenuhnya mandiri.
Dalam skenario El Nino yang lebih kuat, tekanan terhadap produksi berpotensi kembali muncul. Penurunan curah hujan dapat mengganggu musim tanam, mengurangi hasil panen, dan secara bertahap menggerus cadangan yang saat ini terlihat aman.
Jika situasi tersebut terjadi, kebutuhan impor berisiko meningkat kembali, sementara harga pangan domestik berpotensi terdorong naik. Dengan demikian, meski Indonesia saat ini memiliki bantalan produksi dan stok yang cukup kuat, ancaman El Nino tetap menjadi ujian nyata bagi ketahanan pangan dalam beberapa bulan ke depan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.